Melihat si Kecil mogok makan atau melakukan Gerakan Tutup Mulut (GTM) sering kali membuat Mama stres dan langsung mencoba berbagai macam menu baru di rumah.
Anak Sering GTM? Ini Dampak dan Hubungannya dengan Pencernaan!

dr. Herlin Ramadhanti menjelaskan bahwa GTM pada si Kecil sering kali berkaitan dengan gangguan pencernaan, bukan sekadar kebiasaan pilih-pilih makanan atau bosan terhadap menu harian.
Masalah pencernaan dapat memicu gejala fisik seperti diare, perut kembung, penurunan daya tahan tubuh, gangguan tidur, hingga perubahan mood dan perilaku tantrum pada anak.
Pemulihan dilakukan melalui pembatasan konsumsi terigu, penerapan pola makan real food tinggi protein hewani, aktivitas fisik sesuai usia, serta keteladanan gaya hidup sehat dari orangtua.
Namun, melalui edukasi penting di akun Instagram pribadinya, @dr.herlin.ramadhanti, dr. Herlin Ramadhanti mengungkapkan fakta medis yang sering terlewatkan oleh orangtua.
Kondisi tubuh si Kecil sebenarnya saling terhubung erat satu sama lain, di mana kesehatan organ pencernaan, kualitas tidur, kondisi mood, hingga naik-turunnya nafsu makan anak selalu berjalan beriringan..
Berikut Popmama.com membahas kasus gangguan pencernaan anak serta panduan pemulihannya langsung dari dr. Herlin Ramadhanti!
Table of Content
1. Sinyal awal masalah pencernaan yang sering dikira GTM biasa

Kasus yang dialami oleh anak ini awalnya menunjukkan gejala yang sangat familier di mata para orangtua, yaitu anak sering kali mengalami Gerakan Tutup Mulut (GTM).
Sang anak memiliki kebiasaan suka melepeh makanan yang sudah disuapkan ke dalam mulutnya, hingga berujung pada kondisi diare.
Sinyal-sinyal penolakan ini sering kali salah diartikan oleh lingkungan sekitar sebagai fase pilih-pilih makanan (picky eater) atau kebosanan biasa, padahal sebenarnya organ pencernaan di dalam perut sang anak sedang memberikan tanda bahwa ada sesuatu yang tidak beres dan membuat dirinya merasa sangat tidak nyaman setiap kali ada makanan yang masuk.
2 Keluhan fisik lain pada tubuh anak akibat saluran cerna yang sensitif

Ketidaknyamanan pada sistem pencernaan anak tersebut ternyata memicu munculnya berbagai keluhan fisik lain yang menyiksa tubuhnya.
Selain mogok makan, anak didapati menjadi sangat sering kentut sebagai tanda penumpukan gas di perut, memiliki riwayat diare yang berulang, hingga menjadi lebih rentan terkena serangan batuk pilek karena daya tahan tubuhnya menurun.
Hal ini membuktikan bahwa saluran pencernaan yang tidak sehat akan melemahkan sistem imun anak secara keseluruhan, sehingga tubuh anak menjadi sangat sensitif dan mudah sekali terserang penyakit menular dari lingkungan sekitarnya.
3. Gangguan kualitas tidur malam dan perubahan mood anak

Rasa tidak nyaman di dalam perut anak tersebut akhirnya membawa efek domino yang merusak pola istirahat serta kestabilan emosinya sehari-hari.
Anak menjadi sering tidur gelisah, sangat mudah terbangun di tengah malam, dan kerap menunjukkan perilaku tantrum atau marah-marah secara mendadak di siang hari tanpa adanya alasan yang jelas.
4. Drama menangis saat BAB dan ketergantungan menyusu

Kondisi pencernaan yang buruk berujung pada drama yang menyakitkan setiap kali sang anak mendapatkan refleks untuk mengosongkan perutnya.
Bahkan saat mau buang air besar (BAB), anak akan menangis histeris karena menahan rasa sakit atau perih di perutnya, dan ia baru bisa ditenangkan hingga akhirnya berhasil mengeluarkan feses setelah diberikan ASI atau menyusu kepada Mamanya.
5. Evaluasi konsumsi terigu dan pengoptimalan menu real food

Dari hasil evaluasi pola makan harian, ditemukan fakta bahwa anak masih cukup banyak mengonsumsi makanan yang berbahan dasar tepung terigu, yang mana jenis makanan ini harus segera dibatasi ketika pencernaan anak belum nyaman.
dr. Herlin menyarankan untuk memperbaiki kondisi perut anak secara total dengan menerapkan pola makan baru yang berbasis full real food atau makanan utuh tanpa proses pabrikan yang panjang.
Selain itu, pastikan Mama mengoptimalkan porsi protein hewani berkualitas tinggi dalam menu harian anak guna mempercepat pemulihan dinding saluran cerna yang bermasalah.
6. Pengaturan aktivitas fisik sesuai usia dan pemberian suplementasi

Proses penyembuhan fisik anak harus didukung secara menyeluruh dari luar dan dalam tubuh melalui aktivitas harian yang terstruktur dengan baik.
Pastikan anak mendapatkan porsi aktivitas fisik atau stimulasi bergerak yang aktif dan sesuai dengan tahapan usianya saat ini, karena gerakan motorik yang aktif dapat membantu melancarkan sistem peristaltik usus anak.
Di samping perbaikan aktivitas gerak tersebut, berikan pula suplementasi tambahan yang aman dan sesuai dengan kebutuhan nutrisi tubuh anak setelah melakukan konsultasi medis secara tepat.
7. Keteladanan gaya hidup sehat orangtua

Keberhasilan pemulihan kesehatan pencernaan anak sangat bergantung pada lingkungan rumah dan kebiasaan makanan yang dicontohkan oleh orangtuanya sendiri secara konsisten.
Mama dan Papa wajib mengonsumsi makanan yang sehat di rumah karena anak memiliki insting alami untuk selalu mengikuti dan meniru apa yang dimakan oleh orang terdekatnya.
“Kalau orangtua terbiasa makan sehat, anak akan melihat. Kalau orangtua terbiasa hidup sehat, anak akan mencontoh. Dan kebiasaan itu, bisa terbawa hingga dewasa,” tulis dr. Herlin.
Melalui komitmen perbaikan pola makan yang disiplin, hasil mulai terlihat pada perkembangan anak. Nafsu makannya berangsur membaik dan mulai lahap, bentuk BAB menjadi lebih padat serta solid, kandungan serat pada pup mulai berkurang, bahkan berat badan anak berhasil naik secara signifikan dari yang tadinya hanya 8,75 kg kini melonjak menjadi 9,7 kg.
Melihat pentingnya menjaga kesehatan perut si Kecil demi menghindari GTM berkepanjangan seperti kasus di atas, langkah sehat apa saja yang sudah Mama mulai terapkan di meja makan rumah hari ini?





















