Popmama.com/Keisha Felita Aryamaulana/AI
Mama juga perlu mengelola ekspektasi. Tidak semua proses berjalan lurus. Ada hari ketika anak terlihat semangat, ada hari ketika ia kembali menunda. Hal ini wajar dalam proses pembiasaan.
Anak yang sedang tumbuh masih belajar mengatur emosi dan tanggung jawab. Kadang ia menunda karena masih ingin bermain. Kadang ia terburu buru saat wudu atau ingin cepat selesai. Mama bisa menjadikan momen tersebut sebagai bahan refleksi.
Setelah salat, ajak anak berbicara dengan tenang. Tanyakan bagaimana perasaannya saat salat tadi. Apakah ada bagian yang terasa sulit. Apakah ia merasa sudah berusaha lebih baik dari sebelumnya.
Refleksi tidak harus panjang dan serius. Cukup beberapa menit dengan suasana santai. Mama bisa menyampaikan hal yang sudah baik terlebih dahulu, lalu memberi masukan yang perlu diperbaiki.
Selain mengajak anak refleksi, orangtua juga perlu bercermin. Apakah selama ini cara mengingatkan sudah cukup tenang. Apakah konsistensi sudah terjaga. Apakah contoh yang diberikan sudah jelas.
Mengelola ekspektasi berarti memahami bahwa tujuan utamanya bukan membuat anak langsung sempurna, tetapi membentuk kebiasaan jangka panjang. Jika Mama terlalu fokus pada hasil instan, tekanan bisa meningkat dan suasana menjadi tegang. Sebaliknya, ketika Mama menerima bahwa ini adalah proses bersama, hubungan dengan anak tetap terjaga.
Pada akhirnya, agar anak bisa sampai pada tahap rajin salat tanpa diingatkan, dibutuhkan kombinasi makna, suasana yang positif, konsistensi, dan komunikasi yang terbuka. Tidak ada cara instan, tetapi langkah kecil yang dilakukan terus menerus bisa memberi hasil yang lebih stabil.
Menurut Mama, apa yang masih menjadi tantangan terbesar di rumah saat membiasakan anak salat tanpa diingatkan?