10 Hewan yang Bisa Terancam Punah Akibat Pemanasan Global

Akibat pemanasan global, mereka mengalami kekurangan makanan hingga kesulitan berkembang biak

31 Maret 2022

10 Hewan Bisa Terancam Punah Akibat Pemanasan Global
statnews.com

Manusia dan hewan adalah makhluk hidup yang tak dapat dipisahkan. Sebagaimana pun caranya, manusia memiliki tanggung jawab dalam menjaga dan melindungi kehidupan hewan di Bumi.

Namun sayangnya, beberapa aktivitas manusia seperti penebangan hutan, penggunaan bahan bakar bensin, produksi gas rumah kaca, dapat mengakibatkan pemanasan glibal yang memicu berbagai permasalahan, seperti terancamnya populasi sejumlah spesies hewan.

Beberapa spesies hewan di dunia diketahui sangat sensitif terhadap kenaikan suhu dan kerusakan alam yang terjadi. Mereka akan menderita akibat pemanasan global hingga populasinya menurun. Hewan apa sajakah itu?

Berikut Popmama.com telah merangkum daftar 10 hewan yang bisa terancam punah akibat pemanasan global. Beri tahu anak yuk!

1. Staghorn coral

1. Staghorn coral
en.wikipedia.org

Staghorn coral merupakan spesies terumbu karang yang populasinya turun drastis hingga 80 persen sejak tahun 1970. Staghorn coral saat ini termasuk dalam kategori critically endangered atau terancam kritis dalam International Union for Conservation of Nature (IUCN) Red List.

Pemanasan global membuat terumbu karang kekurangan algae yang merupakan sumber nutrisi utamanya. Hal ini menyebabkan terumbu karang mengalami pemutihan atau bleaching.

Selain berdampak pada turunnya populasi terumbu karang, pemanasan global juga menurunkan populasi hewan lain yang hidup berdampingan dengan terumbu karang, seperti ikan badut dan penyu kecil.

2. Penguin Adelie

2. Penguin Adelie
BBC.com

Penguin Adelie yang memiliki nama Latin Pygoscelis Adeliae ini, adalah hewan asli Antartika. Sayangnya, Antartika saat ini adalah salah satu wilayah yang paling terdampak pemanasan global.

Suhu yang meningkat membuat es dan gletser di Antartika mencair dengan signifikan. Hal ini membuat habitat Penguin Adelie menurun drastis.

Selain itu, suhu yang memanas juga membuat ikan, yang meruapakan makanan utama penguin, berkurang dan lebih sulit di tangkap.

3. Pinguin Galapagos

3. Pinguin Galapagos
worldwildlife.org

Selain penguin Adelie, penguin Galapagos yang merupakan satu-satunya spesies pinguin yang hidup di bagian utara khatulistiwa, juga terancam punah. Saat ini, populasi penguin Galapagos memiliki jumlah kurang dari 2.000 spesies.

Dilansir dari World Wildlife Fund (WWF), bencana badai El Nino yang parah telah mengikis populasi pinguin Galapagos sejak 1970an lalu. Kemudian banyak di antara pinguin Galapagos ini yang akhirnya sakit dan tak mampu menghasilkan keturunan.

Hal ini diperburuk dengan adanya perubahan iklim, yang membuat bencana El Nino yang akan terjadi akan makin parah. Hal ini tentu akan membuat populasi binatang menggemaskan ini menjadi semakin terkikis.

4. Beruang kutub

4. Beruang kutub
kids.nationalgeographic.com

Beruang kutub memiliki nama Latin Ursus maritimus. Beruang kutub saat ini telah berstatus vulnerable atau rentan di dalam IUCN Red List.

Hampir mirip dengan Penguin Adelie, beruang kutub terancam punah karena pemanasan global yang mengurangi habitat dan makanan mereka.

Berkurangnya habitat dan makanan beruang kutub ini dibuktikan dengan kejadian tahun 2019. Saat itu, ditemukan beruang kutub di daerah pemukiman Rusia sedang mencari makan.

Editors' Pick

5. Kupu-kupu Monarch

5. Kupu-kupu Monarch

Monarch butterfly atau kupu-kupu Monarch adalah salah satu kupu-kupu yang ada di Indonesia dan terancam punah. Penyebab kupu-kupu ini terancam punah adalah karena berkurangnya kemampuan bermigrasi dari Amerika Utara ke daerah yang lebih dingin.

Kupu-kupu Monarch sama seperti kupu-kupu lainnya yang sangat sensitif terhadap cuaca dan iklim. Pemanasan global membuat kupu-kupu tidak bisa bermigrasi terlalu jauh dan kehilangan beberapa jenis tumbuhan sumber makanan utama kupu-kupu.

6. Koala

6. Koala
tripadvisor.co.id

Apakah anak mama tahu binatang khas Australia ini? Yup, populasi koala terus menurun karena pemanasan global. Hal ini dipicu beberapa hal, yaitu menurunnya nutrisi daun eukaliptus yang merupakan makanan utama koala, karena tingginya karbon dioksida di atmosfer.

Kemudian, udara yang semakin kering dan panas memicu kebakaran hutan. Hal ini membuat hewan-hewan yang hidup di hutan terpaksa terusir dari habitat aslinya. Tempat yang menjadi habitat baru, bisa jadi tidak cocok untuk hidup binatang yang rentan seperti koala.

7. Penyu

7. Penyu
waterlust.com

Tahukah anak, bahwa dari tujuh spesies penyu yang tersisa di dunia, tiga di antaranya sudah dinyatakan terancam punah kritis, sementara tiga lainnya dinyatakan terancam punah.

Hal ini kemudian diperparah dengan kemampuan telur penyu yang bertahan, yaitu hanya beberapa yang menetas dari ratusan telur. Lebih buruk lagi yang menetas kebanyakan adalah penyu betina.

Hal ini dikarenakan temperatur dari sarang induk penyu dapat mempengaruhi jenis kelamin dari keturunannya. Jika temperatur lebih hangat, penyu betina akan lahir. Sementara penyu jantan akan muncul di temperatur yang lebih dingin.

Menurut WWF, ini jadi membahayakan bagi populasi penyu. Karena perubahan iklim membuat temperatur makin hangat dan makin sedikit penyu jantan yang lahir.

Di Amerika Selatan, jumlah penyu juga terancam karena naiknya permukaan air. Hal ini dikarenakan penyu bertelur di pantai Brazil, di mana pantai-pantai tersebut kini telah terkikis jumlahnya karena naiknya permukaan air.

8. Paus sikat Atlantik Utara

8. Paus sikat Atlantik Utara
ifaw.org

Eubalaena glacialis, atau lebih dikenal dengan Paus sikat Atlantik Utara, adalah satu spesies yang terancam punah di jajaran eksistensi paus di lautan. Mamalia laut ini hanya tinggal 500 ekor tersisa di lautan.

Selain akibat populasi perburuan ilegal, pemanasan global juga punya andil besar dalam penurunan jumlah spesies paus sikat. Hal ini dikarenakan plankton, organisme yang jadi makanan paus, ternyata tak terlalu mampu berkembang biak di temperatur laut yang panas.

Inilah yang membuat sisa-sisa paus sikat harus bermigrasi ke tempat yang lebih dingin untuk mencari sumber makanan mereka.

9. Tufted Puffin

9. Tufted Puffin
allaboutbirds.org

Burung tufted puffin ini, adalah hewan asli Amerika utara. Sayangnya, keberadaan hewan ini terancam karena temperatur Bumi yang meningkat sejak 1975 silam, menurunkan kemampuan Puffin dalam berkembang biak.

Hal ini dikarenakan anak-anak puffin terpaksa meninggalkan sarang jauh lebih muda dari yang seharusnya. Ketika perairan menghangat, anak-anak burung ini tidak bisa menumbuhkan bulu yang cukup untuk terbang.

Sehingga mereka akan meninggalkan sarang mereka tanpa perbekalan yang cukup untuk bertahan hidup. Inilah yang dikhawatirkan oleh WWF, karena akan makin sulit bagi Puffin untuk berkembang biak jika perubahan iklim terus memburuk.

Saat ini, dilansir North American Waterbird Conservation Plan, hanya tinggal 2.750.000 hingga 3.000.000 puffin tersisa di dunia.

10. Burung laut di laut utara Inggris

10. Burung laut laut utara Inggris
allaboutbirds.org

Pada 2004, perubahan iklim adalah penyebab utama ketidakmampuan burung laut di Inggris untuk berkembang biak. Beberapa spesies di antaranya adalah Guillemots, Arctic Skuas, Great Skuas, dan Kittiwakes.

Ini disebabkan karena berkurangnya spesies ikan sandeel, atau ikan kecil yang jadi makanan utama dari burung-burung laut tersebut. Berkurangnya ikan sandeel ini karena mereka tak mampu bertahan di temperatur laut yang makin panas.

Perkiraan para peneliti, masih terdapat delapan juta burung laut dari total 25 spesies yang ada, di seluruh Britania Raya.

Nah itulah beberapa hewan yang bisa terancam punah akibat pemanasan global. Sebagai orangtua, Mama memiliki tanggung jawab untuk membesarkan anak yang menjadi generasi selanjutnya, agar ia bisa tumbuh menjadi lebih peduli pada setiap makhluk hidup. 

Karena tak hanya berdampak pada hewan saja lho, pemanasan global juga bisa menimbulkan berbagai masalah pada kehidupan manusia. Jadi, yuk ajari anak agar lebih hemat listrik, bersepeda, menanam pohon, dan mengurangi penggunaan plastik!

Baca juga:

The Latest