Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Anak Tetap GTM Meski Sudah Melakukan Sensory Play? Simak Penjelasannya
Popmama.com/Raisha Nurul Riza/AI
  • Sensory play mendukung perkembangan motorik dan sensorik anak, tetapi bukan solusi instan untuk GTM karena masalah makan tidak dapat ditangani dengan satu stimulasi saja.

  • GTM bersifat multifaktorial, dipengaruhi sensitivitas tekstur, kondisi kesehatan, suasana hati, dan cara pemberian makan, sehingga perlu evaluasi menyeluruh untuk menentukan penanganan tepat.

  • Paparan sensorik yang relevan dilakukan lewat interaksi langsung dengan makanan: melihat, menyentuh, mencium, hingga mencoba secara bertahap tanpa paksaan dan sesuai kecepatan adaptasi anak.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Menghadapi anak yang GTM (Gerakan Tutup Mulut) tentu menjadi tantangan tersendiri bagi para Mama, ya.

Berbagai cara sudah dilakukan demi meningkatkan nafsu makan si Kecil.

Sudah diberikan vitamin tambahan hingga melakukan sensory play, tapi tidak membuahkan hasil.

Sering kali Mama bertanya-tanya mengapa anak masih saja GTM saat waktu makan tiba.

Padahal, Mama dan Papa sudah berusaha semaksimal mungkin memberikan stimulasi terbaik.

Kegiatan seperti bermain pasir, tepung, beras, hingga berjalan di atas rumput sudah menjadi aktivitas pendukung tumbuh kembang sensorik mereka. 

Memiliki ekspektasi gapapa banget kok, Ma.

Tapi pasti Mama kecewa bahwa stimulasi tersebut tidak langsung melenyapkan masalah GTM pada anak.

Menurut penjelasan dr. Putu Satya Pratiwi, Sp.A, melalui ulasannya di Instagram @dokteranakbunda, ada sudut pandang yang perlu diluruskan terkait hubungan antara sensory play dan masalah GTM, lho.

Maka dari itu, Popmama.com telah merangkum alasan si Kecil tetap GTM meski sudah melakukan sensory play, simak penjelasannya ya, Ma!

1. Penting memahami hubungan antara GTM dengan sensory play

Popmama.com/Raisha Nurul Riza/AI

Banyak orangtua mengira bahwa sensory play adalah solusi instan untuk mengatasi masalah Gerakan Tutup Mulut pada anak. 

Padahal Ma, sensory play bukanlah terapi yang bisa langsung menyembuhkan kebiasaan GTM si Kecil. 

Aktivitas seperti bermain pasir atau tepung memang sangat baik untuk melatih saraf motorik dan sensorik anak. 

Akan tetapi, masalah makan pada anak bersifat sangat kompleks, lho.

Jadi GTM tidak bisa diselesaikan hanya dengan satu jenis stimulasi saja. 

Oleh karena itu, Mama tidak perlu merasa kecil hati jika anak tetap GTM meskipun sudah sering diajak bermain sensorik, ya.

2. GTM bersifat multifaktorial dan perlu evaluasi mendalam

Popmama.com/Raisha Nurul Riza/AI

Masalah GTM atau susah makan pada anak bukanlah sesuatu yang disebabkan oleh satu faktor tunggal saja, Ma.

Sensitivitas terhadap tekstur memang bisa menjadi salah satu pemicu mengapa anak menolak makanan tertentu. 

Namun, ada banyak faktor lain yang memengaruhinya, lho.

Seperti kondisi kesehatan, suasana hati, hingga cara pemberian makan. 

Menyadari sifat multifaktorial ini akan membantu Mama untuk mengerti kondisi ketika anak menolak makan. 

Penanganan GTM harus dilihat secara holistik agar solusi yang diberikan kepada si Kecil benar-benar tepat sasaran, Ma!

3. Pentingnya sensory exposure yang relevan dengan makanan

Popmama.com/Raisha Nurul Riza/AI

Jika target utama Mama adalah membantu anak agar mau menerima makanan, maka bentuk paparan sensorik yang diberikan harus relevan, Ma. 

Stimulasi yang paling tepat adalah mendekatkan anak secara langsung pada makanan yang akan mereka konsumsi sehari-hari. 

Anak perlu diberikan kesempatan untuk melihat, menyentuh, hingga meremas makanan mereka sendiri tanpa adanya unsur paksaan, ya. 

Proses pengenalan ini jauh lebih efektif untuk membangun ketertarikan anak mama.

Dibandingkan sekadar bermain dengan benda-benda non-makanan, terlebih di luar jam makan si Kecil.

4. Tahapan interaksi alami anak dengan makanan barunya

Popmama.com/Raisha Nurul Riza/AI

Mengenalkan makanan baru kepada anak yang mengalami GTM tentu memerlukan kesabaran tingkat tinggi dari orangtua. 

Proses belajar ini dimulai dari tahap melihat makanan, memegang langsung, mencium aromanya, hingga mencoba menjilat atau menggigitnya. 

Seluruh rangkaian proses eksplorasi ini tidak harus terjadi secara instan dalam satu kali waktu makan ya, Ma. 

Mama harus paham bahwa setiap anak memiliki kecepatan beradaptasi yang berbeda-beda!

Terlebih ketika si Kecil menerima hal baru di piringnya.

5. Orangtua penting mengontrol ekspektasi pada anak

Popmama.com/Raisha Nurul Riza/AI

Ma, tahapan di atas bukan berarti kegiatan sensory play yang selama ini Mama lakukan bersama si Kecil menjadi sia-sia. 

Ketika anak bermain tepung, beras, atau rumput itu tetap memberikan manfaat bagi proses eksplorasi tumbuh kembang anak. 

Mama perlu mengetahui hal yang perlu diluruskan, yaitu ekspektasi.

Mama maupun Papa perlu mengetahui bahwa ekspektasi tidak selalu berjalan dengan sesuai.

Jadi, tetap semangat untuk mendampingi si Kecil dan teruslah berproses bersama dengan penuh kesabaran setiap harinya, ya.

Melalui pemahaman yang lebih objektif ini, Mama dan Papa bisa merasa lebih tenang dan tidak mudah stres saat menghadapi anak yang sedang mengalami GTM, deh.

Itu dia, alasan si Kecil tetap GTM meski sudah melakukan sensory play, simak penjelasannya ya, Ma!

Setiap usaha pengenalan dan stimulasi yang Mama berikan tetap memiliki andil positif dalam proses tumbuh kembang si Kecil, kok.

Mari terus membersamai anak dengan penuh cinta, kesabaran, serta ekspektasi yang realistis demi kesehatan optimal mereka.

Curated For You

Editorial Team

Related Article