5 Alasan Mengapa Orangtua Tak Boleh Terlalu Keras pada Anak

Berharap yang terbaik untuk anak adalah wajar, namun jangan abaikan kesejahteraan anak ya!

27 November 2021

5 Alasan Mengapa Orangtua Tak Boleh Terlalu Keras Anak
Freepik/Master1305

Setiap orangtua tentu berharap yang terbaik pada anak-anaknya, sehingga menetapkan beberapa ekspektasi pada pencapaian anak, baik itu secara akademik atau non-akademik.

Meskipun menetapkan harapan pada anak bisa membuatnya termotivasi, terkadang hal ini membuat orangtua mengabaikan kesejahteraan anak. 

Tak jarang, orangtua terlampau fokus pada hasil, sehingga tidak menyadari bahwa anak sudah berusaha terlalu keras untuk mencapainya.

Walaupun berharap yang terbaik adalah hal yang wajar, terlalu keras pada anak juga tak boleh orangtua lakukan lho, karena bisa menyebabkan dampak buruk bagi kehidupan anak.

Kira-kira apa sajakah dampak buruk dari terlalu keras pada anak? Yuk simak informasinya yang telah Popmama.com rangkum di bawah ini!

1. Berisiko menyebabkan anak menjadi stres

1. Berisiko menyebabkan anak menjadi stres
Freepik

Terlalu keras pada anak akan membuatnya lebih mudah stres. Sebab, orangtua lebih fokus pada hasil yang dikerjakan anak dengan susah payah, sehingga mengabaikan bahwa anak-anak memiliki kemampuannya masing-masing. 

Tidak ada salahnya memang untuk memberikan semangat atau motivasi pada anak agar ia mencapai impiannya. Namun, di balik ekspektasi tersebut, orangtua juga harus ingat kebahagiaan anak.

Jangan biarkan anak menjadi stres, sebab orangtua yang terlalu keras menuntut keberhasilan. Ingatlah bahwa anak juga rentan mengalami stres akibat tekanan sekolah dan tekanan sebaya.

Editors' Picks

2. Merasa terbebani jika gagal mencapai harapan orangtuanya

2. Merasa terbebani jika gagal mencapai harapan orangtuanya
Freepik/wayhomestudio

Ketika anak tidak bisa mencapai harapan orangtuanya, tak menutup kemungkinan jika anak menjadikan hal ini sebagai beban dalam dirimu yang belum tuntas. Misalnya, orangtua menuntut anak untuk menjadi juara kelas, dan ketika anak tidak berhasil mendapatkannya, ia akan merasa terbebani.

Bahkan anak mungkin menganggap bahwa dirinya gagal menjadi anak yang membanggakan, karena tidak mampu mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Padahal seperti yang orang dewasa ketahui, dalam setiap proses tentu tidak selamanya akan berjalan mulus. Bahkan seseorang mungkin harus banyak belajar dari kesalahan, sebelum mencapai tujuannya.

Hindari menjadikan hal yang belum bisa anak raih menjadi beban hidupnya yang harus segera ia dapatkan. Biarkan anak belajar mengikuti prosesnya agar ia bisa memperoleh hasil yang maksimal.

3. Mengembangkan rasa iri dengki ketika dibandingkan dengan anak lain yang berprestasi

3. Mengembangkan rasa iri dengki ketika dibandingkan anak lain berprestasi
Freepik/gpointstudio

Membandingkan diri dengan teman kelas anak yang juara satu dengan upaya untuk memotivasi anak, seringkali menjadi bumerang yang membahayakan kepercayaan diri anak.

Selain mengurangi kepercayaan diri, membandingkan anak dengan anak lainnya secara terus menerus bisa membuatnya selalu membandingkan dirinya dengan orang lain diluar sana,  yang pada akhirnya mengembangkan rasa iri dengki dengan pencapaian orang lain.

Sebagai akibatnya, mungkin anak akan melakukan segala cara, termasuk cara negatif untuk 'mengalahkan' temannya tersebut. 

Untuk mencegah hal tersebut, lebih baik beri semangat pada anak untuk menikmati setiap proses yang ia lalui. Ketika anak mampu menikmati setiap prosesnya, maka ia akan menikmati apa pun yang sudah dilewati dan bersikap sportif pada teman-temannya.

4. Membuat anak jadi kurang menghargai kerja keras dan pencapaiannya

4. Membuat anak jadi kurang menghargai kerja keras pencapaiannya
Freepik/Mdjaff

Terlalu keras pada anak, juga berisiko menyebabkannya kurang menghargai setiap apa pun yang sudah ia berhasil  capai dalam hidupnya. Terlalu keras pada anak, menyebabkannya menjadi keras pada diri sendiri dan terlalu fokus pada satu pencapaian yang belum berhasil diraih.

Bahkan ketika anak mengalami kegagalan, ia mungkin akan terus menyalahi diri sendiri dan mengembangkan pikiran negatif. Ketika anak mengalami kegagalan, cobalah bantu anak untuk mengingat pencapaian apa yang sudah ia dapatkan.

Saat orangtua dan anak mampu menghargai hal itu, anak akan menyadari bahwa dunia tak harus selalu berpihak kepadanya. Anak juga bisa menyadari bahwa kegagalan adalah bagian dari proses yang juga harus bisa ia terima.

5. Tumbuh menjadi anak yang angkuh dan keras kepala

5. Tumbuh menjadi anak angkuh keras kepala
Freepik

Ketika anak berhasil mencapai ekspektasi orangtuanya, ini berisiko menyebabkan anak menjadi angkuh pada anak-anak lain di sekolahnya. Bahkan anak mungkin bersikeras bahwa ia adalah anak yang terpintar.

Daripada menuntut anak terlalu keras, penting bagi orangtua untuk mengajarkan pada anak bahwa tak semua dalam hidup harus sesuai dengan rencana yang diinginkan.

Mama perlu menyadarkan anak bahwa setiap manusia memiliki kelebihan dan kelemahannya masing-masing.

Dengan menyadari bahwa teman-temannya juga memiliki kelebihan dan kelemahan, akan membuat anak sadar bahwa sikapnya tidak baik untuk kehidupan sosial dan kondisi mentalnya.

Nah itulah dia beberapa alasan mengapa orangtua tidak boleh terlalu keras pada anak.

Setiap orangtua tentu punya caranya masing-masing untuk memotivasi anak agar mencapai impiannya. Namun, ingat juga untuk mementingkan kebahagiaan dan kesejahteraan anak.

Yuk Ma, lebih peduli terhadap kesehatan fisik dan mental anak, dengan tidak memberikan tuntutan terlalu keras padanya!

Baca juga

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.