Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Cara Mengajari Anak tentang Inklusi, Menghargai Perbedaan!
Pexels/Nasirun Khan
  • Orangtua dianjurkan mengenalkan inklusi sejak dini dengan menjelaskan bahwa perbedaan kemampuan, cara bergerak, bermain, dan berkomunikasi adalah wajar, bukan sesuatu yang buruk atau menakutkan.

  • Rasa penasaran anak sebaiknya dijadikan momen belajar empati. Anak dapat berinteraksi seperti biasa, mengajak bermain, serta bertanya dahulu sebelum menawarkan bantuan tanpa berasumsi.

  • Anak perlu dibiasakan bersikap ramah, sabar, dan memberi kesempatan kepada orang lain untuk berkomunikasi atau bermain dengan caranya sendiri, sambil menghormati kemandirian dan kebutuhan mereka.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Mengajarkan anak tentang inklusi penting dilakukan sejak dini agar mereka terbiasa melihat perbedaan sebagai sesuatu yang wajar. Anak mungkin merasa penasaran ketika melihat seseorang yang memiliki cara berkomunikasi, bergerak, atau bermain yang berbeda.

Melalui akun Instagram @motherhood.and.montessori, Lauren Mejia membagikan panduan tentang cara orangtua mengajarkan anak untuk memahami dan menghargai perbedaan, termasuk ketika berinteraksi dengan anak dengan disabilitas. Lauren Mejia sendiri dikenal sebagai mantan Montessori guide yang kini membagikan berbagai konten seputar parenting dan Montessori di media sosialnya itu.

Dalam panduan tersebut, orangtua tidak disarankan untuk langsung menyuruh anak diam atau mengabaikan rasa penasarannya. Sebaliknya, orangtua dapat menggunakan momen tersebut untuk mengajarkan anak tentang empati, rasa hormat, dan cara berinteraksi yang tepat.

Berikut Popmama.com rangkum cara yang bisa diterapkan orangtua untuk mengenalkan konsep inklusi kepada anak.

1. Ajarkan anak bahwa setiap orang bisa berbeda

Pexels/Monstera Production

Ketika anak melihat seseorang yang memiliki kondisi atau kemampuan berbeda, wajar jika mereka merasa penasaran. Orangtua dapat membantu menjelaskan bahwa setiap orang memang memiliki perbedaan.

Misalnya, ketika anak berkata, "kenapa mereka berbeda dengan aku?" orangtua bisa menjawab, "kamu benar, kita semua berbeda dengan cara masing-masing tapi berbeda bukan berarti buruk atau menakutkan".

Penjelasan sederhana tersebut dapat membantu anak memahami bahwa perbedaan bukan sesuatu yang perlu ditakuti atau dijauhi.

Orangtua juga bisa menjelaskan bahwa setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam berkomunikasi. Ada orang yang berbicara menggunakan kata-kata, bahasa isyarat, maupun alat bantu komunikasi.

Dengan begitu, anak dapat belajar bahwa cara seseorang berkomunikasi tidak selalu sama seperti dirinya, tetapi tetap memiliki tujuan yang sama, yaitu menyampaikan sesuatu kepada orang lain.

2. Ajarkan cara berinteraksi tanpa berasumsi

Pexels/Mikhail Nilov

Anak juga perlu mengetahui bahwa teman dengan disabilitas tetap bisa diajak bermain dan berinteraksi seperti teman lainnya. Jika anak melihat teman yang menggunakan kursi roda, misalnya, orangtua dapat mengajarkan bahwa mereka bisa memperkenalkan diri dan mengajak bermain seperti biasa.

"Mau main bareng?" bisa menjadi pertanyaan sederhana untuk memulai interaksi.

Begitu pula ketika anak melihat seseorang yang membutuhkan alat bantu komunikasi atau memiliki cara bermain yang berbeda. Ajarkan anak untuk memberikan kesempatan dan tidak langsung menganggap mereka tidak bisa ikut bermain.

Jika anak ingin membantu, orangtua juga sebaiknya mengajarkan agar mereka bertanya terlebih dahulu, seperti, "apakah kamu butuh bantuan?".

Hal ini penting karena niat membantu tidak berarti seseorang selalu membutuhkan bantuan. Dengan bertanya terlebih dahulu dan menghargai jawabannya, anak belajar menghormati kemandirian orang lain.

3. Biasakan anak bersikap ramah dan memberi kesempatan

Pexels/MART PRODUCTION

Anak mungkin merasa bingung ketika tidak tahu harus mengatakan atau melakukan apa saat bertemu seseorang yang berbeda dari dirinya. Dalam situasi tersebut, orangtua dapat mengajarkan langkah sederhana.

Anak bisa memulai dengan tersenyum dan mengucapkan salam. Mereka tidak perlu mengetahui dengan tepat apa yang harus dilakukan untuk bisa bersikap ramah.

Jika anak melihat seseorang menggunakan alat bantu komunikasi, ajarkan mereka untuk bersabar dan memberikan waktu sampai orang tersebut selesai menyampaikan sesuatu.

Begitu pula saat bermain. Jika seorang anak memiliki cara bermain yang berbeda, anak dapat bertanya, "boleh aku main bareng kamu?".

Melalui kebiasaan-kebiasaan sederhana tersebut, anak belajar bahwa inklusi bukan hanya tentang menerima perbedaan, tetapi juga memberikan kesempatan kepada setiap orang untuk berinteraksi, bermain, dan menjadi bagian dari lingkungan tanpa perlakuan yang merendahkan.

Pada akhirnya, orangtua dapat menunjukkan bahwa perbedaan merupakan bagian dari kehidupan. Setiap orang memiliki kemampuan, kebutuhan, dan cara berkomunikasi yang berbeda, tetapi semuanya tetap layak dihargai dan diperlakukan dengan baik.

Curated For You

Editorial Team

Related Article