Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
7 Memori yang Dibentuk Anak Usia 1-3 Tahun dari Mama dan Papa
Pexels/Arina Krasnikova
  • Anak usia 1-3 tahun membentuk memori emosional kuat dari reaksi, tatapan, dan sentuhan Mama dan Papa yang menumbuhkan rasa aman serta kepercayaan diri sejak dini.

  • Konsistensi dalam rutinitas kecil, dukungan saat gagal, dan ketenangan menghadapi emosi anak menjadi fondasi penting bagi perkembangan mental dan emosionalnya.

  • Kata-kata positif serta ekspresi kasih sayang Mama dan Papa akan tertanam sebagai suara batin anak yang membentuk konsep diri sehat hingga dewasa.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Membangun memori indah bersama si Kecil di masa golden age adalah investasi emosional yang tak ternilai harganya, Ma. 

Di rentang usia 1-3 tahun, meskipun daya ingat jangka panjang mereka belum sempurna secara kognitif, namun perasaan aman, dicintai, dan diterima akan terpatri kuat dalam alam bawah sadar mereka hingga dewasa nanti. 

Berikut Popmama.com rangkum 7 hal yang selamanya diingat si Kecil usia 1-3 tahun dari Mama dan Papa!

1. Reaksi Mama dan Papa saat si Kecil membutuhkan bantuan

Pexels/RDNE Stock Project

Hal pertama yang akan terus diingat oleh si Kecil adalah bagaimana respons Mama dan Papa saat ia merasa takut, sakit, atau sekadar ingin dipeluk. 

Bagi si Kecil, dunia bisa terasa sangat besar dan menakutkan. Ketika Mama segera datang saat ia menangis karena terjatuh atau ketakutan mendengar suara petir, ia belajar bahwa dunia adalah tempat yang aman karena ada pelindung yang bisa diandalkan. 

Perasaan "didengar" dan "dijaga" inilah yang akan membentuk fondasi rasa percaya diri atau secure attachment pada dirinya hingga dewasa. Sebaliknya, pengabaian pada momen-momen krusial ini bisa meninggalkan memori kecemasan yang mendalam. 

Jadi, pastikan Mama selalu hadir dengan pelukan hangat yang menenangkan saat si Kecil memanggil sebagai tanda bahwa ia tidak pernah sendirian.

2. Cara Mama dan Papa melihat si Kecil

Pexels/RDNE Stock Project

Anak sangat hebat dalam merasakan emosi dan membaca ekspresi wajah orangtuanya. Ia akan selalu mengingat bagaimana binar mata Mama dan Papa saat menatapnya, baik saat ia sedang bermain tenang maupun saat ia baru bangun tidur dengan rambut acak-acakan. 

Tatapan yang penuh kekaguman dan kasih sayang tanpa syarat membuat si Kecil merasa dirinya sangat berharga dan dicintai apa adanya tanpa perlu melakukan apapun. 

Sebaliknya, jika si Kecil lebih sering melihat tatapan yang penuh amarah, lelah, atau mata yang selalu tertuju pada layar ponsel saat bersamanya, ia akan merekam perasaan bahwa dirinya adalah "beban" atau gangguan bagi orang tuanya. 

Tatapan mata Mama dan Papa adalah cermin pertama bagi si Kecil untuk melihat siapa dirinya di dunia ini, maka berikanlah tatapan terbaik penuh cinta setiap hari sebagai “asupan nutrisi” jiwanya.

3. Kebiasaan kecil yang rutin dilakukan setiap hari

Pexels/Ketut Subiyanto

Rutinitas harian adalah bahasa cinta yang paling mudah dipahami oleh si Kecil. Hal-hal sederhana seperti ritual ciuman kening sebelum tidur, nyanyian kecil saat mengganti popok, atau candaan rutin saat mandi akan tersimpan rapat dalam memori sensoriknya. 

Kebiasaan kecil ini memberikan rasa nyaman dalam hidupnya yang masih sangat baru dan penuh ketidakpastian. 

Si Kecil tidak akan mengingat merek mainan mahalnya, namun ia akan sangat mengingat aroma tubuh Mama saat menyusuinya atau suara tawa Papa saat mengajaknya bermain kuda-kudaan setiap sore sepulang kerja. 

Konsistensi dalam melakukan kebiasaan kecil inilah yang membangun rasa "rumah" yang hangat bagi pertumbuhan mental dan emosional si Kecil selamanya, menciptakan rasa aman yang tidak tergantikan oleh apapun di dunia luar.

4. Reaksi Mama dan Papa terhadap kegagalan si Kecil

Pexels/Vitaly Gariev

Di usia 1-3 tahun, si Kecil sedang giat-giatnya mengeksplorasi kemampuan motorik, yang sering kali berujung pada tumpahnya susu, pecahnya piring, atau rusaknya mainan. 

Bagaimana reaksi Mama dan Papa saat hal itu terjadi akan diingatnya sebagai standar penilaian diri. Jika Mama merespons dengan ketenangan dan membimbingnya untuk memperbaiki kesalahan, si Kecil akan ingat bahwa kegagalan hanyalah bagian dari proses belajar. 

Namun, jika reaksi yang diterima adalah bentakan atau kemarahan besar, ia akan tumbuh dengan memori bahwa melakukan kesalahan adalah hal yang mengerikan. 

Dukungan Mama dan Papa saat ia gagal membangun menara balok akan mengajarinya tentang resiliensi dan keberanian untuk terus mencoba tanpa rasa takut yang berlebihan, sehingga ia berani menghadapi tantangan yang lebih besar saat ia beranjak dewasa nanti.

5. Kehangatan sentuhan fisik melalui pelukan dan ciuman

Pexels/Ivan S

Sentuhan fisik adalah kebutuhan primer bagi si Kecil untuk merasa terhubung secara emosional dengan orang tuanya. Pelukan erat saat ia merasa sedih, usapan lembut di punggung saat ia sulit tidur, hingga ciuman gemas di pipi adalah memori fisik yang akan ia bawa dalam sel-sel tubuhnya hingga dewasa. 

Stimulasi sentuhan ini memicu hormon oksitosin yang sangat penting untuk perkembangan otaknya. si Kecil akan selalu mengingat bagaimana tangan Mama dan Papa terasa begitu kuat namun lembut saat menggandengnya berjalan di taman. 

Kehangatan fisik ini memberikan pesan tanpa kata bahwa ia selalu memiliki pelabuhan untuk kembali saat dunia luar terasa melelahkan.

Maka, jangan pernah pelit dalam memberikan sentuhan fisik karena itulah cara tercepat mentransfer energi cinta dan perlindungan pada si Kecil yang sedang tumbuh pesat.

6. Cara Mama dan Papa tetap tenang saat si Kecil emosi

Pexels/Pragyan Bezbaruah

Si Kecil usia 1-3 tahun sering mengalami "badai" emosi atau tantrum karena ia belum bisa mengungkapkan perasaannya lewat kata-kata. Hal yang akan ia ingat selamanya adalah apakah Mama dan Papa ikut "tenggelam" dalam kemarahan itu atau justru menjadi jangkar yang tenang baginya. 

Saat Mama dan Papa tetap memeluknya atau menemaninya dengan sabar saat ia menangis histeris, si Kecil belajar bahwa emosinya tidaklah menakutkan dan ia diterima sepenuhnya bahkan di saat terburuknya. 

Memori tentang ketenangan Mama saat ia sedang kacau akan menjadi dasar kecerdasan emosionalnya di masa depan. 

Ia akan mengingat bahwa Mama dan Papa adalah sosok yang stabil, yang mampu memberikan ruang bagi perasaannya tanpa menghakimi, sehingga ia belajar untuk mengatur emosinya sendiri dengan cara yang sehat dan konstruktif sejak dini.

7. Kata-kata penyemangat dan positif yang diucapkan

Pexels/Arina Krasnikova

Meskipun kosakata si Kecil usia 1-3 tahun masih terbatas, ia sangat memahami intonasi dan energi dari kata-kata yang Mama ucapkan secara berulang. 

Kalimat seperti "Mama bangga padamu," "Si Kecil hebat sudah mau mencoba," atau sekadar "Aku sayang kamu" akan menjadi suara hati si Kecil saat ia dewasa nanti. 

Ia akan mengingat suara Mama dan Papa sebagai penyemangat saat ia menghadapi tantangan di masa depan yang lebih sulit. Kata-kata positif yang Mama dan Papa tanamkan sejak dini akan membangun konsep diri yang sehat dan kuat. 

Ingatlah Ma, cara Mama dan Papa berbicara kepada si Kecil saat ini akan menjadi cara si Kecil berbicara kepada dirinya sendiri suatu hari nanti. 

Jadi, pilihlah kata-kata yang penuh kekuatan, motivasi, dan kasih sayang untuk membangun fondasi mental yang kokoh bagi masa depan si Kecil.

Menurut Mama, dari ketujuh poin di atas, mana yang paling menantang untuk dilakukan secara konsisten di tengah kesibukan sehari-hari?

Editorial Team