Popmama.com/Keisha Felita Aryamaulana
Proses identifikasi PJB pada si Kecil dapat dilakukan melalui pendekatan sistematis yang dikenal dengan metode lima jari.
Metode ini meliputi pengecekan riwayat pasien secara mendalam, pemeriksaan fisik melalui teknik lihat, raba, dan dengar, rekam jantung atau EKG, foto polos dada, serta USG jantung dan pemeriksaan laboratorium.
Deteksi ini bahkan sudah bisa dimulai sejak masa kehamilan melalui ekokardiografi janin untuk melihat kecurigaan kelainan struktur jantung.
“Paling cepat minggu ke 20 kehamilan ibu,” papar dr. Yovi.
Deteksi dini sejak di dalam rahim sangat krusial bagi kasus PJB kritis agar tim medis dapat melakukan persiapan penanganan segera setelah bayi lahir. Selain itu, terdapat program nasional dari IDAI berupa skrining oksimetri pada bayi baru lahir yang diperiksa melalui kaki dan tangan kanan untuk mendeteksi PJB kritis.
Pemeriksaan fisik pada si Kecil dianjurkan secara lebih mendalam dibandingkan orang dewasa, karena mencakup pemeriksaan tensi dan saturasi pada keempat anggota gerak guna mendeteksi perbedaan tekanan yang menjadi indikator kelainan tertentu.
Jika hasil awal menunjukkan adanya kecurigaan, dokter akan menyarankan ekokardiografi bayi sebagai standar untuk melihat kelainan anatomi dan fungsinya secara detail, atau bahkan MRI sebagai pemeriksaan penunjang lanjutan jika dibutuhkan.