Fakta Anak dengan Orangtua Depresi Berisiko Alami Depresi Lebih Tinggi

Penting untuk deteksi dini demi pencegahan gejala depresi karena tingkat kemungkinannya lebih tinggi

9 Juli 2020

Fakta Anak Orangtua Depresi Berisiko Alami Depresi Lebih Tinggi
Freepik/Shapovalphoto

Mengalami depresi prenatal dan postnatal mungkin dialami oleh beberapa Mama saat memiliki anak, namun para peneliti mengatakan Mama yang mengalami depresi lebih mungkin memiliki anak yang juga mengalami depresi seiring bertambahnya usia.

Anak dari Mama yang mengalami depresi perinatal memiliki risiko 70 persen lebih tinggi terkena depresi pada masa remaja dan dewasa.

Hasil dari penelitian dari JAMA Network Open menunjukkan bahwa banyak program diperlukan untuk merawat Mama saat menglami depresi prenatal dan postnatal.

Gaya hidup keluarga yang sehat juga dapat menurunkan risiko depresi untuk anak.

Untuk mengetahui informasi lebih lanjut, kali ini Popmama.com telah mengulas selengkapnya terkait fakta anak dengan orangtua depresi berisiko mengalami depresi lebih tinggi. Simak yuk, Ma!

1. Anak perempuan berisiku depresi 6 persen dibanding laki-laki yang orangtuanya mengalami depresi

1. Anak perempuan berisiku depresi 6 persen dibanding laki-laki orangtua mengalami depresi
Freepik

Kesimpulan dari penelitian baru yang diterbitkan di JAMA Network Open, mengatakan bahwa anak remaja perempuan dalam ditemukan memiliki risiko depresi 6 persen lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki yang orangtuanya mengalami depresi perinatal.

Sementara depresi perinatal adalah gejala kecemasan yang biasanya jelas dalam waktu dua minggu setelah melahirkan. Banyak perempuan alami bentuk depresi ini saat setelah melahirkan, bahkan bisa lebih dari 2 minggu pertama.

Dalam studi tersebut, para peneliti di Inggris dan Amerika Utara memeriksa data yang dikumpulkan dari hampir 16.000 pasangan Mama-Anak yang berusia 12 tahun ke atas.

Studi ini memerlukan penelitian tambahan mengenai penularan risiko depresi dan mengatasi pengurangan risiko dapat membuka jalan bagi strategi baru untuk mengurangi risiko gangguan depresi selama kehamilan.

2. Tercatat 60-80 persen Mama yang baru melahirkan mengalami baby blues

2. Tercatat 60-80 persen Mama baru melahirkan mengalami baby blues
Freepik

Menurut Dr. Roseann Capanna-Hodge, seorang psikolog dan pakar kesehatan mental anak di New York, depresi perinatal tak cukup hanya dibicarakan, masih ada banyak stigma yang melekat padanya.

Depresi perinatal sendiri mengacu pada depresi selama kehamilan atau depresi antenatal, serta dalam waktu 12 bulan setelah kehamilan atau yang disebut depresi pascanatal. Gangguan suasana hati ini berkisar dari ringan hingga parah dan dapat disembuhkan, menurut National Institute of Mental Health.

“Kami menggambarkan bahwa memiliki bayi yang baru lahir adalah sinar matahari dan mawar, tetapi 60 hingga 80 persen Mama baru akan mengalami 'baby blues' sehingga 10 hingga 20 persen akan mengalami depresi pascapersalinan klinis,” kata Dr. Roseann.

Ia juga menambahkan, untuk Mama baru, mereka seringkali merasa bersalah karena sedih setelah memiliki bayi yang sangat mereka inginkan dan beberapa bahkan mungkin tidak mengenali depresi mereka.

3. Anak belajar segala macam hal dari orangtua, dimulai sejak usia muda

3. Anak belajar segala macam hal dari orangtua, dimulai sejak usia muda
Freepik/prostooleh

Dr. Alexandra Stockwell, seorang pakar hubungan dan keintiman dan penulis, menjelaskan bagaimana faktor-faktor yang berpotongan mempengaruhi temuan ini.

"Budaya kita sangat kurang dalam apresiasi emosional, fisik, dan spiritual menjadi seorang Mama. Kami tidak lagi memahami pentingnya menjadi seorang Mama bagi diri sendiri, dan itu menciptakan berbagai jenis tantangan untuk anak-anak," kata Dr. Alexandra.

Ia pun menambahkan bahwa mamalia, termasuk manusia, belajar melalui peniruan.

"Anak belajar segala macam hal dari orangtua, dimulai sejak usia muda. Beberapa anak sudah bisa mengukur dan ada yang tidak, peniruan dapat dimulai segera" katanya.

Bahkan jika tidak ada kecenderungan genetik, dan pengaruh penting biologis atau fisiologis lainnya, anak yang dibesarkan oleh orangtua dengan gangguan mood sejak dini beresiko untuk merasa seperti itu juga."

4. Kualitas interaksi dan kepekaan Mama pada respons anak berdampak pada kesehatan otak anak

4. Kualitas interaksi kepekaan Mama respons anak berdampak kesehatan otak anak
freepik.com/freepik

Dr. Roseann mengatakan bahwa penelitian telah menunjukkan kualitas interaksi dan kepekannya seorang Mama terhadap respons anak memiliki dampak signifikan pada kesehatan otak.

"Lebih khusus lagi, penelitian telah menunjukkan ketika bayi mencoba untuk terlibat dengan seorang Mama yang menunjukkan respons yang datar dan dengan demikian tidak terlibat secara responsif terhadap interaksi bayi, hal ini menyebabkan bayi tertekan," katanya.

Ia pun menambahkan jika depresi mengganggu perkembangan regulasi emosi bayi dan dan menunjukkan implikasi jangka panjang dari depresi perinatal pada kesehatan mental anak.

Editors' Picks

5. Faktor biologis dan lingkungan dapat memengaruhi kesehatan mental perempuan

5. Faktor biologis lingkungan dapat memengaruhi kesehatan mental perempuan
Freepik/ipopba

Erin Sadler, PsyD, seorang psikolog klinis di Children's National Hospital di Washington, D.C, mengatakan faktor biologis dan lingkungan dapat memengaruhi kesehatan mental seorang perempuan, terutama dengan perubahan tubuh terkait kehamilan dan persalinan.

Memilih terapis yang terlatih saat mengalami depresi perinatal dapat melatih orangtua membuat dunia yang berbeda bagi Mama, anak, dan seluruh keluarga. Hal ini juga dapat mengurangi risiko pada depresi selama kehamilan.

Para ahli mengatakan, tindakan untuk menurunkan risiko depresi pada orang dewasa juga dapat diterapkan untuk membantu mengurangi risiko depresi Mama.

Seperti tidur yang cukup, nutrisi penuh, aktivitas, tetap terhidrasi, menghabiskan waktu di alam, dan meminta bantuan rekan atau profesional bila diperlukan.

6. Cara-cara tambahan untuk mengurangi risiko depresi bagi Mama dan anaknya

6. Cara-cara tambahan mengurangi risiko depresi bagi Mama anaknya
Freepik/Asmedvednikov

Erin Sadler mengatakan bahwa ada cara-cara tambahan untuk mengurangi risiko depresi bagi Mama dan anak.

"Dalam beberapa tahun terakhir, kami telah melihat keinginan besar untuk melakukan skrining pada Mama baru yang merasa depresi selama kehamilan, dan ini benar-benar awal yang baik," kata Erin.

Deteksi dini adalah bentuk vital dari intervensi dini bagi anak-anak juga. Penting untuk mengenali faktor-faktor risiko diri sendiri. Dapat dilakukan dengan anggota keluarga mengenai Riwayat kesehatan mental. Berikan perhatian khusus pada gangguan suasana hati dan kecemasan.

"Jujur. Waspada,”katanya.

Erin menambahkan dengan sistem perawatan yang komprehensif, seperti program kesehatan perilaku, perempuan hamil dapat menerima dukungan kesehatan mental bersama perawatan medis fisik mereka.

7. Mencakup pekerja profesional kesehatan mental yang berlisensi

7. Mencakup pekerja profesional kesehatan mental berlisensi
Freepik/Tirachardz

Ia juga mengatakan ini harus mencakup profesional kesehatan mental seperti pekerja sosial klinis yang berlisensi, psikolog, dan psikiater yang diintegrasikan ke dalam klinik kesehatan dan bekerja sebagai bagian dari tim perawatan.

"Selain itu, para Mama harus memiliki akses ke staf pendukung, seperti manajer kasus, yang dapat memastikan perawatan dan komunikasi keluarga untuk dukungan setelah melahirkan dan setelah kembali ke rumah," kata Erin.

Penting untuk dicatat bahwa dukungan ini tidak terbatas. Program-program ini dapat menghilangkan stres, membuat Mama lebih bersedia untuk memberikan perawatan emosional kepada anak serta mengurangi risiko depresi selanjutnya.

8. Tanda-tanda depresi pada anak yang mungkin terlewatkan atau disalahartikan

8. Tanda-tanda depresi anak mungkin terlewatkan atau disalahartikan
Freepik

Erin Saddler menjelaskan bahwa depresi seumur hidup tidak selalu terwujud dengan cara yang sama. Oleh karena itu, tanda-tanda depresi pada anak mungkin terlewatkan atau disalahartikan sebagai masalah lain.

“Ingatlah bahwa pengaturan emosi selama ini adalah proses pembelajaran. Karena itu, kami berharap anak-anak kecil menggambarkan berbagai emosi,”katanya.

Mengetahui tanda-tanda depresi selama tahap kehidupan anak sangat penting untuk intervensi dini.

Penelitian terbaru menunjukkan intervensi awal dapat membantu mengurangi risiko bunuh diri saat remaja dan dewasa. Erin mencantumkan tanda-tanda depresi berikut ini:

Bayi dan anak usia dini (usia 0–5)

  • Kesedihan yang berkepanjangan atau sering marah yang dikombinasikan dengan gangguan seperti tidur, nafsu makan yang buruk, dan sedikit aktivitas
  • Jarang terlibat, rendah, tanggung jawab, dan timbal balik dengan pengasuh dan orang lain
  • Pencapaian yang tertunda atau perkembangan yang terlambat

Masa kecil

  • Menyatakan rasa bersalah atau harga diri rendah dan kemanjuran diri
  • Keluhan somatik, seperti sakit kepala, sakit perut, atau merasa sakit
  • Sering marah melalui emosi atau masalah perilaku lainnya

Masa remaja

  • Penarikan dari orang dewasa tetapi mungkin masih menghabiskan waktu dengan teman dekat
  • Untuk remaja, perubahan emosional dinyatakan melalui mudah emosi atau marah sebagai pengganti suasana hati yang sedih.
  • Pola tidur yang buruk, tidur terbatas dan pada jam-jam bervariasi

Masa dewasa

  • Emosi lebih biasanya diekspresikan sebagai suasana hati yang sedih
  • Insomnia sebagai pengganti tidur yang tidak teratur
  • Isolasi dan penarikan dari orang lain

9. Orangtua juga harus proaktif mencari dukungan dari seorang profesional

9. Orangtua juga harus proaktif mencari dukungan dari seorang profesional
Freepik

Jika Mama memiliki masalah atau melihat perubahan dalam perilaku anak, Erin mengatakan orangtua harus secara proaktif mencari dukungan dari seorang professional, dokter anak, atau sekolah.

“Sekolah juga bisa menjadi pilihan pertama yang bagus untuk anak dan remaja juga. Namun, Mama selalu dapat secara langsung mengejar penyedia kesehatan mental untuk mengetahui masalah pada anak,”tambahnya.

Ia pun menambahkan cari penyedia perawatan yang Mama percayai, berkolaborasi dalam mengembangkan rencana perawatan, dan ikuti rekomendasinya.

10. Peran keluarga untuk menumbuhkan gaya hidup mengurangi depresi di rumah

10. Peran keluarga menumbuhkan gaya hidup mengurangi depresi rumah
Freepik

Selain itu, peran keluarga dapat menumbuhkan gaya hidup untuk mengurangi gejala depresi di rumah. Gaya hidup keluarga ini meliputi:

  • Keterlibatan rutin dalam kegiatan yang menghasilkan emosi positif.

Ini akan bervariasi untuk setiap individu, jadi rencanakan harus berdiskusi semua anggota keluarga.

  • Mempertahankan pola makan yang seimbang dan sehat.

Orangtua dapat bekerja dengan dokter anak atau ahli gizi jika diperlukan panduan tambahan.

  • Memprioritaskan pola tidur yang sesuai dengan perkembangan.

Tidur yang buruk dapat memengaruhi suasana hati, konsentrasi, toleransi kesusahan, dan pemecahan masalah seseorang.

  • Mencari dukungan dari penyedia perawatan sesuai kebutuhan.

Gunakan dukungan sosial dan terus berpartisipasi dalam kegiatan ekstrakurikuler yang mempromosikan pengembangan hubungan teman yang positif.

Itulah fakta seputar anak dengan orangtua depresi berisiko mengalami depresi lebih tinggi. Peran oragntua sangat penting dalam membangun karakter anak. Termasuk menjaga kondisinya hingga dewasa.

Mama harus tetap berhubungan dengan penyedia perawatan lain seperti dokter anak, guru sekolah, pelatih, dan lain-lain, karena para mereka juga dapat memiliki wawasan yang penting tentang bagaimana seorang anak dapat bekerja leih baik lagi kedepannya.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.