Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Tiktok.com/@binarinovasi
  • Video ibu menggendong balita saat turun dari Bukit Biru memicu reaksi netizen karena jalur pendakiannya cukup curam dan menantang.

  • IDAI mengingatkan bahwa balita, terutama anak di bawah tiga tahun, lebih rentan terhadap kehilangan panas tubuh dan aktivitas ekstrem.

  • Orangtua perlu memilih aktivitas ringan, memperhatikan cuaca, akses evakuasi, pakaian, cairan, serta kondisi kesehatan anak.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
4 Agustus 2025

Kaltim Post memuat keterangan bahwa jalur menuju puncak Bukit Biru berupa jalan setapak yang cukup curam dan relatif sulit dilewati.

11 April 2026

Seorang anak berusia 1,5 tahun mengalami hipotermia ketika diajak orangtuanya mendaki Gunung Ungaran, Semarang.

13 April 2026

IDAI menyampaikan imbauan mengenai keselamatan balita saat mendaki gunung dalam media briefing.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Video seorang ibu yang menggendong balita saat menuruni Bukit Biru memicu reaksi netizen karena dianggap tidak aman.
  • Who?
    Seorang ibu, balita berusia 3 tahun, laki-laki yang diduga sang Papa, netizen, dan IDAI.
  • Where?
    Bukit Biru, Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.
  • When?
    Video telah beredar di berbagai media sosial. Keterangan terkait IDAI disampaikan pada 13 April 2026.
  • Why?
    Jalur menuju puncak Bukit Biru cukup curam, relatif sulit dilewati, dan tidak disarankan bagi anak kecil.
  • How?
    Orangtua disarankan memilih jalur ringan, memperhatikan akses evakuasi, cuaca, pakaian, cairan, serta kondisi kesehatan anak.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Seorang Mama membawa anak kecil turun dari Bukit Biru sambil menggendongnya. Ada Papa di belakang mereka. Orang-orang melihat videonya dan merasa khawatir karena jalannya curam. IDAI bilang balita mudah kedinginan dan belum kuat seperti orang dewasa. Orangtua disarankan memilih tempat yang ringan dan aman untuk anak.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Mengenalkan alam terbuka kepada anak tetap dapat dilakukan secara bertahap. Imbauan IDAI memberi panduan agar orangtua menyesuaikan aktivitas dengan usia, kondisi fisik, kemampuan anak, cuaca, dan akses evakuasi. Dengan begitu, kegiatan dapat dimulai dari jalur ringan sebelum meningkat sesuai kesiapan anak.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Viral video yang memperlihatkan seorang ibu yang tampak menggendong anaknya saat turun Bukit Biru, Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Dikutip dari Radar Kaltim, mama tersebut menggendong anaknya yang berusia 3 tahun sementara laki-laki yang diduga sang Papa ada di belakang mereka berdua.

Sudah ada di berbagai media sosial, video itu pun mendapatkan banyak reaksi dari netizen. Banyak yang mengecam tindakan sang Mama terhadap balitanya itu yang dianggap tidak aman. Beberapa lagi menyoroti bagaimana mama dari anak tersebut juga seakan kasar ke anaknya saat mereka menuruni bukit bersama.

Lantas, apakah balita sebenarnya aman diajak naik gunung? Apa yang perlu diperhatikan oleh orangtua? 

Berikut Popmama.com rangkum informasi selengkapnya.

1. Jalur pendakian Bukit Biru cukup curam dan tidak disarankan untuk anak kecil

Pexels/artawkrn

Kekhawatiran warganet terhadap video ibu yang menggendong balita saat menuruni Bukit Biru berkaitan dengan kondisi jalur pendakiannya. Sebab, kawasan wisata yang berada di Desa Sumber Sari, Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, ini memiliki medan yang cukup menantang.

Dikutip dari Kaltim Post pada 4 Agustus 2025, jalur menuju puncak Bukit Biru berupa jalan setapak yang cukup curam dan relatif sulit dilewati. Waktu yang dibutuhkan untuk mencapai puncak sekitar 40 menit hingga satu jam.

Dalam pemberitaan tersebut juga dijelaskan bahwa medan menuju puncak Bukit Biru tidak disarankan bagi ibu hamil, anak kecil, dan lansia. Sementara itu, kawasan camping memiliki akses berupa tangga yang relatif lebih mudah dilewati.

Dengan kondisi tersebut, orangtua perlu mempertimbangkan kembali kemampuan anak sebelum mengajaknya menuju area puncak, terlebih jika jalur yang akan dilalui memiliki medan terjal.

2. IDAI pernah ingatkan orangtua agar tak membawa balita mendaki gunung

Unsplash/Mike Burke

Imbauan mengenai keselamatan balita saat mendaki gunung juga pernah disampaikan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pada 13 April 2026. Pernyataan tersebut disampaikan dalam media briefing setelah seorang anak berusia 1,5 tahun mengalami hipotermia ketika diajak orangtuanya mendaki Gunung Ungaran, Semarang, pada 11 April 2026.

Ketua Pengurus Pusat IDAI, dr. Piprim Basarah Yanuarso, menjelaskan bahwa anak-anak lebih mudah kehilangan panas tubuh dibandingkan orang dewasa. Risiko tersebut dapat meningkat ketika pendakian berlangsung jauh, cuaca berpotensi hujan, dan proses evakuasi membutuhkan waktu lama.

Ketua IDAI DKI Jakarta, dr. Rismala Dewi, turut menjelaskan bahwa anak di bawah usia lima tahun, terutama di bawah tiga tahun, termasuk kelompok yang sangat rentan. Meski tidak ada aturan kaku mengenai usia minimal anak untuk mendaki, orangtua tetap perlu mempertimbangkan kesiapan dan kondisi anak.

Sementara itu, Ketua Unit Kerja Koordinasi Emergensi dan Terapi Intensif Anak IDAI, dr. Yogi Prawira, mengingatkan bahwa anak bukanlah “dewasa kecil” sehingga daya tahan tubuhnya tidak bisa disamakan dengan orangtua.

IDAI pun menyarankan agar orangtua tidak membawa batita atau balita ke aktivitas ekstrem seperti mendaki gunung tinggi. Jika ingin mengenalkan alam kepada anak, orangtua dapat memulainya melalui aktivitas yang lebih ringan dan mudah dijangkau untuk proses evakuasi.

3. Hal yang perlu diperhatikan orangtua sebelum mengajak anak ke alam terbuka

Pexels/Josh Wilink

Mengenalkan anak pada alam terbuka bisa dilakukan secara bertahap. Namun, orangtua perlu memastikan aktivitas yang dipilih sesuai dengan usia, kondisi fisik, dan kemampuan anak. 

Merujuk pada imbauan IDAI, berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  • Pilih jalur yang ringan dan mudah dijangkau. Orangtua bisa memulai dengan aktivitas hiking ringan, bukan langsung mengajak anak mendaki gunung atau bukit dengan medan ekstrem.

  • Perhatikan akses evakuasi. Pilih lokasi yang memungkinkan anak mendapatkan pertolongan dengan cepat apabila mengalami kondisi darurat selama kegiatan berlangsung.

  • Cek kondisi cuaca. Hindari aktivitas luar ruangan ketika cuaca berpotensi ekstrem, seperti hujan lebat atau suhu yang terlalu dingin.

  • Siapkan pakaian yang sesuai. Pastikan anak mengenakan pakaian berlapis dan lapisan luar yang dapat melindungi tubuh dari air agar tetap hangat dan kering.

  • Pastikan kebutuhan cairan terpenuhi. Anak lebih mudah kehilangan cairan dan panas tubuh. Karena itu, orangtua perlu memperhatikan kebutuhan minum anak selama beraktivitas.

  • Pertimbangkan kondisi kesehatan anak. Anak yang memiliki kondisi kesehatan tertentu, seperti asma, membutuhkan perhatian ekstra karena udara dingin dapat memicu gangguan kesehatan.

IDAI juga mengingatkan orangtua untuk menerapkan prinsip “start low, go slow” yakni memulai aktivitas dari tingkat yang ringan dan meningkatkannya secara bertahap sesuai kemampuan anak. Jika persiapan dan kebutuhan keselamatan belum dapat dipenuhi, sebaiknya orangtua menunda aktivitas pendakian bersama balita.

Curated For You

Editorial Team

Related Article