Mengatasi Tantrum pada Anak

Tantrum terjadi karena terbatasnya kemampuan bahasa anak untuk mengekspresikan perasaannya. Sehingga mereka meluapkan emosinya dengan cara menangis, meronta, berteriak, menjerit, hingga menghentakkan kaki dan tangannya ke lantai. Pada beberapa kasus, tantrum juga bisa disebabkan oleh autisme.

Tantrum pada anak nggak boleh dibiarkan terus-menerus terjadi ya Ma, karena bisa menjadi kebiasaan buruk yang dapat memengaruhi perkembangannya. Saat anak mengalami tantrum, Mama harus tetap tenang dan jangan tersulut emosi, hingga berteriak atau memaksa anak untuk berhenti mengamuk. Mama juga bisa mengajak si kecil ke tempat yang lebih tenang. Setelah anak tenang, Mama bisa mulai mencari tahu apa penyebab tantrum tersebut. Mama bisa menanyakannya pada anak dengan lembut, anak mungkin akan mengangguk atau menggeleng.

Mama juga bisa mengalihkan perhatian anak untuk menghilangkan tantrum tersebut. Misalnya, dengan memberikan mainan kesukaannya atau memberikan camilan kesukaannya. Terpenting, jangan memukul atau mencubit anak ya, Ma. Hal tersebut justru akan ditiru anak nantinya. Mama bisa memeluk atau mencium si kecil untuk menenangkan emosinya. Apabila tantrum terlalu sering terjadi, atau bahkan sampai membuat anak menyakiti dirinya dan orang disekitar, Mama bisa berkonsultasi dengan dokter ya!

Komentar
Tantrum terjadi karena terbatasnya kemampuan bahasa anak untuk mengekspresikan perasaannya. Sehingga mereka meluapkan emosinya dengan cara menangis, meronta, berteriak, menjerit,....

Tantrum terjadi karena terbatasnya kemampuan bahasa anak untuk mengekspresikan perasaannya. Sehingga mereka meluapkan emosinya dengan cara menangis, meronta, berteriak, menjerit, hingga menghentakkan kaki dan tangannya ke lantai. Pada beberapa kasus, tantrum juga bisa disebabkan oleh autisme.

Tantrum pada anak nggak boleh dibiarkan terus-menerus terjadi ya Ma, karena bisa menjadi kebiasaan buruk yang dapat memengaruhi perkembangannya. Saat anak mengalami tantrum, Mama harus tetap tenang dan jangan tersulut emosi, hingga berteriak atau memaksa anak untuk berhenti mengamuk. Mama juga bisa mengajak si kecil ke tempat yang lebih tenang. Setelah anak tenang, Mama bisa mulai mencari tahu apa penyebab tantrum tersebut. Mama bisa menanyakannya pada anak dengan lembut, anak mungkin akan mengangguk atau menggeleng.

Mama juga bisa mengalihkan perhatian anak untuk menghilangkan tantrum tersebut. Misalnya, dengan memberikan mainan kesukaannya atau memberikan camilan kesukaannya. Terpenting, jangan memukul atau mencubit anak ya, Ma. Hal tersebut justru akan ditiru anak nantinya. Mama bisa memeluk atau mencium si kecil untuk menenangkan emosinya. Apabila tantrum terlalu sering terjadi, atau bahkan sampai membuat anak menyakiti dirinya dan orang disekitar, Mama bisa berkonsultasi dengan dokter ya!

jadi normal ya ma? 

Tantrum terjadi karena terbatasnya kemampuan bahasa anak untuk mengekspresikan perasaannya. Sehingga mereka meluapkan emosinya dengan cara menangis, meronta, berteriak, menjerit,....

Tantrum terjadi karena terbatasnya kemampuan bahasa anak untuk mengekspresikan perasaannya. Sehingga mereka meluapkan emosinya dengan cara menangis, meronta, berteriak, menjerit, hingga menghentakkan kaki dan tangannya ke lantai. Pada beberapa kasus, tantrum juga bisa disebabkan oleh autisme.

Tantrum pada anak nggak boleh dibiarkan terus-menerus terjadi ya Ma, karena bisa menjadi kebiasaan buruk yang dapat memengaruhi perkembangannya. Saat anak mengalami tantrum, Mama harus tetap tenang dan jangan tersulut emosi, hingga berteriak atau memaksa anak untuk berhenti mengamuk. Mama juga bisa mengajak si kecil ke tempat yang lebih tenang. Setelah anak tenang, Mama bisa mulai mencari tahu apa penyebab tantrum tersebut. Mama bisa menanyakannya pada anak dengan lembut, anak mungkin akan mengangguk atau menggeleng.

Mama juga bisa mengalihkan perhatian anak untuk menghilangkan tantrum tersebut. Misalnya, dengan memberikan mainan kesukaannya atau memberikan camilan kesukaannya. Terpenting, jangan memukul atau mencubit anak ya, Ma. Hal tersebut justru akan ditiru anak nantinya. Mama bisa memeluk atau mencium si kecil untuk menenangkan emosinya. Apabila tantrum terlalu sering terjadi, atau bahkan sampai membuat anak menyakiti dirinya dan orang disekitar, Mama bisa berkonsultasi dengan dokter ya!

biasanya sampai umur berapa ya ma?

group-image
Tantrum terjadi karena terbatasnya kemampuan bahasa anak untuk mengekspresikan perasaannya. Sehingga mereka meluapkan emosinya dengan cara menangis, meronta, berteriak, menjerit,....

Tantrum terjadi karena terbatasnya kemampuan bahasa anak untuk mengekspresikan perasaannya. Sehingga mereka meluapkan emosinya dengan cara menangis, meronta, berteriak, menjerit, hingga menghentakkan kaki dan tangannya ke lantai. Pada beberapa kasus, tantrum juga bisa disebabkan oleh autisme.

Tantrum pada anak nggak boleh dibiarkan terus-menerus terjadi ya Ma, karena bisa menjadi kebiasaan buruk yang dapat memengaruhi perkembangannya. Saat anak mengalami tantrum, Mama harus tetap tenang dan jangan tersulut emosi, hingga berteriak atau memaksa anak untuk berhenti mengamuk. Mama juga bisa mengajak si kecil ke tempat yang lebih tenang. Setelah anak tenang, Mama bisa mulai mencari tahu apa penyebab tantrum tersebut. Mama bisa menanyakannya pada anak dengan lembut, anak mungkin akan mengangguk atau menggeleng.

Mama juga bisa mengalihkan perhatian anak untuk menghilangkan tantrum tersebut. Misalnya, dengan memberikan mainan kesukaannya atau memberikan camilan kesukaannya. Terpenting, jangan memukul atau mencubit anak ya, Ma. Hal tersebut justru akan ditiru anak nantinya. Mama bisa memeluk atau mencium si kecil untuk menenangkan emosinya. Apabila tantrum terlalu sering terjadi, atau bahkan sampai membuat anak menyakiti dirinya dan orang disekitar, Mama bisa berkonsultasi dengan dokter ya!

yang penting mommy harus tenang ketika anak sedang tantrum agar anak bisa lebih tenang dan tidak tantrum lagi ya. 

Tantrum terjadi karena terbatasnya kemampuan bahasa anak untuk mengekspresikan perasaannya. Sehingga mereka meluapkan emosinya dengan cara menangis, meronta, berteriak, menjerit,....

Tantrum terjadi karena terbatasnya kemampuan bahasa anak untuk mengekspresikan perasaannya. Sehingga mereka meluapkan emosinya dengan cara menangis, meronta, berteriak, menjerit, hingga menghentakkan kaki dan tangannya ke lantai. Pada beberapa kasus, tantrum juga bisa disebabkan oleh autisme.

Tantrum pada anak nggak boleh dibiarkan terus-menerus terjadi ya Ma, karena bisa menjadi kebiasaan buruk yang dapat memengaruhi perkembangannya. Saat anak mengalami tantrum, Mama harus tetap tenang dan jangan tersulut emosi, hingga berteriak atau memaksa anak untuk berhenti mengamuk. Mama juga bisa mengajak si kecil ke tempat yang lebih tenang. Setelah anak tenang, Mama bisa mulai mencari tahu apa penyebab tantrum tersebut. Mama bisa menanyakannya pada anak dengan lembut, anak mungkin akan mengangguk atau menggeleng.

Mama juga bisa mengalihkan perhatian anak untuk menghilangkan tantrum tersebut. Misalnya, dengan memberikan mainan kesukaannya atau memberikan camilan kesukaannya. Terpenting, jangan memukul atau mencubit anak ya, Ma. Hal tersebut justru akan ditiru anak nantinya. Mama bisa memeluk atau mencium si kecil untuk menenangkan emosinya. Apabila tantrum terlalu sering terjadi, atau bahkan sampai membuat anak menyakiti dirinya dan orang disekitar, Mama bisa berkonsultasi dengan dokter ya!

Mama harus bisa ngontrol emosi anak juga 

POPMAMA-Community-search
POPMAMA-Community
We couldn't find any result for
Baby Name keywords
POPMAMA-Community
We couldn't find any result for
Baby Name keywords
POPMAMA-Community
We couldn't find any result for
Baby Name keywords
POPMAMA-Community
We couldn't find any result for
Baby Name keywords