Hari Autisme Sedunia! Ini 7 Cara Terapi Autisme Mandiri di Rumah

Terapi sederhana ini akan melatih kemampuan komunikasi dan interaksi mereka

3 April 2020

Hari Autisme Sedunia Ini 7 Cara Terapi Autisme Mandiri Rumah
Freepik

Mama pasti sudah sering mendengar istilah autisme. Pada tanggal 2 April diperingati sebagai Hari Peduli Autisme Sedunia atau World Autism Awareness Day (WAAD). Keputusan tersebut merupakan gagasan dari Majelis Umum Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) pada 18 Desember 2007.

Peringatan Hari Peduli Autisme ini bertujuan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat tentang gangguan spektrum autis termasuk autisme dan sindrom Asperger di seluruh dunia. Dengan adanya peringatan ini, PBB berharap banyak orang yang lebih peduli dengan isu kesehatan tersebut.

Autisme merujuk pada gangguan perkembangan otak yang memengaruhi kemampuan komunikasi dan interaksi dari pemilik gangguan tersebut. 

Anak dengan autisme juga sangat mungkin mengalami gangguan perilaku. Menurut data dari World Health Organization, autisme terjadi pada satu dari 160 anak di dunia.

Sayangnya meski angka ini cukup tinggi, dunia medis belum menemukan cara untuk menyembuhkan autisme secara keseluruhan.

Namun, autisme bukanlah akhir dari segalanya. Dengan memberikan terapi yang tepat, anak penderita autisme tetap bisa hidup dan berinteraksi selayaknya anak-anak lain.

Bahkan, tidak jarang mereka menorehkan prestasi yang membanggakan lho, Ma. Berikut beberapa terapi mandiri yang bisa Mama lakukan di rumah:

1. Melatih anak bertanggung jawab dan mandiri dengan jadwal

1. Melatih anak bertanggung jawab mandiri jadwal
Pexels/Bich Tran

Tanggung jawab dan kemandirian adalah hal yang sangat diperlukan ketika terjun ke masyarakat nantinya. Mama bisa melatih kedua hal ini sejak dini dengan membuat jadwal yang harus anak patuhi.

Tentukan jadwal untuk rutinitasnya, seperti kapan anak harus bangun tidur, merapikan kamar, mandi, atau makan. Dengan cara ini, mereka akan belajar untuk bertanggung jawab dan mandiri.

Berikan pujian ketika anak berhasil memenuhi jadwal mereka. Pujian akan menumbuhkan rasa percaya diri dan motivasi mereka.

Sebaliknya, jangan memarahi jika mereka belum berhasil. Lebih baik, arahkan dan bimbing mereka dengan sabar.

2. Terapi konsentrasi dengan kegiatan sederhana

2. Terapi konsentrasi kegiatan sederhana
Pexels/Rawpixel.com

Selain tanggung jawab dan kemandirian, hal lain yang perlu Mama latih adalah kemampuan anak berkonsentrasi. Mama bisa melatihnya dengan mengajak mereka melakukan kegiatan-kegiatan tertentu.

Mulailah dengan kegiatan yang mudah. Misalnya mencuci piring, merapikan meja, atau merapikan tempat tidur.

Selama kegiatan tersebut, selalu dampingi anak dan berikan petunjuk atau arahan sederhana.

Dengan cara ini, Mama juga bisa melihat kemampuan anak dalam menerima dan mencerna perintah.

Editors' Picks

3. Mengasah kemampuan berpikir dengan permainan

3. Mengasah kemampuan berpikir permainan
sheknows.com

Gangguan perkembangan otak juga membuat kemampuan berpikir penderita autisme terganggu. Alhasil, kemampuan mereka dalam belajar akan sedikit terhambat.

Supaya anak penderita autisme bisa belajar selayaknya anak-anak lain, tingkatkan kemampuan berpikir mereka sejak dini.

Berikan mereka permainan-permainan yang memang dirancang khusus untuk meningkatkan kemampuan berpikir. Contohnya seperti puzzle atau balok-balok dengan berbagai bentuk.

4. Melatih artikulasi agar mereka bisa berbicara dengan lancar

4. Melatih artikulasi agar mereka bisa berbicara lancar
bigthink.com

Seperti yang telah disebutkan, kemampuan komunikasi anak penderita autisme sedikit terhambat jika dibandingkan dengan anak lainnya.

Hal ini karena autisme juga mengganggu perkembangan saraf. Akibatnya, mereka kesulitan mengeluarkan artikulasi yang jelas.

Untuk memperjelas artikulasi mereka, Mama bisa mengajaknya menyebut kata yang sama berulang-ulang. Lakukan dengan sabar hingga mereka terbiasa.

Artikulasi yang jelas tentunya sangat membantu mereka untuk berkomunikasi dengan lancar.

5. Bacakan berbagai cerita untuk memperkaya kosakata mereka

5. Bacakan berbagai cerita memperkaya kosakata mereka
Pexels/Pixabay

Selain artikulasi, anak penderita autisme juga sulit berkomunikasi karena minimnya kosakata yang mereka miliki. Akibatnya, mereka sulit mengutarakan apa yang mereka pikirkan.

Nah, Mama bisa membacakan berbagai cerita agar kosakata mereka bertambah.

Bacakan satu cerita secara berulang-ulang sampai mereka mengingat kosakata baru yang ada dalam cerita tersebut. Jangan lupa untuk menjelaskan maknanya juga ya, Ma.

6. Merangsang anak dengan berbagai bentuk, tekstur, bau, dan rasa

6. Merangsang anak berbagai bentuk, tekstur, bau, rasa
Freepik/nitipong168

Langkah pertama untuk melatih kemampuan interaksi anak penderita autisme adalah dengan mengenalkannya ke benda-benda di sekitar.

Ajak mereka keluar rumah agar mereka bisa melihat dan mengenal cahaya, berbagai macam bau, dan berbagai macam suara.

Mama juga bisa memberikan berbagai macam makanan agar mereka mengenal berbagai macam rasa atau mengajaknya menyentuh benda-benda dengan berbagai macam tekstur.

Terapi ini sekaligus melatih keberanian mereka lho, Ma.

7. Mengenalkannya dengan dunia luar

7. Mengenalkan dunia luar
Freepik/Prostooleh

Tidak ada cara yang lebih baik untuk melatih kemampuan interaksi dan sosialisasi selain melakukannya secara langsung.

Mama bisa mengajak anak penderita autisme berjalan-jalan agar mereka mengenal dan terbiasa dengan orang lain. Namun, lakukan hal ini dengan perlahan agar anak tidak takut.

Selain itu, jangan ragu untuk mendaftarkan mereka ke sekolah ketika mereka sudah cukup umur.

Sekolah adalah lingkungan terbaik agar mereka bisa bersosialisasi dengan anak-anak seumuran mereka.

Itulah beberapa terapi autisme yang bisa Mama lakukan secara mandiri di rumah.

Kunci dari keberhasilan terapi-terapi tersebut adalah kesabaran. Ingat Ma, anak penderita autisme bukannya tidak mampu, mereka hanya membutuhkan waktu lebih untuk memahami dan menyesuaikan diri.

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.