Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
5 Pelajaran Parenting dari Film Na Willa, Melihat Dunia dari Mata Anak
Instagram.com/nawillaofficial
  • Film Na Willa menggambarkan kehidupan anak 6 tahun di Surabaya era 1960-an, menyoroti cara anak belajar dan memahami dunia lewat pengalaman sehari-hari bersama teman-temannya.
  • Cerita ini menekankan pentingnya peran lingkungan sosial dalam tumbuh kembang anak, menunjukkan bahwa dukungan keluarga dan komunitas membentuk karakter serta emosi mereka.
  • Na Willa mengajak orangtua memahami dunia dari sudut pandang anak, menghargai keunikan tiap individu, dan menerapkan pola asuh yang responsif terhadap kebutuhan emosional si kecil.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Film keluarga berjudul Na Willa menghadirkan kisah anak perempuan berusia enam tahun di Surabaya era 1960-an, dengan pesan tentang pengasuhan dan cara anak memandang dunia.
  • Who?
    Tokoh utama Willa bersama teman-temannya Dul, Farida, dan Bud; serta sosok ibunya yang digambarkan memiliki hubungan dekat dengannya.
  • Where?
    Latar cerita berada di kawasan Krembangan, Surabaya, menggambarkan kehidupan masyarakat setempat pada masa 1960-an.
  • When?
    Film dijadwalkan tayang untuk umum mulai 18 Maret 2026 sebagai tontonan keluarga pada momen Lebaran tahun tersebut.
  • Why?
    Kisah ini dibuat untuk menyoroti pentingnya memahami dunia dari sudut pandang anak serta memberikan pelajaran tentang pola asuh dan tumbuh kembang anak.
  • How?
    Cerita disampaikan melalui keseharian Willa dan interaksinya dengan lingkungan sekitar, menampilkan pengalaman belajar, bermain, serta hubungan emosional dengan orangtua dan teman-temannya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

It takes a village to raise a child—karena anak tidak tumbuh sendirian, ia dibentuk oleh setiap pengalaman kecil di rumah dan sekitarnya

Film Na Willa menjadi salah satu tontonan keluarga yang dinanti di Lebaran 2026 ini. Film ini melihat bagaimana kehidupan dari kaca mata anak-anak. Ini membuat sudut pandangnya unik karena tidak hanya menghibur, tetapi juga menyisipkan banyak pelajaran penting seputar pengasuhan dan tumbuh kembang anak.

Na Willa mengisahkan kehidupan Willa, seorang anak perempuan berusia 6 tahun yang tinggal di kawasan Krembangan, Surabaya, pada era 1960-an. Bersama teman-temannya seperti Dul, Farida, dan Bud, Willa menjalani hari-hari dengan penuh rasa ingin tahu, bermain, serta belajar memahami dunia di sekitarnya dengan cara yang polos dan jujur.

Dari interaksi sehari-hari hingga keputusan-keputusan kecil dalam hidup, perjalanan Willa menghadirkan berbagai sudut pandang tentang bagaimana anak melihat dunia. Film ini juga melihat hubungan Willa dengan sang Mama dengan dinamika pengasuhan yang dekat dengan kehidupan banyak keluarga.

Di balik ceritanya yang ringan, film ini menyimpan banyak makna yang bisa jadi bahan refleksi bagi orangtua dalam memahami anak. 

Berikut Popmama.com rangkum pelajaran parenting dari film Na Willa!

1. Anak selalu bisa menemukan cara belajar dari lingkungannya

Instagram.com/nawillaofficial

Film ini mengikuti keseharian Willa dengan teman-temannya yakni Farida, Dul, dan Bud. Ada banyak momen keempatnya belajar banyak dari hal-hal sekitarnya. Momen bermain, membantu orangtua, hingga berinteraksi dengan lingkungan menjadi bagian penting dalam proses tumbuh kembang keempatnya.

Hal ini sejalan dengan konsep Experiential Learning, di mana anak belajar melalui pengalaman langsung. 

Bahkan, penelitian dalam jurnal Child Development menunjukkan bahwa eksplorasi aktif membantu anak mengembangkan kemampuan problem solving dan kreativitas sejak dini.

2. Pemaknaan dari “it takes a village to raise a child”

Instagram.com/nawillaofficial

Rumah memang berperan penting dalam tumbuh kembang anak. Di dalam rumah orangtua memberikan batas dan dasar-dasar dari perilaku anak. Namun, karakter anak tidak serta-merta bentukan bulat orangtua, karena mereka juga dipengaruhi oleh orang-orang di sekitarnya. 

Kehadiran keluarga besar, tetangga, hingga komunitas dapat memberikan pengalaman sosial yang memperkaya perkembangan anak. Film Na Willa menggambarkan secara jelas bagaimana frasa terkenal “it takes a village to raise a child” itu bermakna. 

Ecological Systems Theory menjelaskan bahwa perkembangan anak dipengaruhi oleh berbagai lapisan lingkungan. Studi dalam jurnal American Psychologist juga menegaskan bahwa support system yang kuat berperan penting dalam perkembangan emosional dan sosial anak.

3. Melepas pikiran “yang terbaik” menurut orangtua

Instagram.com/nawillaofficial

Keputusan orangtua dalam mendidik anak sebaiknya tidak hanya didasarkan pada keinginan pribadi, tetapi juga mempertimbangkan kebutuhan anak. Setiap anak memiliki tahapan perkembangan dan kebutuhan yang berbeda.

Sosok Mak tidak rela dan khawatir melihat Willa sekolah. Banyak kekhawatiran sebagai orangtua. Kadang, mama dan papa masih memandang apa yang terbaik dimata kita juga pilihan apik untuk si Kecil. Apakah benar?

Padahal pola asuh yang responsif terhadap kebutuhan anak, bukan sekadar ambisi orangtua, berkaitan dengan perkembangan emosi yang lebih sehat. Pendekatan ini juga dikenal dalam konsep Child-Centered Parenting.

4. Setiap anak unik dan punya potensi

Instagram.com/nawillaofficial

Na Willa tumbuh dikelilingi teman-teman setianya. Background keluarga dari Dul, Farida dan Bud juga digambarkan berbeda di filmnya. Karakter Willa dan ketiganya pun berbeda hasil bentukan dari kebiasaan masing-masing keluarga. 

Willa dan ketiga temannya punya potensi masing-masing dari penjelasan filmnya. Ada yang unggul secara akademik, ada juga yang menonjol dalam kemampuan fisik atau sosial.

Konsep ini selaras dengan teori Multiple Intelligences Theory yang menyebut bahwa kecerdasan tidak hanya satu bentuk. Studi dalam jurnal Intelligence juga menunjukkan bahwa mengenali kekuatan anak dapat meningkatkan kepercayaan diri dan motivasi belajar mereka.

5. Orangtua perlu melihat anak dari dunianya

Instagram.com/nawillaofficial

Di pembukaan film, Na Willa merasa tersakiti karena perkataan Mbok yang menyanggah kalau ia tidak mirip Mak. Dari sisi orang dewasa mungkin ini adalah masalah kecil, tapi di mata anak ini bisa berbeda.

Tidak hanya perasaan sedih, bahkan perasaan bahagia pun bisa demikian. Bagi Willa, minum-minuman dingin sudah membahagiakan! Namun, bagi orang dewasa belum tentu sama.

Karena itu penting bagi orangtua untuk memahami emosi anak dari perspektif mereka, bukan dari sudut pandang orang dewasa. Penelitian dalam jurnal Journal of Child Psychology and Psychiatry menekankan bahwa validasi emosi anak membantu membangun secure attachment

Anak yang merasa dipahami cenderung memiliki hubungan yang lebih aman dengan orangtua dan perkembangan emosional yang lebih baik.

Itulah tadi pelajaran parenting dari film Na Willa. Siap nonton bareng keluarga di Lebaran 2026 ini! Mulai 18 Maret ya.

Editorial Team