"Anak itu terlahir dengan fitrah yang baik. Mereka terlahir putih, bersih, dan baik, hanya saja banyak hal yang secara sadar dan tidak sadar kita lakukan memengaruhi dan mewarnai anak kita."
3 Tips Parenting ala Umma agar Anak Terbiasa Salat Sejak Dini

- Orangtua harus memberikan teladan yang baik.
- Konsisten dalam hal kecil, seperti berdoa saat bangun tidur dan membacakan buku setiap hari.
- Disiplin tidak harus keras dan kasih sayang tidak berarti memanjakan.
Anak-anak sering menunjukkan kesadaran diri lebih cepat dari yang kita kira. Video yang dibagikan Mutia (@mutiatreza), akrab disapa Umma, memperlihatkan Acen, anaknya, menangis saat dirawat di rumah sakit.
Tangisan itu bukan karena dimarahi orangtua, melainkan karena ia merasa belum sempat menunaikan salat Ashar. Sebuah momen yang membuat banyak orang terkesan dengan kesadaran spiritual seorang anak.
Melalui captionnya, Umma membagikan insight menarik tentang hal ini.
Sejatinya, yang perlu dibenahi justru orangtuanya terlebih dahulu. Lalu bagaimana caranya? Umma memberikan jawaban yang sederhana.
"Ga perlu aneh aneh dan pakai tips parenting segala rupa. Kalau mau bentuk suatu kebiasaan coba aja melakukan secara konsisten 7 hari, lanjut 21 hari, sampai 90 hari."
Berikut Popmama.com rangkum 3 tips parenting agar anak terbiasa ibadah sejak dini.
Table of Content
1. Dimulai dari kebiasaan orangtua

"Kalau aku mau anakku suka salat, akunya sudah siap belum?"
Menurut Umma, persiapan menjadi orangtua dimulai jauh sebelum anak lahir. Umma dan Baba (panggilan untuk ayah Acen) mulai berusaha mempersiapkan diri sejak awal pernikahan, bahkan sebelum Acen lahir. Prinsip mereka sederhana.
"Anak-anak belajar bukan dari nasihat, tapi dari teladan".
Mereka percaya bahwa pengaruh orangtua sangat besar, energinya bisa menular. Oleh karena itu, Umma dan Baba sangat menjaga suasana rumah, perilaku sehari-hari, termasuk penggunaan handphone.
Komitmen mereka konsisten, tidak menggunakan gadget di depan anak, terutama ketika Acen masih 0-4 tahun. Seiring bertambahnya usia, mereka mulai edukasi tentang manfaat dan kepemilikan bahwa handphone itu bukan untuk main, tapi sebagai alat komunikasi.
2. Konsisten dalam hal kecil, dari bangun hingga tidur

"Tapi anakku sudah 5 tahun, terlambat tidak?" Jika Mama memiliki pertanyaan ini, Umma menegaskan bahwa tidak ada kata terlambat untuk mendidik anak, walaupun sudah bukan di kandungan. Semua bisa dimulai dari hal-hal kecil.
Misalnya, saat bangun tidur, ajak anak berdoa bersama meskipun dia belum bisa mengucapkan kata kata, karena anak belajar melalui pengulangan dan keteladanan. Setiap kali akan melakukan aktivitas seperti makan, mandi, bermain, ajarkan anak untuk memulai dengan doa. Hal ini menanamkan kesadaran spiritual sejak dini.
Umma juga menekankan pentingnya membacakan buku setiap hari minimal 15 menit. Pilih buku yang bergambar, penuh warna, dan mengandung kata kata positif agar menstimulasi perkembangan bahasa dan imajinasi. Jika memungkinkan, buat jadwal harian sederhana. Ini akan membantu kebiasaan baik yang konsisten dan menjuadi pengingat bagi orangtua juga.
Buat jadwal harian sederhana. Ini akan membantu anak untuk membangun kebiasaan baik yang konsisten, sekaligus menjadi pengingat untuk orangtua.
3. Tegas dengan kasih sayang

Salah satu hal yang sering Umma bahas adalah tentang ketegasan dalam mendidik anak. Banyak orangtua yang bingung, harus tegas atau lemah lembut?
Menurutnya, tegas tidaklah sama dengan keras, dan lemah lembut tidak sama dengan lembek. Tegas berarti konsisten, jelas, adil, dan berprinsip.
Begitu juga dengan lemah lembut. Lemah lembut adalah sikap penuh kasih, sopan, dan sabar, namun tetap memiliki batasan dan ketegasan normal.
Umma percaya bahwa menjadi orangtua yang cerdas tapi penuh kasih adalah kunci dalam membesarkan anak yang berkarakter baik. Pola asuh seperti ini ternyata sejalan dengan pola pengasuhan Rasulullah dan juga pola pengasuhan otoritatif yang dikenal dalam psikologi.
Intinya, tegas tidak harus keras. Kasih sayang tidak berarti memanjakkan. Pendidikan anak harus seimbang antara hati dan prinsip. Dengan begitu, anak tumbuh dengan rasa aman, tanggung jawab, percaya diri, dan taat dengan sadar bukan karena takut.
Sudahkah Mama memberi teladan yang baik untuk ditiru si Kecil?


















-M4H7b1ZhTVkhBHuYLMD96ShifBhBZlhx.jpg)