Pexels/Agung Pandit Wiguna
Lingkungan sekitar seringkali tanpa sadar mengajarkan hal yang salah, sehingga anak bisa beranggapan bahwa perilaku tidak menghormati itu "wajar" untuk anak laki-laki.
Jika kita tak bisa mengendalikan omongan orang lain di luar keluarga, maka kita bisa memulainya dari keluarga dengan menghentikan candaan seperti "Dasar cowok!" atau "Nanti kalau gede pasti jago ngegombal."
Tegaskan bahwa kekerasan itu selalu salah dan bukan kesalahan korban. Jangan biarkan kalimat "namanya juga cowok" menjadi pembenaran. Sebaliknya, tanamkan empati dengan bertanya, "Kalau kamu diperlakukan seperti itu juga, sedih nggak?"
Dengan stop menormalisasi perilaku seperti ini dan mulai konsisten menyuarakan nilai hormat-menghormati, anak laki-laki mama akan tumbuh menjadi pribadi yang aman bagi orang lain.
Ia belajar bahwa menjadi laki-laki sejati adalah tentang tanggung jawab dan empati, bukan dominasi. Dengan demikian, itulah mengapa alasan pentingnya mengajarkan consent pada anak laki-laki sejak dini.
Mengajarkan hal ini pada anak sangat berperan penting untuk tumbuh kembang masa depan dalam membentuknya menjadi laki-laki yang berempati dan menghormati batasan diri sendiri serta orang lain.