5 Cara Menghadapi Anak yang Suka Pamer

Maunya pamer segala hal. Hmmm, ini kenapa ya, Ma?

7 September 2018

5 Cara Menghadapi Anak Suka Pamer
Freepik/freephoto

“Nilai ulanganku lebih bagus dari nilai teman-temanku.”

“Mainanku lebih banyak dari mainan kakak.”

Sering mendengar anak memamerkan kelebihannya seperti ini? Semua anak mungkin pernah melakukan hal ini ya, Ma. Walau terdengar menyebalkan, namun pamer ternyata hal yang normal terjadi pada anak.

Mengutip Parents.com, Stephanie Mihalas, Ph.D, psikolog dan founder Center for Well-Being mengatakan kalau pamer ini normal dan biasanya mulai dilakukan anak ketika usianya sudah menginjak 5 atau 6 tahun. 

Anak-anak di usia itu masih mencari tahu perbedaan antara dirinya dan orang lain, maka mereka selalu mengukur bakat, prestasi, dan bahkan materi yang anak miliki dengan yang anak lain miliki.

Walau sifat pamer ini tidak berbahaya, namun orang lain bisa menangkapnya dengan cara yang salah. Kalau dibiarkan, anak bisa saja jadi public enemy dan berakhir dengan bullying. Wah, jangan sampai hal buruk itu terjadi pada si Kecil ya, Ma.

Sebelum hobi pamer ini berlanjut lebih jauh, Mama bisa menghentikannya dengan melakukan 5 cara efektif berikut ini. Mau tahu apa saja cara tersebut? Simak penjelasannya, yuk.

1. Tunjukkan dan nasihati

1. Tunjukkan nasihati
Freepik/phanuwatnandee

Banyak anak usia 5 atau 6 belum mengerti apa sih definisi dari kata “pamer” tersebut, dan kenapa mereka tidak boleh melakukannya. Maka, Mama bisa mulai mengajaknya ngobrol dengan menjelaskan apa itu pamer, dan kenapa itu bisa menyakiti orang lain.

Dr. Stephanie menyarankan untuk bilang, “Pamer itu ketika kamu membicarakan tentang semua mainan keren yang kamu punya ke orang lain, atau kemampuan apa yang bisa kamu lakukan. Itu bisa membuat teman kamu sedih, karena mereka tidak punya mainan sebagus dan sebanyak mainan kamu, atau mereka tidak bisa melakukan hal hebat yang kamu bisa lakukan.”

Editors' Picks

2. Jadi contoh yang baik

2. Jadi contoh baik
Freepik/senivpetro

Mungkin Mama tidak sadar, kalau sifat sering membandingkan anak juga bisa menjadi contoh tidak baik yang memicu anak jadi suka pamer. Walau kadang hanya perbandingan sederhana, namun anak bisa mencontohnya. Maka sebaiknya Mama juga perlu menjaga diri untuk tidak membandingkan anak Mama dengan anak lain, atau dengan saudara kandungnya sendiri.

3. Memberi pujian yang tepat

3. Memberi pujian tepat
Freepik/prostooleh

Setiap anak menunjukkan apapun ke Mama, mungkin Mama refleks mengatakan: hebat, pintar, keren, atau luar biasa. Padahal menurut dr. Stephanie, lama-lama semua pujian itu bisa tidak berarti bagi anak, dan justru membuat mereka berpikir mereka layak diberi feedback setiap kali mereka melakukan hal apa saja.

Maka, Mama harus memberikan pujian dengan tepat, spesifik, dan tekankan pada usaha anak, bukan hasilnya. Misalnya, “Kamu pasti bangga karena usaha kerasmu tidak sia-sia,” ketika anak pamer nilainya lebih tinggi dari nilai teman-temannya.

Pujian itu penting, namun jangan terlalu sering dan berlebihan. Pujian harus efektif agar anak tidak tumbuh sebagai anak yang 'gila pujian.'

4. Fokus pada hasil

4. Fokus hasil
Freepik/asierromero

“Kalau Anda menanyakan anak kenapa ia pamer, kebanyakan anak akan menjawab ia tidak tahu atau ia tidak pamer,” ujar dr. Stephanie. Maka pendekatan yang baik adalah membahas situasinya, tanpa menyebutkan sifat pamernya (“Mama lihat kamu sebal ya sama Rio, waktu dia bilang dia bisa lompat tinggi”).

Obrolan ini bisa membuat Mama tahu, apa sih yang anak cari. Ketika anak sudah memaparkan kenapa ia merasa harus pamer, maka Mama bisa memberikan solusi yang positif.

Bagaimana jika adik-kakak saling pamer dan tidak ada yang mau kalah? Ini waktunya Mama yang mengalah dengan membuat semua anak merasa spesial. Karena tujuan mereka pamer adalah untuk mendapatkan perhatian ekstra dari Mama, maka mereka berebut ‘lahan’ yang bisa berbuah pujian dan senyuman Mama.

Ya, buat mereka merasa spesial, Ma. Habiskan waktu berdua dengan masing-masing anak, itu saja sudah sangat membantu.

5. Ajarkan anak untuk lebih peka

5. Ajarkan anak lebih peka
Freepik/jcomp

Tentu saja, tujuan utama anak pamer adalah untuk menunjukkan berita baik tentang dirinya. Katakan pada anak kalau ia boleh saja bilang pada Nenek tentang rapornya yang sangat memuaskan, tetapi kalau berita baik itu dikatakan di depan anak lain yang mungkin nilainya tidak sebaik dia, anak lain itu pasti sedih.

Sebutkan kalau anak lain tidak mau berteman dengan anak yang membuat mereka merasa sedih atau buruk. Maka, anak harus belajar untuk bisa lebih peka dengan lingkungan sekitar.

Walau awalnya sulit, namun 5 cara ini efektif mengendalikan sifat suka pamer si Kecil, Ma. Semangat!

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.