Guru Potong Rambut Anak Tanpa Izin, Sang Papa Tuntut RP14,2 M

Kejadian tersebut diduga karena ada bias rasial

24 September 2021

Guru Potong Rambut Anak Tanpa Izin, Sang Papa Tuntut RP14,2 M
Pixabay/mm91

Seorang Papa bernama Jimmy Hoffmeyer di Michigan, Amerika Serikat, mengajukan gugatan kepada sekolah Mount Pleasant sebesar satu juta dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp 14,2 miliar. Gugatan tersebut diajukan karena salah satu staf di sekolah memotong rambut anak putrinya, Jurnee Hoffmeyer, tanpa izin. 

Gugatan tersebut pertama kali diajukan pada 14 September 2021. Kemudian, pada 22 September 2021 diketahui gugatan tersebut ditujukan untuk seorang pustakawan dan asisten guru dari sekolah negeri Mount Pleasant. 

Dari 8 gugatan yang diajukan, salah satunya menuduh sekolah telah melanggar hal sipil serta melakukan diskriminasi ras dan etnis dari Jurnee Hoffmeyer. 

Untuk penjabaran peristiwa lebih lanjut, berikut ini Popmama.com telah merangkumkan informasinya untuk Mama. Simak yuk! 

1. Rambut Jurnee mulanya dipotong oleh teman sekolahnya, kemudian disusul oleh pihak sekolah 

1. Rambut Jurnee mula dipotong oleh teman sekolahnya, kemudian disusul oleh pihak sekolah 
indonesian.alibaba.com

Jurnee Hoffmeyer merupakan anak perempuan yang berumur 7 tahun. Ia tergolong biracial, seseorang yang berasal dari dua ras yang berbeda. Ia memiliki kulit berwarna hitam. 

Sang Papa, Hoffmeyer mengatakan, putrinya bercerita bahwa seorang siswa memotong rambutnya di bus sekolah. 

Selang beberapa hari berikutnya, hampir semua rambut Jurnee dipotong oleh staf sekolah yang berkulit putih.

"Saya bertanya apa yang terjadi dan berkata, ‘Saya pikir saya sudah mengatakan kepada kamu bahwa tidak ada anak yang boleh memotong rambutmu’," ujar Hoffmeyer saat menceritakan peristiwa yang menimpa putrinya itu. 

"Dia (anaknya) berkata, 'tapi ayah, itu (yang memotong rambut) adalah guruku’. Gurunya memotong rambut untuk meratakannya," lanjut Hoffmeyer. 

Editors' Picks

2. Melayangkan gugatan untuk sekolah 

2. Melayangkan gugatan sekolah 
Pixabay/qimono
Ilustrasi

Hoffmeyer menduga pustakawan yang memotong rambut putrinya itu dibantu oleh asisten pengajar hingga menyisakan beberapa inci saja. 

Kejadian tersebut membuat Hoffmeyer melayangkan gugatan untuk pihak sekolah. 

Dalam gugatannya, Hoffmeyer menuduh sekolah gagal melatih, memantau, mengarahkan, mendisiplinkan, dan mengawasi karyawan mereka dengan benar. 

Pada Juli 2021, dewan pendidikan di Sekolah Negeri Mount Pleasant sudah menegur pelaku. Ia pun mengatakan bahwa guru yang memotong rambut Jurnee masih menjadi karyawan. 

3. Hasil investigasi 

3. Hasil investigasi 
Pexels/Clement Nivesse

Dalam hasil investigasi internal, dalam kejadian tersebut tidak dipicu oleh isu bias rasial. 

Dewan pendidikan sekolah mengatakan, sang guru berniat baik memotong rambut Jurnee. Namun, mereka telah mengakui bahwa memotong rambut siswa tanpa seizin orangtua siswa atau pihak sekolah termasuk pelanggaran peraturan.

Hal itu membuat pelaku yang memotong rambut Jurnee mendapat peringatan dari sekolah 

"Sang guru diberikan sebuah perjanjian dan akan diberhentikan jika mengulangi pelanggaran kebijakan sekolah," ujar pejabat sekolah.

4. Pengacara Hoffmeyer tetap ingin masalah tersebut ditindaklanjuti 

4. Pengacara Hoffmeyer tetap ingin masalah tersebut ditindaklanjuti 
Pixabay/Succo
Ilustrasi

Pengacara Hoffmeyer Shawndrica N Simmons menyebutkan, insiden memotong rambut siswa serta tanggapan dari sekolah tidak dapat diterima.

"Kejadian ini merupakan masalah yang serius dan seharusnya ditanggapi dengan serius oleh pihak sekolah," ujar Shawndrica N Simmons.

"Mereka dibayar untuk mengajar, bukan menjadi tukang cukur yang pada hari itu membentuk rambut anak dengan cara yang menurut mereka dapat diterima," tambah Simmons.

Selain itu, Hoffmeyer pun mengatakan, "Saya masih ingin tahu apa yang membenarkan tindakan seorang guru untuk memotong rambut seorang murid tanpa izin ke orangtua mereka? Semua ini bisa diselesaikan hanya dengan panggilan telepon," ujar Hoffmeyer, dilansir dari USA Today.

5. Keadaan terkini Jurnee

5. Keadaan terkini Jurnee
Freepik/Master1305

Kejadian tersebut membuat Hoffmeyer akhirnya memutuskan untuk memindahkan Jurnee ke sekolah lamanya di Sekolah Dasar Vowles. 

Kondisi Jurnee saat ini pun baik-baik saja. Namun, Sang Papa bercerita bahwa kejadian tersebut membuat Jurnee masih tidak mau berangkat sekolah dan membuatnya membuat jadwal konseling untuk putrinya teresebut. 

Dari kejadian ini, kita harus terus menittipkan menitipkan pesan pada anak agar tidak mengizinkan seseorang menyentuh dirinya untuk hal-hal yang tidak pantas, seperti tiba-tiba memotong rambut anak padahal tidak ada yang salah dengannya. 

Selain itu, penting juga untuk selalu berkoordinasi dan berkomunikasi antara orangtua siswa dan guru agar tidak ada kejadian yang tidak mengenakan terjadi pada siswa dan membuatnya anak tidak ingin berangkat sekolah. 

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.