Pexels/https://kaboompics.com/
Menghentikan kebiasaan melarang anak menangis memang membutuhkan latihan. Sebagai solusinya, Dr. Cathryn merekomendasikan Mama untuk mengganti kata "jangan menangis" dengan kalimat-kalimat empati yang memvalidasi emosi si Kecil.
Tujuan dari kalimat validasi ini bukanlah membuat anak seketika diam, ya. Melainkan memberi tahu anak mama bahwa ia didengar, dipahami, dan didampingi saat emosinya sedang meluap.
Berikut beberapa contoh kalimat rekomendasi dari Dr. Cathryn:
"Nggak apa-apa kalau merasa sedih"
Kalimat ini menegaskan kepada anak bahwa emosi sedih adalah hal yang tidak perlu disembunyikan atau ditakuti.
"Semua perasaan itu wajar, kok"
Memberikan pemahaman bahwa tidak ada emosi yang "salah", sehingga anak tidak merasa bersalah saat merasa kecewa.
"Beri tahu Mama kalau kamu sudah siap untuk dipeluk, ya"
Memberikan kenyamanan fisik tanpa memaksa anak yang mungkin masih butuh ruang saat emosional.
"Mama ada di sini kalau kamu butuh bantuan"
Menegaskan kehadiran orangtua sebagai tempat aman saat anak merasa kewalahan menghadapi masalahnya.
Dr. Cathryn mengingatkan untuk menyampaikannya dengan nada suara yang tenang, posisi tubuh sejajar dengan mata anak, dan tanpa gestur terburu-buru.
Itulah alasan mengapa Mama tidak boleh melarang anak menangis. Dengan menerapkan bimbingan dari Dr. Cathryn, pelan-pelan latih diri untuk menghentikan ucapan "jangan menangis" dan menggantinya dengan dekapan hangat serta kalimat validasi.
Bagaimana dengan Mama? Kalimat apa yang biasanya paling ampuh untuk menenangkan saat ia sedang menangis atau tantrum di rumah?