Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
7 Cara Mengajarkan Anak Berpikir sebelum Membeli Sesuatu
Pexels/Gustavo Fring
  • Orangtua perlu mengajarkan anak berpikir sebelum membeli barang. Ajarkan perbedaan kebutuhan dan keinginan supaya anak tidak menganggap barang viral, mainan, atau tren sebagai kebutuhan mendesak.

  • Libatkan anak menyusun daftar belanja, mencari informasi produk, serta membandingkan harga dan nilai guna agar keputusan belanja lebih terencana.

  • Ajarkan anak menolak promo yang tidak relevan, beri ruang mengambil keputusan sesuai anggaran, dan tunjukkan teladan belanja bijak dalam keseharian.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Anak-anak bisa belajar berpikir dulu sebelum membeli. Mama dan Papa dapat mengajari mana yang benar-benar perlu dan mana yang cuma ingin. Anak bisa membantu membuat daftar belanja, melihat harga, dan tidak mudah ikut diskon. Anak juga boleh memilih barang kecil. Mama dan Papa harus memberi contoh belanja dengan hemat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Melihat anak mama merengek meminta mainan terbaru tiap kali ke mal pasti menjadi tantangan tersendiri,ya.

Belum lagi, di era gempuran tren media sosial dan iklan yang menarik. Anak-anak jadi mudah tergiur dan menganggap semua hal yang diinginkan sebagai sebuah "kebutuhan" mendesak.

Jika dibiarkan, kebiasaan ini bisa terbawa hingga ia dewasa dan memicu perilaku konsumtif, lho, Ma!

​Oleh karenanya, mengajarkan anak untuk berpikir sebelum membeli merupakan ketrampilan hidup dan pengelolaan keuangan yang sangat krusial untuknya.

Lantas, bagaimana cara melatih anak agar lebih bijak saat berbelanja? Yuk, simak cara mengajarkan anak berpikir sebelum membeli yang sudah Popmama.com rangkum untuk Mama.

1. Ajarkan perbedaan antara kebutuhan dan keinginan

Pexels/Gustavo Fring

Tren mengenai barang viral di sosial media, acapkali buat anak merengek minta dibelikan, apakah pernah mengalaminya Ma?

Langkah paling mendasar dalam membekali anak mama kecerdasan finansial adalah membantunya membedakan mana barang yang ia butuhkan dan mana yang sekadar keinginan.

Beberapa ditemui anak sering kali merasa "harus memiliki" sesuatu hanya karena melihatnya di media sosial atau melihat teman sebayanya.

Hal ini bisa menimbulkan bahaya lho, Ma. Karena tanpa pemahaman yang jelas, anak bisa dengan mudah berprinsip "aku ingin, maka aku butuh".

Mama bisa mengajarkan anak mama untuk mengenali perbedaannya melalui contoh sehari-hari. Misalnya, membeli sepatu sekolah baru karena yang lama sudah rusak adalah sebuah kebutuhan nyata.

Sementara itu, membeli mainan terbaru atau baju bertema populer agar terlihat keren di depan temannya masuk ke dalam kategori keinginan.

Ajarkan anak untuk memiliki kesadaran mendahulukan kebutuhan baru kemudian memenuhi keinginannya. Pada prinsipnya, kebutuhan lebih penting untuk didapatkan dan masuk dalam daftar prioritas.

Ketika anak paham bedanya kebutuhan dan keinginan, ia belajar membuat keputusan yang bijak secara mandiri. Dengan mengajarkan perbedaan ini anak akan lebih dahulu berpikir sebelum membeli barang baru, Ma.

2. Libatkan anak dalam membuat catatan belanja

Pexels/Gustavo Fring

Sebelum pergi berbelanja ke pasar, ajak anak mama duduk bersama untuk menyusun daftar barang yang perlu dibeli.

Mama bisa meminta bantuan anak untuk mengecek terlebih dahulu stok di dapur serta mengingatkan bahan makanan apa saja yang sudah habis.

Aktivitas sederhana ini memberikan gambaran pada anak bahwa belanja memerlukan perencanaan yang matang, bukan sekadar datang dan mengambil barang sesuka hati.

Saat berada di pasar, serahkan catatan tersebut kepada anak agar ia bertugas membantu mencari barang sesuai daftar.

Langkah ini efektif karena ketika melibatkan anak memegang catatan belanja melatih fokus serta kedisiplinannya.

Ia akan belajar untuk tetap berpegang pada rencana dan memahami bahwa barang di luar daftar tidak akan dibeli. Cara ampuh mencegah perilaku impulsif anak saat melihat mainan yang menarik perhatiannya di rak toko.

3. Ajak anak melakukan riset mengenai barang

Pexels/Ivan S

Sebelum memutuskan untuk membeli suatu barang. Ajak ia untuk melakukan riset terlebih dahulu.

Mama bisa ajak ia melihat katalog produk, mengecek ulasan secara online, hingga membaca informasi yang tertera pada kemasan.

Diskusi ini melatih anak untuk memahami bahwa dalam membeli sesuatu, dibutuhkan informasi yang cukup dan tidak bisa hanya mengandalkan rasa penasaran atau penampilan luar barang yang menarik.

Riset ini bermanfaat mengajarkan anak bahwa setiap barang memiliki spesifikasi, kelebihan, dan kekurangannya masing-masing. Ketika terbiasa mencari tahu informasi produk terlebih dahulu, ia akan tumbuh menjadi konsumen yang cerdas dan tahu barang yang dibeli apakah sesuai dengan kebutuhan.

4. Membandingkan harga barang

Pexels/BI ravencrow

Ajarkan anak untuk memperhatikan label harga dan membandingkan dua produk sejenis sebelum membeli.

Mama bisa memberi contoh sederhana, misalnya membandingkan dua merek makanan ringan, seperti:

"Lihat deh, produk A harganya sama dengan produk B, tapi isinya lebih banyak"

Latihan ini secara tidak langsung mengenalkan konsep nilai guna barang pada anak.

Anak mama akan belajar bahwa harga mahal tidak selalu berarti memiliki kualitas bagus, dan harga murah tidak selalu menjadi pilihan utama jika kualitasnya berbeda.

Dengan mengajarkan anak membandingkan harga, sama dengan melatihnya untuk cermat melihat peluang hemat, memahami konsep rasionalitas dalam berbelanja, dan sadar bahwa ada pertimbangan finansial di balik setiap pilihan barang yang dibeli.

5. Ajarkan menolak dorongan promosi

Pexels/Max Fischer

Di pasar anak akan melihat marketing dari suatu produk. Mulai dari tawaran diskon besar-besaran hingga iming-iming hadiah gratis.

Mama bisa memanfaatkan momen berbelanja untuk mengedukasi anak supaya tidak mudah terpengaruh oleh taktik-taktik ini.

Beri pemahaman pada anak bahwa barang diskon yang tidak dibutuhkan sebenarnya pemborosan.

Tunjukkan juga sikap tegas untuk berkata "tidak" pada penawaran promo jika barang tersebut memang tidak ada di dalam catatan belanjaan.

Hal ini penting supaya anak tidak mudah goyah oleh tekanan iklan maupun bujuk rayu pemasaran yang dirancang secara psikologis.

Dengan begitu, anak akan terbiasa mengambil keputusan belanja berdasarkan kebutuhan nyata, bukan karena promosi.

6. Berikan kesempatan pada anak untuk mengambil keputusan belanja

Pexels/Gustavo Fring

Setelah membekali dengan pemahaman, berikan anak kesempatan untuk mempraktikkannya secara langsung.

Mulai melibatkan anak dalam keputusan-keputusan kecil saat berbelanja, seperti memilih merek susu yang akan dibeli, memilih buah yang segar, atau menentukan camilan mana yang sesuai dengan batas anggaran yang telah disepakati.

Kemudian mengevaluasi keputusan belanjanya sendiri. Ajak berdiskusi apakah barang yang ia beli benar-benar bermanfaat dan memberikan nilai yang sepadan dengan harganya.

Memberikan tanggung jawab kecil membuat anak merasa dihargai dan dilatih untuk mandiri. Anak tidak hanya menjadi penonton, tetapi belajar merasakan konsekuensi dari pilihan belanjanya sendiri.

7. Jadi teladan anak dalam bijak berbelanja

Pexels/Gustavo Fring

Karena anak adalah peniru ulung. Berapa banyak pun nasihat yang Mama berikan, anak akan langsung belajar dari melihat perilaku dan kebiasaan berbelanja orangtuanya sehari-hari.

Tunjukkan sikap bijak secara langsung saat Mama sedang berbelanja, baik di toko fisik maupun secara online.

Perlihatkan bagaimana Mama secara konsisten berpegang pada catatan belanja, membandingkan harga dengan cermat, serta mampu menahan diri dari godaan barang yang tidak dibutuhkan.

Mama juga bisa menyuarakan proses berpikir tersebut, misalnya dengan berkata, "Mama suka tas ini, tapi tas Mama yang lama masih bagus dan kita harus hemat untuk liburan nanti."

Hal ini penting sebab contoh nyata dari orangtua jauh lebih melekat di memori anak dibandingkan sekadar teori.

Ketika anak melihat Mama dan Papa terbiasa mempraktikkan gaya hidup finansial yang sehat, secara alami akan membentuk kebiasaan bijak berbelanja hingga dewasa kelak.

Itulah cara mengajarkan anak berpikir sebelum membeli. Dengan memberikan pengajaran yang tepat dan keterlibatan langsung, Mama sedang membentuk karakter anak yang mandiri, hemat, dan bertanggung jawab. Yuk, mulai libatkan anak dalam aktivitas belanja keluarga mulai hari ini, Ma!

Curated For You

Editorial Team

Related Article