Mengasuh Anak Tanpa Berteriak Labih Efektif, Ini Penjelasannya Ma

Teriakan atau bentuk kekerasan lain dapat membuat anak trauma hingga dewasa

18 September 2020

Mengasuh Anak Tanpa Berteriak Labih Efektif, Ini Penjelasan Ma
Unsplash/Elisabeth Wales

Beberapa tantangan mungkin akan menyertai proses pengasuhan yang dilakukan orangtua pada anak-anak. Misalnya, ketika anak sulit diatur atau tidak mau mematuhi keinginan Mama dan Papa. 

Hingga secara tidak sadar, orangtua mengeluarkan emosi negatif berupa teriakan atau nada tinggi pada anak. Selain dapat mengangetkan diri si Kecil, asuhan yang disertai teriakan juga dinilai tidak efektif. 

Bahkan, menimbulkan dampak negatif lainnya pada diri anak, seperti rasa ketakutan terus-menerus yang dapat menyebabkan trauma hingga dewasa. 

Untuk itu, sebaiknya pola asuh dengan kekerasan, seperti berteriak dihindari oleh Mama dan Papa. Mengapa demikian?

Berikut Popmama.com berikan penjelasan selengkapnya. Dilansir dari laman Healthline

Editors' Picks

1. Pola asuh yang tenang tanpa teriakan lebih efektif

1. Pola asuh tenang tanpa teriakan lebih efektif
Unsplash/Nikola Saliba

Dibanding dengan berteriak atau memarahi anak ketika mengasuh, orangtua lebih baik mengajari anak-anak secara perlahan saat melakukan sesuatu. 

"Strategi disipliner yang agresif, seperti hukuman fisik, meneriaki, atau mempermalukan anak-anak tidak efektif dalam jangka pendek maupun jangka panjang," jelas Robert Sege, juru bicara dan dokter anak AAP pada Rumah Sakit Terapung untuk Anak-anak di Tufts Medical Center di Boston.

Jadi, Mama dan Papa sebaiknya mencontohkan perilaku yang baik, berbicara dengan tenang, mengarahkan ulang, atau menggunakan cerita untuk mengajarkan apa yang harus dilakukan atau dihindari oleh anak-anak.  

2. Contohkan hal-hal baik karena anak belajar dari orangtua

2. Contohkan hal-hal baik karena anak belajar dari orangtua
Unsplash/National Cancer Institute

Orangtua merupakan teman bermain dan belajar yang pertama bagi anak-anak. Jadi, si Kecil akan meniru dan mempraktikkan sesuatu yang dilakukan orangtua. 

Terlebih pada masa tumbuh dan kembangnya, di mana anak diibaratkan sebagai spons yang dapat menyerap segala hal dalam lingkungan sekitarnya. 

Untuk itu, Mama dan Papa perlu berhati-hati dalam bertindak di depan anak. Contohkan hal-hal yang baik dan positif. 

Bukan pola asuh penuh kekerasan, tetapi kelembutan dan kasih sayang. Ingatlah bahwa teriakan atau sesuatu yang menyakiti anak dapat membekas dalam diri mereka hingga dewasa, Ma. 

Namun, mengenalkan anak pada emosi positif dan emosi negatif juga perlu. Cara ini dapat melatih anak untuk mengendalikan emosi dalam dirinya. 

3. Cerita atau dongeng, cara kreatif dalam pengasuhan

3. Cerita atau dongeng, cara kreatif dalam pengasuhan
Unsplash/Silvana Carlos

Daripada berteriak pada anak hanya akan membuang-buang energi, Mama mungkin bisa memilih untuk menggunakan cerita atau dongeng saat mengajarkan sesuatu pada si Kecil. 

Menceritakan atau mendongenglah dengan kreatif dan menyenangkan. Tak selalu menggunakan buku, Mama dapat dengan bebas menciptakan tokoh dan alur cerita. 

Gunakanlah alat bantu, seperti mainan atau alat-alat di sekitar rumah sehingga lebih seru. Lalu, sampaikan pesan-pesan moral yang dapat dijadikan pembelajaran untuk anak. 

Cerita atau dongeng tentang suatu hal dapat menjadi alat yang efektif bagi orangtua untuk membentuk perilaku anak-anak. 

Itulah penjelasan mengenai pola asuh yang lebih efektif bagi anak. Yuk, gunakan cara pengasuhan yang lebih sehat tanpa teriakan atau kekerasan lainnya, Ma. 

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.