Lantas, apa sih yang bisa memicu sikap membeda-bedakan orangtua pada anak? Berikut penjelasan selengkapnya:
1. Kepribadian Setiap Anak
Kepribadian masing-masing anak tentu berbeda. Bahkan, sepasang kembar identik saja menujukkan ketidaksamaan walaupun sangat kecil.
Dalam mengurus anak, Mama pasti akan menemukan perbedaan sifat dan perilaku dari si Adik dan si Kakak. Dalam hal itu juga, Mama mau tidak mau akan berjumpa dengan anak yang kebetulan klop dengan kepribadian yang Mama miliki.
Misalnya, Mama orangnya paling suka berdiam di rumah dan nonton TV. Kebetulan, si Adik termasuk anak yang introvert dan lebih senang dalam ruangan. Di sisi lain, si Kakak sangat outgoing dan senang beraktivitas di luar rumah.
Mama yang mageran mungkin akan sedikit malas apabila harus diajak si Kakak pergi keluar. Alhasil, lebih memilih beraktivitas dengan si Adik.
2. Umur si Anak
Selain kecocokan kepribadian, umur juga bisa menjadi pemicu sikap pilih kasih orangtua. Nah, lantaran si Adik masih kecil, tentu Mama ingin memberikan perhatian lebih kepadanya.
Kepada si Kakak sendiri, karena sudah beranjak besar, Mama sudah mengharapkan agar dirinya lebih mandiri dan mampu melakukan aktivitas sendiri.
Tidak ada yang salah sebenarnya, kan? Lagipula, ketika si Kakak masih kecil, Mama pastinya sudah 'memanjakannya' dengan sepenuh hati, dan sekaranglah waktu untuk si Adik untuk menerima perlakuan serupa.
Hanya saja, jika Mama gagal dalam menjelaskan perbedaan treatment (perlakuan) ini, si Kakak bisa salah paham. Ia mengira kalau Mama sudah tidak sayang lagi kepadanya.
Oleh sebab itu, nggak perlu marah-marah jika si Kakak mengadu kenapa Mama lebih sayang kepada si Adik. Jelaskan dalam intonasi yang lembut supaya ia lebih mengerti.
3. Gender si Anak
Tak bisa dipungkiri, gender atau jenis kelamin anak juga berpengaruh lho, Ma. Apalagi ketika Mama sangat ingin memiliki anak laki-laki, namun yang dianugerhi Tuhan adalah perempuan.
Nantinya, jika sudah memiliki anak laki-laki, Mama seolah akan 'mendewakannya'. Mama akan berusaha untuk selalu melindungi dan memenuhi permintaannya sebab keinginan Mama akhirnya telah terkabul. Akibatnya, putri mama bisa merasa diasingkan.
4. Karena Merupakan Anak Tiri
Dikarenakan tidak adanya hubungan darah bisa membuat Mama dan si Anak Tiri terasa jauh. Mama mungkin akan lebih mengutamakan anak kandung karena Mama sendirilah yang melahirkan mereka.
Itu sebabnya, ada istilah 'dianaktirikan' serta stigma di masyarakat bahwa semua orangtua tiri bersikap jahat.
5. Masalah Lain yang Dialami Orangtua
Masalah yang dihadapi orangtua sangat beragam ya, Ma? Mulai dari masalah keuangan, rebut dengan si Papa, atau sedang mengalami stres.
Sebagai contoh, di pandemi seperti sekarang, dompet sedang di masa kritis-kritisnya. Mama harus sanggup membagi uang yang ada untuk keperluan rumah tangga, untuk susu si Adik, uang sekolah si Kakak, dan lainnya.
Karena si Adik sedang masa pertumbuhan, Mama ingin lebih memprioritaskannya supaya ia mendapatkan asupan gizi yang cukup. Nah, kondisi ini bisa berimbas kepada si Kakak. Ia yang ingin punya mainan baru tidak Mama izinkan karena uang yang ada harus dipergunakan untuk hal yang diutamakan.
Maka dari itu, Mama tetap harus memberitahu anak tentang kondisi yang sedang dialami supaya tidak terjadi miskomunikasi.