Ciri-Ciri Anak Tunagrahita yang Harus Mama Ketahui

Penting untuk mengetahui ciri-ciri tunagrahita pada anak sejak dini loh, Ma

13 Oktober 2021

Ciri-Ciri Anak Tunagrahita Harus Mama Ketahui
Freepik

Kata “tunagrahita” memang terdengar asing bagi sebagian orang. Padahal, bukan tidak mungkin kita menjumpai anak-anak peyandang tunagrahita di lingkungan sekitar.

Tunagrahita merupakan sebutan lain bagi orang yang memiliki disabilitas intelektual. Umumnya, kondisi pada anak penyandang tunagrahita ini memiliki kemampuan intelektual dan kognitif yang lambat atau di bawah normal. Bahkan, untuk melakukan kegiatan sehari-hari pun ia kerap kali mengalami kesulitan, meskipun hal tersebut adalah yang paling mudah.

Sebenarnya, anak penyandang tunagrahita dapat mempelajari hal-hal baru, hanya saja mereka cenderung lebih lambat dalam menyerap informasi yang diterima.

Dilansir dari Webmd, disabilitas intelektual memiliki keterbatasan dalam dua bidang, antara lain:

  • Fungsi intelektual yang mengacu pada kemampuan untuk belajar, bernalar, membuat keputusan, dan memecahkan masalah.
  • Perilaku adaptif, yaitu keterampilan yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya berkomunikasi secara efektif, berinteraksi dengan orang lain, dan menjaga diri sendiri.

Umumnya, penyandang disabilitas intelektual diukur dari test IQ (intellegence quitient).

Apabila hasil test IQ di bawah 70-75, anak tersebut dianggap memiliki disabilitas intelektual. Sebab, hasil normal IQ rata-rata adalah dengan skor antara 85-115.

Kali ini, Popmama.com telah merangkum ciri-ciri anak tunagrahita yang perlu diketahui. Disimak sampai akhir ya, Ma!

1. Apa itu tunagrahita?

1. Apa itu tunagrahita
Freepik

Tunagrahita adalah kondisi di mana seorang anak mengalami keterbatasan intelektual maupun adaptif. Terdapat beberapa perbedaan khusus pada anak tunagrahita.

Hal tersebut dapat memengaruhi tumbuh kembang anak pada kehidupan sehari-harinya. Umumnya, anak yang mengalami tunagrahita akan mendapat banyak kesulitan dan bisa terjadi dalam tingkat ringan atau bahkan berat.

Kondisi khusus ini, semua kembali pada kondisi masing-masing anak.

Tunagrahita dapat terjadi kapan saja, tidak hanya dimulai saat anak berada di dalam kandungan, tetapi juga dapat terjadi sebelum anak berusia 18 tahun. Mayoritas yang kerap didiagnosis mengalami tunagrahita ini adalah anak laki-laki.

Anak yang mengalami tunagrahita berpotensi mengalami autisme, meskipun presentasi autisme lebih tinggi dibandingkan dengan disabilitas intelektual.

Perkembangan otak yang tidak berjalan sesuai dengan semestinya atau cedera otak yang mengenai bagian organ berpikirnya menyebabkan otak tidak dapat berfungsi secara optimal, sehingga anak tunagrahita mengalami keterbatasan dalam berbagai hal.

Oleh karena itu, ia dikenal sebagai anak berkebutuhan khusus.

2. Penampilan fisik yang tidak seimbang

2. Penampilan fisik tidak seimbang
Pexels/kseniachernaya

Anak yang mengalami tunagrahita atau disabilitas intelektual umumnya memiliki penampilan fisik yang tidak seimbang atau berbeda dari kabanyak anak lainnya.

Penampilan fisik anak tunagrahita, seperti kepala yang lebih besar atau terlalu kecil bila dibandingkan dengan tubuh keseluruhan.

Kelainan fisik tersebut termasuk ke dalam ras mongoloid dengan badan yang bungkuk, ekspresi wajah datar, telinga berukuran kecil, mata yang sipit, hingga mulut yang tampak seperti melongo.

Editors' Picks

3. Anak mengalami keterlambatan dalam merangkak, duduk, dan berjalan dari usia pada umumnya

3. Anak mengalami keterlambatan dalam merangkak, duduk, berjalan dari usia umumnya
Pexels/allan-mas

Kemampuan motorik pada anak tunagrahita akan mengalami keterlambatan.

Hal tersebut dapat mempengaruhi pengendalian gerak tubuh, misalnya menekuk, merangkak, duduk, berjalan, berlari, memakai baju, dan sebagainya. Padahal, makin tinggi kemampuan motorik seseorang, daya kerjanya akan lebih tinggi.

Sebab itu, anak penyandang tunagrahita harus dilatih kemampuan motoriknya dan lakukan secara berulang-ulang agar dapat mengembangkan kesanggupan dan kemampuannya guna untuk mempertinggi daya kerja.

4. Mengalami keterlambatan bicara, bahkan kesulitan

4. Mengalami keterlambatan bicara, bahkan kesulitan
Pexels/olly

Biasanya, bayi akan mulai mengeluarkan suara dan ocehannya setelah berusia 2-3 bulan. Kemudian, berlanjut hingga berusia 9-12 bulan. Selanjutnya, saat usia 18 bulan, biasanya sudah bisa mengucapkan sekitar 10-20 kata dasar, bahkan mengenali nama orang, benda, dan beberapa bagian tubuh, pada usia 24 bulan hingga 4 tahun, anak sudah bisa meningkatkan kosakatanya dan memahami perintah. Pada usia 5 tahun, anak sudah mulai bisa berbincang dengan orang lain.

Namun, anak penyandang tunagrahita akan mengalami keterlambatan dalam proses berbicara, bahkan ia akan mengalami kesulitan. Artinya, di luar usia tersebut, anak tunagrahita umumnya belum bisa bicara. Sebab itu, Mama perlu waspada.

Selain mengalami keterlambatan bicara, anak tunagrahita juga memiliki keterbatasan dalam penguasaan bahasa. Pusat perbendaharaan katanya menjadi kurang berfungsi sebagaimana mestinya.

Oleh karena itu, anak tunagrahita perlu mendengar kata-kata konkret yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari, tentunya, kosakata yang baik ya, Ma.

5. Kesulitan dalam mengingat sesuatu

5. Kesulitan dalam mengingat sesuatu
Freepik/mdjaff

Akibat dari perkembangan otak yang tidak berjalan sesuai dengan semestinya, anak tunagrahita mengalami kesulitan dalam mengingat sesuatu, sekalipun sesuatu tersebut merupakan hal yang sederhana dan mudah.

Informasi yang ia terima membutuhkan waktu proses yang lebih lambat dari kebanyakan anak-anak seusianya. Oleh sebab itu, anak tunagrahita membutuhkan latihan yang berulang-ulang hingga ia mengingatnya. Tidak hanya kosakata atau kalimat percakapan, tetapi juga kegiatan sehari-hari.

6. Sering kali mengalami tantrum

6. Sering kali mengalami tantrum
Pexels/keira-burton

Tantrum adalah kondisi di mana anak meluapkan emosinya secara meledak-ledak dengan cara menangis kencang, berteriak, hingga berguling-guling, bahkan melempar barang.

Hal itu dikarenakan akibat dari ketidakmampuan anak tunagrahita dalam menjelaskan apa yang ia inginkan dengan ungkapan kata-kata, sehingga emosinya sangat tidak stabil.

Biasanya, tantrum terjadi apabila anak merasa kesal, marah, frustrasi, lelah, lapar, dan tidak nyaman.

Apabila anak tunagrahita mengalami kondisi tantrum, Mama bisa coba memeluknya agar si Kecil merasa aman dan orangtuanya peduli. Kemudian, Mama bisa coba mengalihkan perhatiannya pada hal lain, misalnya memberikan mainan kesuakaannya, mengajaknya membicarakan hal-hal yang menyenangkan, atau apa pun yang dapat menarik perhatiannya hingga sifat tantrumnya terhenti.

7. Keterbatasan sosial

7. Keterbatasan sosial
Freepik

Selain memiliki keterbatasan kemampuan dasar, anak tunagrahita juga memiliki keterbatasan sosial.

Biasanya, anak tunagrahita akan memerlukan bantuan dalam setiap kegiatan yang dilakukan. Ia juga cenderung berteman dengan anak yang lebih muda dan tidak mampu bertanggung jawab dalam kehidupan sosialnya.

Oleh sebab itu, anak tunagrahita perlu dibimbing dan diawasi karena ia akan mudah terpengaruh dan melakukan sesuatu tanpa memikirkan akibatnya.

Hal tersebut dikarenakan anak tunagrahita tidak bisa mempertimbangkan segala suatu dan membedakan mana yang baik dan buruk, benar dan salah. Lebih dari itu, ia tidak mampu memecahkan masalah yang akan atau sedang dihadapinya.

Itulah ciri-ciri anak tunagrahita. Melansir Healthy Children, sampai saat ini belum ada obat untuk menyembuhkan kondisi tunagrahita atau disabilitas intelektual pada anak. Akan tetapi, kebanyakan anak dapat melewatinya karena dukungan dari orangtua dan lingkungan yang mau membantunya untuk terus menerus melatih diri dan belajar.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.