10 Alasan Mengapa Anak Berperilaku Buruk dan Cara Mengatasinya

Tahu setiap kemungkinan penyebab perilaku buruk anak, membantu Mama untuk cari solusi yang tepat

30 September 2021

10 Alasan Mengapa Anak Berperilaku Buruk Cara Mengatasinya
Freepik/master1305

Setiap orangtua tentu ingin memiliki anak dengan perilaku yang positif. Namun sayangnya tak sedikit anak yang berjuang untuk menunjukkan perilaku baik. Anak-anak seringkali membantah, berteriak, melempar, menjadi agresif, atau terlibat dalam perilaku lain yang tidak terkendali.

Walau ini bisa membuat orangtua kewalahan, seorang anak menggunakan perilaku untuk menunjukkan bagaimana perasaannya dan apa yang ia pikirkan. Dan seringkali, ia mengomunikasikan sesuatu melalui perilakunya karena tidak dapat diungkapkan secara verbal.

Saat menentukan strategi disiplin apa yang akan digunakan, pertimbangkan kemungkinan penyebab yang menyebabkan perilaku buruk pada anak.

Berikut Popmama.com akan membahas 10 alasan mengapa anak suka berperilaku buruk dan melanggar aturan yang dibuat. Yuk simak!

1. Ingin mendapatkan perhatian

1. Ingin mendapatkan perhatian
Freepik

Ketika orangtua berbicara di telepon, mengunjungi teman atau keluarga, atau sibuk, anak-anak merasa ditinggalkan.

Mengamuk, merengek, atau memukul saudara kandung adalah cara yang bagus bagi mereka untuk menarik perhatian. Bahkan jika itu perhatian negatif, anak-anak tetap menginginkannya.

Mengabaikan perilaku negatif dan memuji perilaku positif adalah salah satu cara terbaik untuk mengatasi perilaku anak yang suka mencari perhatian.

2. Memerhatikan dan meniru perilaku orang lain

2. Memerhatikan meniru perilaku orang lain
Freepik

Bukan rahasia umum lagi jika anak-anak belajar bagaimana berperilaku dengan memerhatikan orang lain, apakah ia melihat teman sebaya di sekolah berperilaku buruk atau ia mengikuti sesuatu yang dilihatnya di televisi. Anak-anak akan mengulangi apa yang mereka lihat.

Untuk mencegah hal tersebut, pentingnya membatasi paparan anak terhadap perilaku agresif di televisi, di video game, dan di kehidupan nyata. Serta, memberikan teladan perilaku yang positif dapat mengajari anak cara berperilaku yang tepat dalam berbagai situasi.

3. Untuk menguji batas

3. menguji batas
Pexels/Monstera

Ketika Mama telah menetapkan aturan dan memberi tahu anak apa yang tidak boleh dilakukan, anak terkadang sering ingin melihat apakah Mama serius dengan peraturan yang diberikan.

Sehingga anak menguji batas hanya untuk mengetahui apa konsekuensinya ketika melanggar aturan. Maka dari itu, penting bagi Mama untuk menetapkan batasan yang jelas dan tawarkan konsekuensi secara konsisten.

Jika anak beranggapan ada kemungkinan kecil ia bisa lolos konsekuensi, maka anak akan sering tergoda untuk mencobanya. Namun jika Mama menunjukkan kepada anak bahwa ia akan menerima konsekuensi negatif setiap kali mereka melanggar aturan, anak akan menjadi lebih patuh.

4. Kurangnya keterampilan

4. Kurang keterampilan
Freepik/Bearfotos

Terkadang masalah perilaku berasal dari kurangnya keterampilan. Seorang anak yang kurang memiliki keterampilan sosial dapat memukul anak lain karena mungkin sebenarnya ia ingin bermain dengan mainan.

Sama seperti seorang anak yang tidak memiliki keterampilan memecahkan masalah, mungkin tidak mengerti bagaimana membersihkan kamarnya, karena ia tidak yakin apa yang harus dilakukan jika mainannya tidak muat di dalam kotak mainan.

Ketika anak berperilaku tidak baik, alih-alih hanya memberikan konsekuensi, ajari ia apa yang harus dilakukan. Tunjukkan cara selain dengan perilaku buruk, sehingga anak dapat belajar dari kesalahannya.

Editors' Picks

5. Mulai menunjukkan kemandiriannya

5. Mulai menunjukkan kemandiriannya
Freepik/Tirachardz

Ketika anak-anak prasekolah belajar melakukan lebih banyak hal sendiri, ia sering ingin memamerkan keterampilan barunya. Inilah yang mungkin membuat anak menjadi lebih argumentatif dan terkadang berperilaku tidak sopan.

Jika anak mama berperilaku buruk untuk menunjukkan kemandiriannya, beri ia pilihan yang tepat. Tanyakan kepada anak, "Apakah kamu ingin minum air atau susu?". Memberi pilihan dan kebebasan sesuai usia anak, akan memenuhi kebutuhan anak untuk mandiri tanpa harus berperilaku buruk.

6. Memiliki perasaan atau emosi besar

6. Memiliki perasaan atau emosi besar
Pexels/keira burton

Terkadang anak-anak yang usianya lebih muda, tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk menghadapi perasaannya. Ia mungkin menjadi mudah kewalahan ketika merasa marah, dan akibatnya, menjadi agresif.

Mereka bahkan mungkin bertingkah ketika merasa bersemangat, stres, atau bosan. Anak-anak perlu belajar cara yang sehat untuk menghadapi perasaan seperti kesedihan, kekecewaan, frustrasi, dan kecemasan.

Sehingga untuk mencegah berperilaku buruk anak, penting bagi orangtua untuk mengajarkan anak tentang mengenali perasaan dan menunjukkan cara yang sehat untuk mengelola emosinya.

Ketika anak-anak memiliki kontrol yang lebih baik atas emosinya, ia akan dapat menggunakan keterampilan koping yang sehat untuk mengatasi perasaan besarnya. Misalnya anak belajar untuk mengambil waktu istirahat agar menenangkan diri.

7. Memiliki kebutuhan yang tidak terpenuhi

7. Memiliki kebutuhan tidak terpenuhi
Freepik

Ketika seorang anak merasa lapar, lelah, atau sakit, perilaku buruk sering terjadi. Sebagian besar balita dan anak-anak prasekolah tidak pandai mengomunikasikan apa yang mereka butuhkan.

Akibatnya, anak sering menggunakan perilaku untuk menunjukkan bahwa ia memiliki kebutuhan yang belum terpenuhi.

Orangtua dapat membantu mencegah masalah perilaku dengan mencari kebutuhan yang tidak terpenuhi. Misalnya, ajak balita pergi ke luar rumah setelah ia tidur siang, dan bawalah beberapa makanan ringan.

Tanyakan kepada anak bagaimana perasaannya, dan lihatlah beberapa isyarat yang mungkin anak tunjukkan ketika beberapa kebutuhannya belum terpenuhi

8. Untuk mengerahkan Kekuatan dan Kontrol

8. mengerahkan Kekuatan Kontrol
Freepik/Drobotdean

Kebutuhan akan kekuasaan dan kontrol seringkali berkontribusi pada perilaku buruk. Terkadang perilaku menantang dan argumentatif terjadi ketika seorang anak mencoba untuk menegaskan kontrol.

Ketika masalah perilaku diakibatkan dari upaya anak untuk memiliki kendali atas suatu situasi, perebutan kekuasaan mungkin terjadi. Salah satu cara untuk menghindarinya adalah dengan menawarkan dua pilihan kepada anak.

Misalnya, tanyakan "Apakah kamu lebih suka membersihkan kamarmu sekarang atau setelah acara TV ini selesai?" Pertanyaan ini dapat mengurangi banyak argumen, serta meningkatkan kemungkinan anak akan mematuhi instruksi.

9. Telah mempelajari bahwa perilaku buruk efektif dilakukan

9. Telah mempelajari bahwa perilaku buruk efektif dilakukan
Freepik/chevanon

Salah satu alasan paling sederhana mengapa anak-anak berperilaku buruk adalah karena itu efektif. Jika melanggar aturan membuat anak mendapatkan apa yang ia inginkan, ia akan segera mengetahui bahwa perilaku buruk itu berhasil.

Misalnya, seorang anak yang merengek sampai orangtuanya mengabulkan permintaannya, ia akan belajar bahwa merengek adalah cara yang bagus untuk mendapatkan apa pun yang diinginkan.

Atau ketika seorang anak mengamuk di toko, dan Mama membelikan mainan untuk membuatnya berhenti berteriak, maka anak akan belajar bahwa amarah itu efektif.

Pastikan bahwa perilaku buruk anak tidak membantunya dengan baik. Meskipun menyerah atau mundur dapat membuat hidup Mama lebih mudah pada saat itu, pada akhirnya itu akan melatih anak untuk melanggar aturan.

10. Memiliki masalah kesehatan mental

10. Memiliki masalah kesehatan mental
freepik/asierromero

Terkadang anak-anak memiliki masalah kesehatan mental yang berkontribusi pada masalah perilaku. Dilansir dari Very Well Family, misalnya anak dengan ADHD, berjuang untuk mengikuti arahan dan berperilaku impulsif.

Kecemasan atau depresi juga dapat berkontribusi pada masalah perilaku. Seorang anak yang cemas mungkin menghindari pergi ke sekolah karena membuatnya merasa gugup. Sedangkan, anak yang depresi mungkin mudah tersinggung dan kurang motivasi untuk menyelesaikan tugas sekolah.

Jika Mama mencurigai anak mungkin memiliki masalah kesehatan mental atau gangguan perkembangan yang mendasarinya, bicarakan dengan dokter anak.

Evaluasi oleh profesional kesehatan mental yang terlatih mungkin diperlukan untuk menentukan apakah ada masalah emosional, yang mendasari masalah perilaku anak.

Nah itulah beberapa alasan mengapa anak melanggar peraturan dan mengembangkan perilaku buruk. Penting bagi orangtua untuk melihat setiap kemungkinan yang terjadi tanpa mengabaikannya sebagai hal yang tidak mungkin pada anak.

Mama mungkin terkejut mengetahui penyebab mendasar dari perilaku buruk atau amukan anak. Sehingga dengan memahami apa saja kemungkinan yang terjadi, dan menyesuaikannya dengan perilaku buruk anak, ini membantu Mama untuk mencapai akar masalahnya dan mengatasinya.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.