Mengorok atau mendengkur terjadi ketika aliran udara di saluran pernapasan bagian atas si Kecil terhambat sebagian saat ia tertidur.
Nah, suara yang anak keluarkan berasal dari getaran jaringan di area tenggorokan. Berikut 6 faktor utama yang dapat memicu kondisi mengorok pada anak, diantaranya:
Pembesaran amandel dan adenoid. Ini adalah penyebab yang paling banyak ditemui pada anak, Ma. Ukuran amandel atau kelenjar adenoid yang membengkak dapat mempersempit jalan napas saat si Kecil terlelap.
Anak mengalami flu atau pilek. Saat anak batuk atau pilek, penumpukan lendir membuat hidungnya tersumbat. Kondisi ini memaksa anak bernapas lewat mulut sehingga timbul suara mengorok yang sifatnya sementara.
Rinitis alergi. Alergi terhadap debu, tungau, atau bulu hewan juga dapat memicu peradangan pada lapisan hidung. Akibatnya, hidung tersumbat secara berkepanjangan dan memicu kebiasaan mengorok.
Berat badan berlebih atau obesitas. Penumpukan jaringan lemak ekstra di sekitar leher dan tenggorokan dapat menekan saluran pernapasan, sehingga memperbesar risiko anak mengorok saat tidur.
Struktur rahang anak. Bentuk rahang bawah yang agak kecil atau langit-langit mulut yang tinggi juga bisa memengaruhi kelancaran aliran udara, meski kasus ini lebih jarang terjadi.
Kondisi medis spesifik. Anak dengan kondisi neuromuskular atau kelainan genetik tertentu, seperti Down syndrome memiliki tonus otot yang lebih lemah, sehingga saluran napasnya lebih mudah menyempit saat tidur.
Mama, menurut dr. Sri jika anak mengorok sesekali karena 6 faktor diatas dan sifatnya sementara, tandanya masih di tahap normal. Namun, bila ia mengorok hampir setiap malam atau malah disertai gejala lainnya, bisa menjadi tanda bahwa si Kecil alami Sleep Apnea.