Tantangan Orangtua Anak Usia 2 Tahun: Menghadapi Anak Tantrum

Tantrum tak hanya masalah anak, tetapi bisa jadi pemicunya dari kondisi keluarga

2 Oktober 2019

Tantangan Orangtua Anak Usia 2 Tahun Menghadapi Anak Tantrum
Freepik/yanukit

Di usia 2 tahun ini, seringkali orang menyebutnya sebagai "terrible two." Mengapa? Pada usia ini anak mulai mengerti tentang emosi, dan bisa menggunakannya lewat berbagai cara. Entah itu kata-kata (membantah, menjawab balik) atau pun sikap emosional yang disebut tantrum.
 

Editors' Picks

Tantrum, Wujud Amarah yang Meledak-ledak

Tantrum, Wujud Amarah Meledak-ledak
Freepik/parinyabinsuk

Tantrum bisa diibaratkan badai musim panas. Datang tiba-tiba, begitu panas menghantam, dan terkadang berakhir tanpa pamit. Itu pula yang terjadi pada anak mama. Satu menit ia duduk manis di kursinya, beberapa menit kemudian, tanpa sebab ia menangis, merengek dan marah berteriak-teriak.

Tantrum sangat umum terjadi pada anak usia 2 tahun dan akan berkurang segera setelah ia memasuki usia prasekolah meskipun tak menutup kemungkinan terus terjadi hingga anak memasuki usia SD. Tetapi pada fase ini, amukan anak benar-benar jadi hal yang mengerikan bagi orangtua, terutama orangtua baru yang belum memiliki pengalaman mengontrolnya. 

Sebagian besar orangtua mengalami kekhawatiran, jika tantrum ini merupakan sinyal dari masalah kepribadian anak. Namun, pada usia ini, kemarahan adalah emosi yang normal.

Salah satu alasan yang melatarbelakangi anak tantrum adalah ia mengalami frustrasi yang mengganggu. Entah itu karena tak bisa mengungkapkan keinginannya dengan benar sehingga orang dewasa di sekitarnya salah menanggapi kemauannya.

Selain itu, faktor kelelahan, penolakan, ketakutan dan gangguan juga bisa jadi pemicu tantrum. Misalnya: anak melihat gambar monster yang menyeramkan di sore hari.

Tanpa disadarinya, ia menjadi gelisah secara emosional tetapi tidak bisa mengungkapkannya. Di malam hari sebelum tidur, ia jadi lebih gelisah daripada biasanya. Akhirnya, terjadilah tantrum.

Apa yang Harus Dilakukan Orangtua Jika Anak Tantrum?

Apa Harus Dilakukan Orangtua Jika Anak Tantrum
Freepik/Serhii_bobyk

Ledakan emosi dan amarah seringkali datang tiba-tiba. Orangtua tentu merasa panik, marah bahkan merasa tak berdaya, apalagi jika terjadi di tempat umum. Apa yang harus dilakukan?

Tetap tenang

Dengan kondisi yang menguras hati dan tenaga ini, orangtua akan mudah terpancing amarahnya. Tetapi marah balik pada anak hanyalah sia-sia, karena pada kondisi ini ia tidak mau mendengar apapun dari orangtuanya. Justru dengan ledakan emosi orangtua, misalnya membentak, anak makin menjadi-jadi.

Daripada membiarkan anak menangis meronta-ronta, kumpulkan kekuatan untuk menghindari teriakannya dan hampiri ia dengan tenang. Jika dia tidak terlalu agresif memukul, angkat dia menjauh. Mungkin dengan pelukan Mama, ia merasa lebih tenang. Tetapi jika ia menunjukkan kemarahan yang agresif, abaikanlah sampai 'badai' kemarahannya berlalu dengan sendirinya.

Ajak bicara dan beri pengertian

Segera setelah badai kemarahan berlalu, ajak bicara anak dan tanyakan apa yang terjadi. Bantulah ia mengenali label emosi dan penyebab kemarahannya, dengan bahasa yang sederhana. Misalnya, "Tadi Kakak marah karena makanan yang dikasih ke Kakak bukan yang Kakak mau, benar?"

Tunjukkan padanya, bahwa dengan mengatakannya dengan cara yang benar, orang jadi lebih bisa memahami maunya. Ketimbang marah dan menangis meronta-ronta.

Perhatikan tanda-tanda stres

Meski tantrum merupakan kondisi emosional yang lazim terjadi pada usia pra sekolah, tetapi orangtua tetap perlu memperhatikan kemungkinan masalah perkembangan yang lebih besar. 

Adakah pergolakan dalam keluarga? Apakah orangtua sangat sibuk belakangan ini? Apakah ada ketegangan antara Mama dan Papa? Semua ini, tanpa orangtua sadari, bisa dirasakan anak dan memancing kemarahannya.

Jika anak masih mengamuk besar setiap hari tanpa henti dan jadi semakin buruk hingga orangtua merasa kewalahan, hubungi dokter anak mama. Dokter anak akan memastikan ada atau tidaknya kondisi fisik atau psikologis yang memancing kemarahan berlebihan dan memberi saran menghadapi situasi ini. 

Baca Juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.