Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
10 Skill Penting yang Wajib Dilatih pada Anak Laki-Laki
Pexels/Kampus Production
  • Orangtua dianjurkan melatih anak laki-laki menyelesaikan masalah, mengukur risiko, menyampaikan pendapat, serta tegas menolak pengaruh negatif agar percaya diri dan bertanggung jawab.

  • Literasi keuangan dan kemandirian perlu dibangun lewat membedakan kebutuhan-keinginan, mengurus kebutuhan dasar, serta terlibat dalam tugas rumah untuk membentuk tanggung jawab.

  • Anak perlu dibiasakan aktif bergerak, berkreasi, peduli lingkungan dan sesama, serta mengenali emosi agar sehat secara fisik, emosional, dan sosial.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Anak laki-laki perlu belajar banyak hal, bukan cuma kuat dan pintar. Papa dan Mama bisa mengajarinya mencari solusi, memakai uang dengan baik, dan hati-hati sebelum bertindak. Anak juga perlu berani bicara, aktif bergerak, membuat karya, mandiri, peduli orang lain, mengenal perasaan, dan berani bilang tidak.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Dalam mendidik anak, setiap orangtua tentunya ingin yang terbaik ya.

Terutama dalam mendidik anak laki-laki, tidak hanya perlu kuat secara fisik atau unggul secara akademik di sekolah.

Ada banyak ketrampilan hidup dasar atau basic life skills yang wajib ia miliki sejak dini.

Hal ini karena ia akan tumbuh menjadi laki-laki dewasa yang memegang peran serta tanggung jawab besar.

Namun, dalam mendidik anak laki-laki, ​bukan hanya sekadar mencetak anak yang "kuat" dan "pintar".

Papa juga perlu membentuk karakter anak laki-laki yang memiliki keberanian, prinsip, empati, dan keahlian memecahkan masalah. Untuk itu, sudah Popmama.com rangkum skill penting yang wajib dilatih pada anak laki-laki. Dicatat ya Ma!

1. Belajar menyelesaikan masalah

Magnific

Pa, ternyata saat mendidik anak laki-laki supaya mandiri tidak cukup dengan dibantu mencarikan jalan keluar atau solusi setiap ada masalah.

Dengan melatih problem-solving skills atau yang berarti melatih anak menyelesaikan masalahnya sendiri. Penting untuk fondasi utama dalam berpikir kritis, mengambil keputusan, serta menurunkan rasa cemas saat menghadapi tantangan yang terasa berat.

Mengutip dari Sydney Children's Practice, kemampuan memecahkan masalah sebenarnya bukanlah bakat bawaan lahir.

Melainkan keterampilan yang dipelajari anak dari hasil mengamati dan berlatih bersama Papa. Tentunya dengan pengawasan serta bimbingan yang tepat membantu anak membangun rasa percaya diri dan ketahanan mentalnya.

Brad Bowen, seorang psikolog klinis asal Australia, menekankan bahwa penguasaan ketrampilan menyelesaikan masalah dapat membekali anak untuk mengelola stres emosional secara lebih sehat, tidak hanya di dalam kelas tetapi di seluruh aspek kehidupannya kelak.

Oleh karena itu, alih-alih langsung memberikan solusi instan saat anak kesulitan. Biarkan ia berlatih berpikir, mencoba, dan menemukan solusinya sendiri ya, Pa!

2.​ Belajar mengelola uang secara bijak

Pexels/https://kaboompics.com/

Siapa Mama di sini yang sudah mengajarkan anak remaja laki-lakinya literasi keuangan?

Mengajarkan anak laki-laki mengelola keuangan bukan sekadar memintanya menabung, lho, ya?

Melainkan membiasakannya membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Sebab keterampilan ini menjadi pilar penting supaya anak mampu menggunakan uangnya secara bijak sejak dini.

Sebuah riset dari The Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC) menunjukkan bahwa pendidikan finansial sejak kecil memberikan manfaat besar jangka panjang, bagi kehidupan anak saat dewasa kelak.

Anak-anak yang mendapatkan literasi keuangan baik berpeluang lebih besar untuk menjadi pribadi mandiri secara finansial dan bertanggung jawab, memiliki tingkat utang yang lebih rendah, serta meraih tingkat tabungan dan skor kredit yang lebih tinggi.

Tidak hanya itu, pemahaman finansial yang kuat juga terbukti mengurangi stres jangka panjang, lho, Pa!

Apalagi menjaga kesehatan mental yang lebih baik, meningkatkan rasa percaya diri, mempererat hubungan sosial, hingga membantu mereka mencapai nilai kekayaan bersih yang lebih tinggi di masa depan.

3.​ Belajar mengukur risiko sebelum bertindak

Unsplash/Sasun Bughdaryan

Penting untuk melatih anak supaya tidak hanya berani mencoba hal baru, melainkan juga tahu kapan harus berhenti, berpikir ulang, serta mempertimbangkan akibat dari setiap tindakannya.

Hal ini membantu anak mengevaluasi situasi bahaya, mengantisipasi konsekuensi dari perilakunya, serta membuat keputusan yang lebih aman dan rasional.

Dengan terbiasa memperhitungkan risiko sejak dini, anak laki-laki belajar bertanggung jawab atas tindakan yang ia ambil tanpa kehilangan keberaniannya untuk mengeksplorasi hal-hal baru.

4. ​Berani mengeluarkan pendapat dan menyampaikan pikiran

Unsplash/Vitaly Gariev

Pa, anak laki-laki perlu dilatih untuk mampu menyampaikan apa yang ada di dalam pikirannya secara jelas dan lugas.

Karena ketrampilan berkomunikasi secara asertif ini sangat penting supaya ia tidak tumbuh menjadi pribadi yang pasif atau mudah terbawa arus.

American Psychological Association (APA), menekankan bahwa dengan mengajari anak menyampaikan pendapatnya dapat membangun rasa percaya diri dan kecerdasan emosional

Ketika anak merasa didengar di rumah, ia belajar menyusun argumen dengan baik, menghargai pandangan orang lain, dan berani mempertahankan prinsipnya secara santun ketika berada di lingkungan luar.

5.​ Terbiasa menggunakan fisik dan aktif bergerak

Unsplash/Giu Vicente

Melatih kebiasaan fisik pada anak laki-laki bukan sekadar menuntutnya pandai olahraga, ya Pa.

Melainkan membiasakannya supaya anak nyaman bergerak, mencoba hal baru, serta melakukan berbagai aktivitas secara mandiri.

Mengutip dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), aktivitas fisik memberikan banyak manfaat penting bagi anak.

Selain meningkatkan konsentrasi, daya ingat, serta prestasi akademik, aktif bergerak juga menjaga kesehatan otak dan menurunkan risiko depresi.

Secara fisik dan medis, kebiasaan aktif ini membantu membangun otot yang kuat, meningkatkan daya tahan tubuh, melatih kesehatan jantung dan paru-paru, memperkuat tulang, serta menjaga tekanan darah dan kadar gula darah, dan menekan risiko berbagai penyakit kronis jangka panjang seperti diabetes tipe 2 serta obesitas.

6. ​Bukan cuma jadi pengguna, tapi pencipta

Unsplash/Vitaly Gariev

Papa, pada dasarnya anak itu terlahir untuk mengeksplorasi, mencoba hal baru, dan berkreasi guna memahami dunia di sekitarnya.

Melalui imajinasi, eksperimen, serta pengalaman langsung. Oleh karena itu, penting bagi orangtua untuk mendorong anak laki-laki menjadi seorang pencipta, bukan sekadar penikmat atau konsumen pasif.

Meski menonton atau mengonsumsi konten tidak sepenuhnya buruk untuk memberi jeda istirahat pada otak, porsi tersebut sebaiknya hanya sebagian kecil dari waktu harian anak ya.

Sebab begini, Pa otak dan kapasitas belajar anak akan berkembang jauh lebih optimal ketika aktif berkreasi.

Untuk mendukung anak menjadi pencipta aktif, Papa bisa menyediakan mainan yang memicu rasa ingin tahu untuk merancang, membangun, dan bereksperimen.

Berikan juga waktu main yang cukup dan tidak terburu-buru supaya fokus serta imajinasi anak remaja laki-laki dapat terasah dengan maksimal.

7.​ Bisa mengurus kebutuhan dasar dan mandiri

Pexels/Gustavo Fring

Papa melatih anak laki-laki mengurus kebutuhan dasarnya merupakan langkah penting untuk membentuk sifat mandirinya di masa depan, lho!

Mengutip dari Raising Children Network, melibatkannya dalam tugas rumah tangga sama halnya mengajarkan anak ketrampilan hidup dasar untuk merawat diri sendiri, rumah, dan keluarga.

Aktivitas ini tidak hanya mengasah ketrampilan praktis seperti memasak sederhana atau merapikan tempat tidur.

Tetapi juga melatih kemampuan berelasi, komunikasi, kerja sama tim, serta memberikan rasa tanggung jawab dan pencapaian.

Untuk itu supaya anak bersemangat, pilih tugas yang sesuai dengan usia serta kemampuannya.

Papa bisa memulainya dengan memberi contoh dan mengerjakannya bersama-sama terlebih dahulu, setelah itu memberikan instruksi yang jelas, serta berikan apresiasi atas usahanya.

Hal ini supaya anak merasa kontribusinya sangat berharga bagi keluarga.

8.​ Peduli pada lingkungan dan orang sekitar

Pexels/ERHAN GÜLER

Mendidik anak laki-laki tidak hanya soal mengasah potensi dirinya sendiri, tetapi membantunya memahami bahwa hidup bukan cuma tentang kepentingan pribadinya.

Ia perlu belajar memperlakukan orang lain dengan baik, menunjukkan rasa empati, serta menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan di sekitarnya.

Dengan memupuk kepedulian sosial dan lingkungan sejak dini membantu anak mengembangkan kecerdasan emosional serta rasa empati yang kuat.

Ketika anak dibiasakan untuk peka terhadap kesulitan orang lain. Anak akan tumbuh menjadi pribadi yang menghargai sesama dan siap menjadi pemimpin yang inklusif di masa depan.

9.​ Bisa mengenali dan mengelola emosinya

Pexels/Alena Darmel

Mungkin anggapan bahwa anak laki-laki harus selalu terlihat kuat, masih tertanam di budaya masyarakat saat ini.

Sehingga ketika anak laki-laki ingin menunjukkan emosinya, ia cenderung memendam apa yang dirasakannya. Karena mungkin takut dikira lemah.

Padahal, mengenali emosi seperti tahu kapan dirinya sedang marah, adalah skill krusial supaya anak tidak melampiaskan perasaannya secara destruktif ke orang lain.

Oleh karena itu, ketika Papa melatih regulasi emosi sejak dini, akan membantu anak memahami bahwa semua emosi itu valid.

Ketika Papa membimbing anak untuk mengidentifikasi perasaannya dan memproses emosi tersebut secara sehat, anak laki-laki akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih tangguh.

Tidak hanya itu, ia juga mampu mengendalikan diri saat tertekan, serta terhindar dari masalah kesehatan mental di masa depan.

10. ​Tegas bilang "tidak" dan punya prinsip

Pexels/Markus Spiske

Keterampilan terakhir yang tak kalah penting adalah melatih anak laki-laki supaya berani bersikap tegas dan berprinsip hidup yang kuat.

Papa, anak perlu memahami batas dirinya, berani menolak ajakan yang kurang baik, dan tidak merasa harus selalu ikut-ikutan teman.

Ketika Papa mengajari anak keterampilan berkomunikasi secara asertif dan menetapkan batasan diri,h hal ini dapat membentenginya dari tekanan teman sebaya atau peer pressure.

Ketika anak laki-laki dibiasakan untuk teguh pada nilai-nilai kebenaran yang ia pegang, anak akan tumbuh menjadi pria dewasa yang percaya diri, memiliki integritas tinggi, dan mampu mengambil keputusan secara bijak tanpa mudah terpengaruh oleh lingkungan negatif.

Itulah skill penting yang perlu dilatih pada anak laki-laki. Dengan konsisten dan dukungan Mama dan Papa dalam melatih anak ketrampilan tersebut dapat membantunya ketika anak laki-laki dewasa nanti. Semoga bermanfaat!

Curated For You

Editorial Team

Related Article