Bukan Manja Biasa, Kenali Gejala Oppositional Defiant Disorder (ODD)

Perilaku anak tampak agresif dan sering mengganggu, bisa jadi ia menderita ODD

10 April 2020

Bukan Manja Biasa, Kenali Gejala Oppositional Defiant Disorder (ODD)
Freepik

Anak-anak punya berbagai tingkah polah yang terkadang mengejutkan orangtua.

Sebagian anak dapat beradaptasi dengan mudah terhadap lingkungan dan situasi yang dihadapinya. Sebagian lagi, sangat sulit menyesuaikan diri hingga membuat orangtua dan guru kerepotan menanganinya.

Bukan sekadar rewel dan manja biasa, anak-anak dengan perilaku agresi dan sulit dikendalikan ini bisa jadi menderita gangguan yang dinamakan oppositional defiant disorder (ODD).

Berikut ini Popmama.com merangkum gejala dan bagaimana orangtua dapat menangani anak dengan ODD.

1. Apa itu Opposite Defiant Disorder (ODD)?

1. Apa itu Opposite Defiant Disorder (ODD)
Freepik/Alexander-safonov

Opposite Defiant Disorder (ODD) adalah gangguan perilaku yang meresahkan pada anak dan remaja, yang ditandai dengan pola perilaku yang sulit diatur dan argumentatif serta sikap membangkang. Ada kesan bahwa anak sangat manja dan sensitif berlebihan.

Penjelasan di atas merupakan pengertian ODD dari laman Psychology Today.

Beberapa orangtua sulit mengenali ODD dan memandang perilaku anak sebagai anak yang keras kepala, emosional dan manja.

Akan tetapi, perilaku anak dengan ODD jauh lebih ekstrem dan lebih mengganggu daripada biasanya.

ODD memengaruhi sekitar 3 persen anak-anak di seluruh dunia dan lebih sering terjadi pada anak laki-laki daripada perempuan.

Biasanya gangguan ini tampak pada anak yang beranjak memasuki usia sebelum remaja.

2. Penyebab anak mengalami ODD

2. Penyebab anak mengalami ODD
bkreader.com

Penyebab pasti ODD tidaklah dapat dipastikan. Biasanya tidak terjadi akibat satu faktor saja, melainkan campuran dari faktor biologis, sosial, dan psikologis.

Faktor risiko lain yang dinilai turut menyebabkan ODD adalah kondisi ekonomi keluarga yang sulit (walaupun sebetulnya ODD juga dapat terjadi dalam keluarga dengan status ekonomi apapun), mengalami transisi dari peristiwa traumatis, memiliki orangtua dengan gangguan perilaku, kecanduan dan masalah perubahan suasana hati, orangtua yang terlalu disiplin, dan faktor-faktor ketidakstabilan keluarga lainnya. 

Sebuah studi menemukan bahwa anak yang berjuang dengan penerimaan teman sebaya juga rentan mengalami ODD.

Merasa terasingkan kadang bisa membuat seorang anak jadi terpicu dalam kondisi ODD.

3. Gejala anak dengan ODD

3. Gejala anak ODD
Pixabay.com/AnnaKovalchuk

Dilansir dari verywellmind.com, gejala ODD yang tampak pada anak, meliputi:

  • Mudah frustrasi
  • Mudah kesal terhadap suatu hal
  • Senang mengganggu orang lain
  • Suasana hati yang berubah-ubah dan kemarahan yang tak beralasan
  • Tidak patuh, bahkan terhadap perintah sederhana
  • Sering berbohong
  • Sering menimbulkan konflik

Anak dengan ODD tidak hanya berperilaku buruk di rumah, tetapi juga di lingkungan lainnya.

Anak dengan ODD menunjukkan perilaku yang cukup menantang bagi orangtua dan pengajarnya. Mereka menunjukkan agresi dan sikap buruk yang disengaja.

Anak dengan ODD biasanya juga mengalami kesulitan berinteraksi secara tepat dengan teman sebaya dan orang dewasa, sehingga cenderung tidak diterima di lingkungan sosial. 

Editors' Picks

4. Bagaimana menghadapi anak dengan ODD?

4. Bagaimana menghadapi anak ODD
parenting.firstcry.com

Penting mengintervensi ODD pada anak sedini mungkin. Terapis dapat membantu memperbaiki perilaku anak, dengan dukungan orangtua dan guru untuk memastikan efektivitas program perawatan. 

Langkah pertama dalam menangani masalah ini adalah membangun relasi yang positif antara anak dengan orangtuanya.

Menjadi sahabat bagi anak memang tidak mudah, namun untuk mengetahui apa yang diinginkan oleh anak, tentu orangtua harus menjadi sahabat bagi anak.

Sebagian besar perawatan ODD dimulai dengan melibatkan orangtua dengan anak dalam permainan yang dipimpin anak.

Hal ini akan memberikan penguatan dan keterlibatan positif antara anak dengan orangtua.

Setelah itu, orangtua perlu menetapkan aturan dan ekspektasi yang jelas terhadap perilaku anak, dan terapkan secara konsisten.

Salah satu caranya adalah dengan menerapkan rutinitas.

Anak dengan ODD harus tahu kapan saatnya mengerjakan tugas, bermain bersama orangtua untuk melenturkan kedekatan dan ikatan satu sama lain, makan malam, mandi, dan kapan waktu tidur. 

Peran Mama dan Papa sangat penting dalam pengaturan jadwal seperti ini.

5. Disiplin dan penghargaan terhadap anak ODD

5. Disiplin penghargaan terhadap anak ODD
Freepik/katemangostar

Salah satu langkah penting lain yang harus diterapkan adalah memberikan pujian dan penghargaan terhadap perilaku baik yang ditunjukkan anak. 

Perawatan memang akan sering berfokus pada satu-dua masalah perilaku, tetapi terapis akan menguatkan pada perilaku pro-sosial.

Misalnya, menjaga tangan dan kaki untuk diri sendiri, menyampaikan emosi dengan cara yang baik, dan lain-lain.

Gunakan sistem manajemen perilaku, misalnya stiker, token, atau bagan perilaku untuk menunjukkan kemajuan anak dalam mencapai tujuan.

Bila anak menunjukkan perilaku yang baik, berikan dukungan dan penghargaan, seperti pujian verbal, bonus waktu bermain, dan lain-lain.

Namun, jika anak melakukan kebalikan dari apa yang Mama minta, bersikaplah konsisten.

Tanpa emosi, nyatakan aturan apa yang dilanggar dan apa konsekuensi dari tindakannya tersebut. 

6. Apakah ODD bisa sembuh?

6. Apakah ODD bisa sembuh
Freepik

Sejauh ini, pemulihan ODD tidak dapat dipastikan. Sebagian anak dengan ODD akan mereda dengan sendirinya saat beranjak dewasa, sebagian lagi membawanya hingga usia dewasa. 

Dibutuhkan kerjasama antara orangtua, pihak sekolah dan profesional kesehatan mental untuk memenuhi kebutuhan kompleks anak ODD.

Dengan upaya koperatif semua pihak dan konsistensi sikap orangtua, niscaya akan meningkatkan peluang perubahan positif bagi anak-anak dengan ODD, terutama jika intervensi dimulai pada usia dini. 

Baca Juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.