Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Cara Membantu Anak Menerima Kehadiran Adik yang Baru Lahir
Pexels/Gustavo Fring
  • Orangtua perlu mengajak anak membicarakan rasa senang, cemas, atau cemburu tentang adik baru tanpa menghakimi, agar anak merasa aman menyampaikan perasaannya.
  • Jelaskan perubahan yang realistis setelah bayi lahir, termasuk kebutuhan bayi dan kemungkinan anak menunggu, sambil menegaskan kasih sayang orangtua tidak berkurang.
  • Libatkan anak dalam persiapan sesuai pilihannya tanpa menjadikannya pengasuh, serta pertahankan waktu khusus dan rutinitas bersama agar ia tetap merasa diperhatikan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Mendengar kabar akan punya adik mungkin membuat anak merasa senang. Ia bisa membayangkan punya teman bermain di rumah, mengajak adik melakukan banyak hal, atau bahkan membayangkan dirinya menjadi kakak yang hebat.

Namun, ada perasaan lain yang mungkin muncul dan tidak selalu mudah diungkapkan. Apalagi jika selama ini anak sudah terbiasa menjadi satu-satunya pusat perhatian Mama dan Papa.

Tiba-tiba, akan ada bayi yang membutuhkan banyak waktu dan tenaga Mama dan Papa.

Anak mungkin belum memahami bahwa kasih sayang orangtua tidak akan berkurang. Yang ia lihat justru Mama mulai sering membicarakan bayi, menyiapkan perlengkapannya, hingga nantinya lebih banyak menggendong dan mengurus adik.

Lantas, bagaimana cara mempersiapkan anak agar ia tetap merasa aman dan tidak tersisih ketika adiknya lahir?

Berikut Popmama.com telah merangkum 5 hal yang bisa Mama dan Papa lakukan. Yuk, simak!

1. Ajak anak untuk membicarakan perasaannya

Pexels/cottonbro studio

Jangan hanya sibuk bercerita tentang betapa menyenangkannya punya adik. Mama dan Papa juga perlu memberi kesempatan kepada anak untuk mengatakan apa yang sebenarnya ia rasakan.

Mama bisa memulai obrolan sederhana saat sedang santai, misalnya ketika menemani anak bermain atau sebelum tidur. Tanyakan seperti ini:

“Gimana rasanya nanti punya adik?”

“Ada yang kamu khawatirkan tidak?”

Jawaban anak mungkin tidak selalu sesuai harapan.

Ia bisa saja mengatakan senang, tetapi di lain waktu mengaku tidak mau punya adik. Tidak perlu langsung mengatakan bahwa perasaan tersebut salah. Dengarkan saja terlebih dahulu.

Anak yang merasa aman untuk bercerita akan lebih mudah menyampaikan kecemburuan atau kekhawatirannya nanti. Mama dan Papa pun bisa mengetahui hal apa yang paling membuatnya takut kehilangan perhatian.

Jadi, tidak perlu buru-buru membuat anak untuk menyukai punya adik. Beri ia ruang untuk mengenal perubahan tersebut secara perlahan.

2. Ceritakan perubahan yang akan terjadi di rumah

Pexels/Vitaly Gariev

Kadang-kadang, anak hanya membayangkan bagian menyenangkan dari memiliki adik. Ia mungkin berpikir akan punya teman bermain baru, tanpa mengetahui bahwa bayi sebenarnya belum bisa diajak bermain.

Mama bisa mulai menceritakan kondisi yang lebih realistis. Misalnya, adik mungkin akan sering menangis, banyak tidur, perlu digendong, dan membutuhkan bantuan Mama atau Papa hampir sepanjang waktu.

Penjelasan seperti ini bukan untuk membuat anak takut, melainkan supaya ia tidak kaget ketika melihat orangtuanya lebih sibuk setelah bayi lahir.

Mama juga bisa menjelaskan bahwa suatu hari nanti mungkin ada momen ketika ia harus menunggu karena Mama sedang menyusui atau mengganti popok adik.

Namun, pastikan anak tahu bahwa menunggu bukan berarti dirinya tidak penting.

Kalimat sederhana seperti:

“Nanti Mama mungkin sedang mengurus adik, tapi setelah selesai Mama tetap akan dengarkan cerita kamu,” bisa membantu anak memahami situasinya.

Dengan begitu, perubahan perhatian tidak datang sebagai kejutan besar bagi anak.

3. Tegaskan bahwa rasa sayang Mama dan Papa tidak berubah

Pexels/Soulkid Photography

Bagi anak yang selama ini menjadi satu-satunya buah hati, kehadiran adik bisa menimbulkan pertanyaan besar, apakah Mama dan Papa masih akan menyayanginya seperti dulu?

Pertanyaan itu mungkin tidak pernah keluar dari mulutnya. Namun, bukan berarti ia tidak memikirkannya. Karena itu, Mama dan Papa bisa mulai memberikan kepastian sejak sebelum bayi lahir.

Tidak perlu dengan penjelasan panjang. Sering kali, kalimat sederhana justru lebih mudah dipahami anak. Mama bisa mengatakan:

“Nanti kalau kamu punya adik, Mama tetap sayang kamu.”

“Punya adik tidak membuat rasa sayang Mama dan Papa ke kamu berbeda.”

Selain mengatakannya, tunjukkan lewat kebiasaan sehari-hari. Tetap peluk anak, dengarkan ceritanya, tanyakan bagaimana harinya, dan luangkan waktu melakukan hal yang ia sukai.

Anak tidak membutuhkan janji bahwa semuanya akan tetap sama. Ia justru perlu tahu bahwa meskipun banyak hal berubah, satu hal tidak akan berubah: dirinya tetap memiliki tempat yang aman di keluarga.

4. Libatkan anak, tetapi jangan jadikan ia pengasuh

Pexels/RDNE Stock project

Mengajak anak ikut mempersiapkan kedatangan adik bisa membuatnya merasa menjadi bagian dari perubahan besar dalam keluarga.

Mama dapat mengajaknya memilih baju bayi, menata perlengkapan adik, atau menentukan buku cerita yang ingin dibacakan nanti.

Namun, jangan sampai keterlibatan ini membuat anak merasa harus selalu membantu.

Terlebih jika usianya masih sekolah dasar, ia tetap perlu menikmati waktunya bermain dan melakukan aktivitas sendiri.

Hindari pula kalimat seperti:

“Kamu kan sudah besar, jadi harus mengerti Mama.”

Kalimat tersebut mungkin terdengar sederhana, tetapi bisa membuat anak merasa harus menekan kebutuhannya sendiri demi adik.

Lebih baik berikan pilihan. Misalnya:

“Kamu mau bantu pilih baju adik atau mau temani Mama menyiapkan perlengkapan adik?”

Jika ia tidak ingin membantu, tidak masalah.

Tujuan melibatkan anak bukan agar pekerjaan Mama menjadi lebih ringan. Yang terpenting, anak merasa dirinya tetap memiliki peran dalam keluarga dan tidak tiba-tiba tersisih hanya karena ada anggota keluarga baru.

5. Jangan lupakan waktu berdua dengan anak

Pexels/Arina Krasnikova

Setelah adik lahir, hampir semua perhatian di rumah memang akan tertuju kepada bayi.

Karena itu, Mama dan Papa perlu sengaja membuat waktu yang hanya diperuntukkan bagi anak.

Tidak harus pergi jalan-jalan atau membuat kegiatan khusus. Menemani anak membaca buku sebelum tidur, makan berdua, mengobrol di perjalanan, atau sekadar duduk bersama sambil mendengarkan ceritanya pun sudah berarti.

Hal kecil seperti ini bisa menjadi pengingat bagi anak bahwa hubungan dengan Mama dan Papa tetap memiliki ruang khusus.

Mama juga bisa membuat rutinitas yang sebisa mungkin tidak berubah setelah adik lahir, misalnya tetap membacakan cerita sebelum tidur atau menemani anak melakukan hobinya.

Jika suatu hari anak terlihat cemburu, jangan langsung melabelinya sebagai kakak yang tidak sayang adik. Bisa jadi, ia sebenarnya sedang meminta kepastian bahwa dirinya masih diperhatikan.

Menjadi kakak memang pengalaman baru bagi anak. Namun, ia tidak harus langsung pandai menjalaninya. Beri waktu, dengarkan perasaannya, dan pastikan ia tetap merasa dicintai.

Jadi, tidak apa-apa jika sesekali ia merasa cemburu, kesal, atau ingin kembali menjadi satu-satunya anak. Perasaan tersebut bukan berarti ia tidak menyayangi adiknya.

Itulah 5 cara yang bisa Mama lakukan untuk membantu anak mempersiapkan diri menjadi kakak.

Semoga membantu ya, Ma!

Curated For You

Editorial Team

Related Article