Masalah terbesar dalam memberikan akses WhatsApp kepada anak bukan terletak pada ponsel atau tablet yang diberikan. Masalahnya adalah memberikan akses sebelum percakapan tentang kesiapan dilakukan dengan serius.
Sebagian besar keluarga melewatkan langkah penting ini. Orangtua langsung memberikan ponsel, mengunduh WhatsApp, dan membiarkan anak bergabung dengan grup tanpa terlebih dahulu membahas apa yang diharapkan dan apa risikonya.
Keputusan memberikan akses WhatsApp seharusnya bukan hanya berdasarkan umur anak, tetapi berdasarkan kesiapan emosional dan mental mereka. Ada pertanyaan-pertanyaan penting yang harus bisa dijawab sebelum anak diizinkan menggunakan WhatsApp.
Pertanyaan pertama adalah apakah anak mampu menghadapi pengucilan. Jika mereka dikeluarkan dari grup atau tidak dimasukkan ke grup tertentu, apakah mereka bisa menangani perasaan tersebut tanpa hancur secara emosional.
Pertanyaan kedua adalah apakah anak bisa berpikir sebelum bereaksi. Ketika mereka membaca pesan yang membuat marah atau kesal, apakah mereka mampu menahan diri untuk tidak langsung membalas dengan emosi, tetapi berpikir dulu tentang konsekuensinya.
Pertanyaan ketiga adalah apakah anak memahami bahwa tangkapan layar itu permanen. Apapun yang mereka kirim bisa di-screenshot dan disimpan selamanya. Apakah mereka paham bahwa tidak ada yang benar-benar bisa dihapus di dunia digital.
Pertanyaan terakhir dan mungkin paling penting adalah apakah anak akan datang kepada orangtua jika ada masalah. Jika mereka mengalami perundungan, melihat konten yang tidak pantas, atau merasa tidak nyaman dengan sesuatu di WhatsApp, apakah mereka merasa aman untuk bercerita kepada orangtua.
Jika jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini adalah tidak atau ragu-ragu, maka anak belum siap untuk WhatsApp, terlepas dari berapa pun umur mereka.
Sebelum mengizinkan anak bergabung dengan WhatsApp, sangat penting untuk menetapkan ekspektasi terlebih dahulu. Diskusi mendalam tentang tanggung jawab digital, privasi, dan konsekuensi dari tindakan online harus dilakukan sebelum memberikan akses.
Orangtua harus terlibat aktif dalam kehidupan digital anak, bukan hanya memberikan akses lalu melepas tangan begitu saja. Komunikasi terbuka tentang pengalaman anak di WhatsApp perlu dijaga agar mereka merasa nyaman untuk bercerita jika ada masalah.
Apakah anak Mama sudah siap untuk WhatsApp?