Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Mengenal Gejala Penyakit Jantung Bawaan pada Anak dan Kaitannya dengan Kesehatan Gigi
Popmama.com/Keisha Felita Aryamaulana
  • Penyakit Jantung Bawaan (PJB) adalah kelainan struktur jantung sejak janin terbentuk, dengan prevalensi sekitar 1 persen dari total kelahiran di Indonesia setiap tahunnya.

  • Gejala PJB dibagi menjadi tipe sianotik dan asianotik, ditandai antara lain dengan kebiruan pada kulit, kesulitan menyusu, serta gangguan pertumbuhan akibat kerja jantung berlebih.

  • Deteksi dini melalui metode lima jari dan skrining oksimetri penting dilakukan sejak kehamilan untuk mencegah komplikasi berat seperti gagal jantung, hipertensi paru, dan infeksi endokarditis.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Kesehatan jantung anak merupakan prioritas utama untuk Mama sejak masa kehamilan hingga setelah kelahiran. 

Penyakit Jantung Bawaan (PJB) menjadi kelainan medis yang memerlukan pemahaman mendalam agar penanganannya dapat dilakukan secara cepat dan tepat. 

Digelar oleh Rumah Sakit Pondok Indah pada Kamis (7/5/2026) di Jakarta Pusat, dr. Yovi Kurniawati, Sp. J. P. Subsp. K. Ped. P. J. B. (K) seorang dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, membagikan wawasan penting mengenai bagaimana orangtua bisa mendeteksi hingga mencegah PJB pada anak.

Berikut Popmama.com merangkum informasi mengenai gejala, penyebab, hingga metode deteksi dini PJB pada anak.

1. Memahami definisi dan struktur kelainan jantung pada janin

Popmama.com/Keisha Felita Aryamaulana

Penyakit Jantung Bawaan (PJB) merupakan kelainan struktur dan sirkulasi jantung yang sudah ada sejak lahir. 

“Bukan didapat dari lahir, tapi sudah ada saat pembentukan jantung ketika masih di rahim, bentuk fetus,” jelas dr.Yovi.

Jantung memiliki struktur kompleks yang terdiri dari empat ruang, tujuh pembuluh darah, dua sekat, dan empat katup jantung dan PJB dapat terjadi pada seluruh bagian tersebut, baik berupa lubang tunggal pada sekat maupun kelainan yang lebih kompleks pada pembuluh darah besar. 

Berdasarkan data internasional, PJB ditemukan pada 8 hingga 10 dari 1000 kelahiran hidup. Di Indonesia, angka kejadiannya mencapai 43.200 kasus per tahun atau sekitar 1 persen dari total kelahiran. 

2. Mengenal gejala PJB tipe sianotik dan asianotik

Pexels/Puwadon Sang-ngern

Gejala PJB secara umum terbagi menjadi dua kategori utama, yakni tipe sianotik atau biru dan tipe asianotik atau tidak biru. 

Pada tipe sianotik, perubahan warna menjadi kebiruan terlihat jelas pada area mulut, lidah, serta ujung jari tangan dan kaki bayi. Gejala ini dapat muncul segera setelah lahir atau berkembang seiring bertambahnya usia saat aktivitas fisik si Kecil meningkat. 

Sebaliknya, tipe asianotik sering kali tidak menunjukkan gejala fisik yang nyata, namun dapat dideteksi melalui pola menyusu bayi. Salah satu indikator utama yang harus diperhatikan orangtua adalah kelelahan saat bayi mengisap ASI. 

“Bayi tidak mampu mengisap susu dengan baik karena malah jadi kelelahan, nafas memburu, berkeringat dan akhirnya saat menghisap suka berhenti,” jelas dr. Yovi. 

Selain gangguan menyusu, baik tipe sianotik dan asianotik, gejala lain yang sering menyertai adalah sulitnya kenaikan berat badan atau gangguan tumbuh kembang karena tubuh menggunakan energi berlebih untuk kompensasi kerja jantung. 

Pada anak yang lebih besar, PJB sering ditandai dengan kebiasaan jongkok atau squatting saat merasa lelah setelah beraktivitas fisik.

3. Faktor risiko multifaktorial selama masa kehamilan

Pexels/MART PRODUCTION

Penyebab terjadinya kelainan jantung pada bayi bersifat multifaktorial, yang berarti melibatkan berbagai kombinasi faktor genetik dan lingkungan. 

Hingga saat ini, belum ditemukan satu penyebab tunggal yang dapat dipastikan, namun terdapat beberapa faktor risiko yang secara signifikan meningkatkan potensi PJB.

Di antaranya adalah: 

  • Kelainan kromosom seperti Down Syndrome seringkali disertai dengan kelainan struktur jantung tertentu. Selain faktor genetik, kondisi kesehatan ibu selama masa kehamilan memegang peranan penting. 

  • Infeksi virus, contohnya Rubella pada kehamilan sangat berkaitan dengan risiko kecacatan jantung janin. 

  • Paparan lingkungan seperti asap rokok dan konsumsi alkohol juga menjadi faktor pemicu yang dapat meningkatkan risiko PJB secara drastis. 

  • Penyakit metabolik pada ibu, seperti Diabetes Melitus (DM), juga memerlukan pengawasan ketat karena dapat memengaruhi proses pembentukan ruang jantung janin. 

Identifikasi faktor risiko ini membantu tenaga medis untuk memberikan perhatian lebih pada saat pemeriksaan antenatal dan mempersiapkan langkah preventif segera setelah bayi dilahirkan.

4. Jenis kelainan PJB

Popmama.com/Keisha Felita Aryamaulana

Terdapat tiga jenis PJB yang paling sering ditemukan dalam praktik medis, yaitu ASD, VSD, dan PDA. 

Atrial Septal Defect (ASD) atau Defek Septum Atrium adalah kebocoran pada sekat yang memisahkan serambi kanan dan kiri, sementara Ventricular Septal Defect (VSD) atau Defek Septum Ventrikel terjadi pada sekat antara bilik kanan dan kiri. Lokasi kebocoran VSD dapat bervariasi, mulai dari bagian perimembranous hingga bagian otot jantung. 

Jenis ketiga adalah Patent Ductus Arteriosus (PDA) atau Duktus Arteriosus Persisten, yaitu kondisi di mana pembuluh darah yang menghubungkan aorta dan paru-paru tetap terbuka setelah bayi lahir, padahal seharusnya menutup secara alami. 

5. Metode deteksi dini melalui skrining lima jari

Popmama.com/Keisha Felita Aryamaulana

Proses identifikasi PJB pada si Kecil dapat dilakukan melalui pendekatan sistematis yang dikenal dengan metode lima jari. 

Metode ini meliputi pengecekan riwayat pasien secara mendalam, pemeriksaan fisik melalui teknik lihat, raba, dan dengar, rekam jantung atau EKG, foto polos dada, serta USG jantung dan pemeriksaan laboratorium. 

Deteksi ini bahkan sudah bisa dimulai sejak masa kehamilan melalui ekokardiografi janin untuk melihat kecurigaan kelainan struktur jantung. 

“Paling cepat minggu ke 20 kehamilan ibu,” papar dr. Yovi. 

Deteksi dini sejak di dalam rahim sangat krusial bagi kasus PJB kritis agar tim medis dapat melakukan persiapan penanganan segera setelah bayi lahir. Selain itu, terdapat program nasional dari IDAI berupa skrining oksimetri pada bayi baru lahir yang diperiksa melalui kaki dan tangan kanan untuk mendeteksi PJB kritis. 

Pemeriksaan fisik pada si Kecil dianjurkan secara lebih mendalam dibandingkan orang dewasa, karena mencakup pemeriksaan tensi dan saturasi pada keempat anggota gerak guna mendeteksi perbedaan tekanan yang menjadi indikator kelainan tertentu. 

Jika hasil awal menunjukkan adanya kecurigaan, dokter akan menyarankan ekokardiografi bayi sebagai standar untuk melihat kelainan anatomi dan fungsinya secara detail, atau bahkan MRI sebagai pemeriksaan penunjang lanjutan jika dibutuhkan.

6. Risiko komplikasi akibat penanganan yang terlambat

Popmama.com/Keisha Felita Aryamaulana

Penanganan PJB sangat bergantung pada jenis kelainan yang dialami dan waktu penutupan lubang yang tepat. 

Untuk kasus PJB biru, penanganan medis harus segera dilakukan katika si Kecil berusia 1 bulan, sementara untuk kasus PJB tidak biru, pemantauan masih dapat dilakukan hingga si Kecil berusia 3-4 tahun selama kondisi hemodinamik si Kecil tetap stabil. 

Jika lubang atau kelainan struktur tidak ditutup sesuai dengan waktu yang disarankan, hal tersebut akan memicu berbagai komplikasi serius bagi kesehatan si Kecil 

Salah satu dampak yang paling dikhawatirkan adalah gagal jantung dan hipertensi paru akibat peningkatan tekanan jantung yang terus-menerus. 

Selain itu, terdapat risiko infeksi jantung atau endokarditis yang melekat pada dinding, sekat, atau katup jantung. Infeksi ini sering kali dipicu oleh adanya fokus infeksi dari bagian tubuh lain, di mana kasus yang paling sering ditemukan bersumber dari kondisi gigi berlubang. 

Oleh karena itu, orangtua yang memiliki anak dengan riwayat PJB wajib memastikan kesehatan gigi mereka terjaga dengan baik dan rutin melakukan kontrol ke dokter gigi untuk menghindari risiko kuman masuk ke aliran darah yang dapat berakibat fatal pada organ jantung si Kecil.

7. Hubungan kesehatan gigi dan gejala batuk berulang dengan PJB

Pexels/Towfiqu barbhuiya

Kaitan antara gigi berlubang dengan infeksi jantung pada pasien PJB terjadi karena adanya aliran darah yang tidak normal akibat kebocoran sekat. 

Aliran darah yang melewati lubang tersebut akan menyebabkan trauma pada dinding jantung, menjadikannya tempat yang sangat rentan terhadap infeksi atau disebut sebagai lokus minoris. 

Bakteri dari pembuluh darah di gigi yang terinfeksi dapat menyebar ke jantung dan menempel pada area yang mengalami trauma tersebut hingga membentuk vegetasi. 

Vegetasi merupakan bongkahan benda asing berisi kuman dan sel darah yang berbahaya karena jika lepas, dapat terbawa aliran darah menuju otak atau kaki dan menyebabkan komplikasi serius yang memerlukan tindakan operasi besar. 

Di sisi lain, orangtua sering kali mengeluhkan anak dengan PJB mengalami batuk dan demam yang sering berulang atau pneumonia. Hal ini terjadi karena aliran darah dari jantung bagian kiri mengalir ke bagian kanan, yang kemudian diteruskan ke paru-paru dalam jumlah berlebih. 

Kondisi yang disebut sebagai lung overflow ini membuat paru-paru si Kecil menjadi sangat rentan terhadap infeksi saluran pernapasan berulang. 

Pemantauan rutin dan menjaga kebersihan seluruh anggota tubuh menjadi kunci utama dalam meminimalisir komplikasi jangka panjang pada anak dengan PJB. 

Sudahkah Mama dan Papa melakukan pemeriksaan kesehatan gigi secara rutin untuk mencegah risiko infeksi jantung pada si Kecil?

Editorial Team