Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Anak sering Mengorok saat Tidur, Haruskah Mama Khawatir?
Pexels/Atlantic Ambience
  • Mengorok pada anak terjadi akibat hambatan sebagian saluran napas atas, dipicu antara lain pembesaran amandel-adenoid, pilek, alergi, berat badan berlebih, struktur rahang, atau kondisi medis tertentu.
  • Dengkuran sesekali dan sementara umumnya normal, tetapi dengkuran hampir setiap malam disertai jeda napas, terengah, tidur gelisah, bernapas lewat mulut, mengompol, atau perubahan perilaku dapat menandakan sleep apnea.
  • Sleep apnea dapat menurunkan kualitas tidur, konsentrasi, emosi, dan pertumbuhan serta meningkatkan risiko gangguan jantung; konsultasikan ke dokter anak bila dengkuran menetap atau muncul tanda kesulitan bernapas.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Saat anak tertidur pulas sampai terdengar mengorok, biasanya apa yang Mama lakukan? Mengorok pada anak ternyata tidak selalu menandakan ia tidur nyenyak, lho, Ma.

Dalam unggahan konten edukasinya di instagram @dr.sri_rezeki.spak, Prof. Dr. dr Sri Rezeki Hadinegoro, Sp.A(K) membagikan edukasi penting mengenai anak mendengkur saat tidur.

Dr. Sri menjelaskan bahwa mengorok yang terjadi terus-menerus dapat menjadi sinyal gangguan pernapasan serius seperti Sleep Apnea. Supaya Mama tidak salah langkah, berikut sudah Popmama.com rangkum informasi mengenai anak sering mengorok saat tidur. Disimak ya!

Penyebab Anak Mengorok

Pexels/Andrea Piacquadio

Mengorok atau mendengkur terjadi ketika aliran udara di saluran pernapasan bagian atas si Kecil terhambat sebagian saat ia tertidur.

Nah, suara yang anak keluarkan berasal dari getaran jaringan di area tenggorokan. Berikut 6 faktor utama yang dapat memicu kondisi mengorok pada anak, diantaranya:

  • Pembesaran amandel dan adenoid. Ini adalah penyebab yang paling banyak ditemui pada anak, Ma. Ukuran amandel atau kelenjar adenoid yang membengkak dapat mempersempit jalan napas saat si Kecil terlelap.

  • Anak mengalami flu atau pilek. Saat anak batuk atau pilek, penumpukan lendir membuat hidungnya tersumbat. Kondisi ini memaksa anak bernapas lewat mulut sehingga timbul suara mengorok yang sifatnya sementara.

  • Rinitis alergi. Alergi terhadap debu, tungau, atau bulu hewan juga dapat memicu peradangan pada lapisan hidung. Akibatnya, hidung tersumbat secara berkepanjangan dan memicu kebiasaan mengorok.

  • Berat badan berlebih atau obesitas. Penumpukan jaringan lemak ekstra di sekitar leher dan tenggorokan dapat menekan saluran pernapasan, sehingga memperbesar risiko anak mengorok saat tidur.

  • Struktur rahang anak. Bentuk rahang bawah yang agak kecil atau langit-langit mulut yang tinggi juga bisa memengaruhi kelancaran aliran udara, meski kasus ini lebih jarang terjadi.

  • Kondisi medis spesifik. Anak dengan kondisi neuromuskular atau kelainan genetik tertentu, seperti Down syndrome memiliki tonus otot yang lebih lemah, sehingga saluran napasnya lebih mudah menyempit saat tidur.

Mama, menurut dr. Sri jika anak mengorok sesekali karena 6 faktor diatas dan sifatnya sementara, tandanya masih di tahap normal. Namun, bila ia mengorok hampir setiap malam atau malah disertai gejala lainnya, bisa menjadi tanda bahwa si Kecil alami Sleep Apnea.

Tanda Sleep Apnea pada Anak

Pexels/Gianni Orefice

Anak mengorok sesekali saat tidur mungkin tidak berbahaya. Namun, perlu diwaspadai adanya risiko OSA (Obstructive Sleep Apnea) atau Sleep Apnea pada anak.

Mengutip dari paparan dr. Sri, ada beberapa gejala khas Sleep Apnea pada anak yang patut diketahui, yaitu;

  • Sering mengorok hampir setiap malam. Dengkuran terdengar keras dan terjadi secara rutin, bukan hanya saat anak sedang flu atau batuk.

  • Nafas anak terengah-engah. Anak tampak berhenti bernapas selama beberapa detik, lalu terbangun kaget dengan suara terengah-engah, tersedak, atau mendengus untuk menarik napas kembali.

  • Tidurnya gelisah. Anak sering berganti posisi tidur secara ekstrem, menengadahkan kepala ke belakang secara tidak alami untuk membuka jalan napas, atau berkeringat secara berlebihan saat tidur.

  • Bernapas melalui mulut. Anak cenderung selalu bernapas lewat mulut, baik saat tidur maupun ketika beraktivitas di siang hari, karena saluran hidungnya yang tersumbat.

  • Mengompol. Anak yang tadinya sudah lulus potty training mendadak sering mengompol lagi di malam hari akibat tidur yang terganggu.

  • Perubahan perilaku di siang hari. Karena kualitas tidurnya buruk, anak sering terlihat sangat mengantuk, sulit berkonsentrasi, menjadi hiperaktif, atau rewel dan gampang marah di siang hari.

Dampak Sleep Apnea pada Anak

Pexels/Allan Mas

Kebiasaan mengorok yang sering dialami anak saat tidur akan berpengaruh pada kualitas tidurnya, Ma. Padahal, menurut SleepFoundation tidur memiliki peran terhadap kemampuan kognitif anak.

Bila hal ini terjadi terus-menerus, tentunya akan berdampak panjang pada kesehatan fisik maupun tumbuh kembangnya. Berikut beberapa dampak buruk yang dapat dialami anak mama:

  • Tidur anak menjadi tidak berkualitas

  • Anak jadi sulit berkonsentrasi saat belajar

  • Perubahan emosi pada anak

  • Pertumbuhan anak jadi kurang optimal

  • Pada kasus tertentu meningkatkan risiko gangguan jantung

Kapan Anak Harus Segera ke Dokter?

Pexels/Los Muertos Crew

Sesuai dengan arahan dr. Sri, Mama disarankan untuk segera membawa anak berkonsultasi ke dokter spesialis anak apabila menemukan tanda-tanda berikut:

  • Mengorok hampir setiap malam. Dengkuran berlangsung secara konsisten dan berlanjut meski anak tidak sedang flu atau batuk.

  • Tampak berhenti bernafas ketika tidur. Anak mengalami jeda nafas yang diikuti dengan suara terengah-engah, mendengus, atau terbangun kaget.

  • Tidur gelisah dan kesulitan bernapas. Anak sering berganti posisi secara ekstrem atau selalu menengadahkan kepala ke belakang agar bisa bernapas.

  • Mengantuk berlebihan di siang hari. Si Kecil terlihat sangat lesu, mudah lelah, sulit berkonsentrasi saat belajar, atau mengalami perubahan perilaku yang signifikan

Langkah Pencegahan di Rumah

Pexels/Barbara Olsen

Untuk membantu meringankan gejala mengorok serta menjaga kualitas tidur anak mama tetap optimal, lakukan beberapa perawatan mandiri ini di rumah:

  • Atasi pilek dan alergi secara tepat

  • Jaga berat badan ideal anak

  • Ciptakan lingkungan bebas asap rokok di rumah

  • Gunakan Humidifier

  • Terapkan rutinitas tidur yang teratur

  • Batasi screentime menjelang tidur

  • Hindari penggunaan obat tanpa resep dokter

Menjaga kesehatan dan kualitas tidur anak adalh tanggungjawab orangtua. Jangan ragu untuk segera berkonsultasi ke dokter, bila Mama melihat tanda-tanda tersebut. Semoga artikel ini bermanfaat ya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article