Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Garuda di Dadaku Hadir Versi Animasi, Tidak Semudah Live Action!
Popmama.com/Keisha Felita Aryamaulana
  • Film animasi Garuda di Dadaku akan tayang 11 Juni 2026 dengan pengisi suara Keanu Azka, Quinn Salman, dan Ibnu Jamil yang membawa pesan moral tentang kerja keras dan dukungan keluarga.

  • Para pengisi suara menggali inspirasi dari film orisinal, anggota keluarga, serta karakter lain untuk memperdalam peran mereka, sambil menghadapi tantangan teknis dalam proses voice over yang menuntut imajinasi tinggi.

  • Film ini menjadi kebanggaan karya anak bangsa dengan kualitas animasi yang kuat dan nilai nasionalisme, sekaligus menawarkan tontonan positif serta sesuai usia bagi anak-anak Indonesia.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Film legendaris Garuda di Dadaku hadir kembali, tapi kali ini dalam bentuk animasi yang pastinya seru untuk ditonton bersama keluarga. 

Rasanya relate banget ya, Ma, melihat semangat anak-anak yang punya mimpi besar di dunia sepak bola, sama seperti Mama yang selalu ingin memberikan dukungan terbaik untuk hobi dan cita-cita anak di rumah.

Dalam wawancara eksklusif di IDN HQ pada Selasa (28/4/2026), tiga pengisi suara utamanya yaitu Keanu Azka (Putra), Quinn Salman (Naya), dan Ibnu Jamil (Papa Putra) berbagi cerita seru di balik layar film yang akan tayang 11 Juni 2026 ini.

Berikut Popmama.com rangkum fakta menarik dan inspirasi dari balik layar film animasi Garuda di Dadaku!

1. Sifat karakter yang patut dicontoh anak zaman sekarang

Popmama.com/Keisha Felita Aryamaulana

Setiap karakter dalam film ini membawa pesan moral yang kuat. Keanu menyebutkan bahwa karakter Putra mengajarkan untuk harus kerja keras dan kerja cerdas. 

Meskipun karakter Putra dikisahkan memiliki asma, mimpinya tidak pernah padam. Keanu bercerita ia pernah merasa kurang percaya diri saat aktingnya terasa kurang maksimal. 

“Aduh, apa yang harus gue perbaikin ya aktingnya? Nah itu tuh jadi buat ngatasinnya aku terus mencoba terus cari kesalahan aku tuh gimana biar aktingnya maksimal” ungkapnya.

Ibnu pun menimpali dengan tawa bahwa itu adalah fase "demot" atau demotivation.

Sementara Quinn melihat Naya sebagai sosok yang percaya diri dan ambisius. Dari sisi orangtua, Ibnu menekankan pentingnya memberi kesempatan kepada anak.

“Itu juga merupakan sesuatu yang harus ada sebagai orangtua dan percaya sama apa yang dilakukan sama anak,” tuturnya.

2. Karakter animasi yang ingin dimainkan di dunia nyata

Popmama.com/Keisha Felita Aryamaulana

Ternyata, para pengisi suara ini juga punya karakter animasi favorit lho, Ma! 

Quinn mengaku pernah sangat ingin menjadi Bubbles dari Powerpuff Girls.

Sedangkan Keanu dengan malu-malu bercerita bahwa animasi pertama yang ia tonton di TV adalah Upin-Ipin. Namun, untuk film layar lebar, ia mengaku sangat ingin menjadi karakter di Garuda di Dadaku saat sedang bermain bola.

Ibnu sendiri pernah terobsesi menirukan suara berat Optimus Prime dari Transformers.

3. Mencari inspirasi dari film orisinal dan anggota keluarga

Popmama.com/Keisha Felita Aryamaulana

Untuk mendalami peran, Quinn menonton film Garuda di Dadaku versi live action berulang kali. 

“Itu aku nonton berkali kali, ngeliat pelatihnya itu gimana, cara dia ngomong ke timnya itu gimana.” 

Ia juga terinspirasi dari adiknya yang paham bola, serta karakter Princess Raya yang tomboy dan Jessy dari Toy Story.

Keanu mengambil inspirasi dari karakter "Bayu" di film terdahulu dan kakaknya sendiri yang juga pemain bola serta memiliki asma. 

“Jadi aku ngeliat kalo dia main bola gimana, kalo dia lagi asma gimana, kalo dia lagi latihan gimana, kaya, dia tuh kerja kerasnya gimana jadi pemain bola gitu.” 

Sementara itu, Ibnu mengaku sangat terbantu oleh arahan sutradara untuk membentuk sosok ayah yang sabar menghadapi anak lincah namun memiliki kekurangan. 

“Jadi dibantu dibentuk sama directornya, saya juga tangkep, dan ketangkep jadi gol nih.” ujarnya sambil bercanda.

4. Tantangan terbesar saat proses voice over (VO)

Popmama.com/Keisha Felita Aryamaulana

Ternyata mengisi suara itu tidak mudah. Quinn mengaku sering mengulang jika dialognya mulai membuat lidah terbelit (belibet). 

Keanu paling sering mengulang pada adegan marah dengan dialog panjang karena emosinya harus terjaga dari level bawah ke puncak. 

Ibnu menjelaskan bahwa sutradara adalah kunci utama yang memiliki imajinasi penuh saat proses ini. Meskipun saat take pengisi suara lain tidak ada, sutradara membantu menempatkan suara mereka dalam satu adegan yang utuh.

Mengisi suara animasi berbeda dengan dubbing film yang sudah jadi. Di sini, suara diambil lebih dulu baru gambarnya disesuaikan. 

Keanu merasa ini lebih susah karena harus berimajinasi luas, bahkan gerakan napas saat lari pun harus terasa nyata tanpa boleh terlalu banyak bergerak di depan mik.

“Apalagi kalo misalnya proyeksinya jarak jauh, misalnya lagi di lapangan terus aku harus ngomong ke putra yang ada di sana jadi tuh suaranya harus jauh kan. Beda kalo semisalnya kita lagi di live action. Kita kan bisa tau semana, jaraknya, udah tau kita harus ngomongnya kaya gimana, larinya kaya gimana dan kaya gitu sih” tambah Quinn.

5. Membangun chemistry lewat permainan seru

Popmama.com/Keisha Felita Aryamaulana

Walaupun proses take suara dilakukan sendiri-sendiri, mereka tetap memiliki chemistry yang kuat. Keanu bercerita mereka bertemu saat sesi reading

“Kalo aku sama Om Ibnu ketemunya itu pas take VO (voice over). Jadi aku abis take suara, aku selesai, Om Ibnu dateng. Terus kita reading bentar nah abis itu Om Ibnu take suaranya.”

Untuk mempererat hubungan, mereka bermain games saat break. Quinn menceritakan mereka menulis karakter dan kegiatan di kertas, lalu memperagakannya, seperti "Sopo lagi makan Indomie sambil main basket". 

Ibnu yang sudah lama terjun di dunia film merasa proses bonding zaman sekarang lebih cepat berkat media sosial, berbeda dengan dulu. 

“Kalo dulu iya, dulu ada proses kenalan, ngobrol dulu, terus sama acting coachnya suka dikasih waktu ‘kalian jalan deh berdua biar dapet chemistrynya’. Banyak macem macemnya untuk membuat satu grup atau sekelompok orang lebih dekat,” kenangnya.

6. Kebanggaan terhadap kualitas animasi karya anak bangsa

Popmama.com/Keisha Felita Aryamaulana

Ibnu berharap film ini bisa menjadi sarana nasionalisme. 

“Film itu bisa jadi campaign atau propaganda untuk menaikkan jiwa nasionalisme anak anak. Dan juga buat bapak-bapak atau siapapun. Kaya misalnya filmnya bagus, kita punya loh film animasi bagus. Kita kan ikutan bangga,” tuturnya.

Bagi anak-anak, film ini menjadi alternatif tontonan yang sesuai usia. 

“Animasi ini bisa juga menjadi pilihan buat anak anak indonesia. Karena kan sekarang tontonan itu ada batas, ada aturan usianya. Kalo filmnya dewasa, emang anak anak ga boleh nonton. Film horror pun, anak anak juga ada batasannya. Nah ini memang khusus film anak anak. Jadi anak anak ke bioskop ya jelas tontonannya apa.” jelas Ibnu. 

Quinn dan Keanu pun sangat bangga melihat visual lapangan bola yang terasa sangat "Indonesia banget".

Wah, makin tidak sabar ya, Ma mengajak anak untuk menonton aksi Putra dan teman-temannya di bioskop nanti!

Kira-kira anak mama di rumah sudah hobi main bola juga belum nih, Ma?

Editorial Team