Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Cara Melihat Minat Anak dari Tingkah Lakunya saat sedang Bosan
Pexels/Mikhail Nilov
  • Rasa bosan dapat menjadi momen untuk mengamati aktivitas yang membuat anak penasaran, betah, dan ingin mengulanginya, tanpa terburu-buru menyimpulkan bakat atau minat tertentu.

  • Anak yang gemar menggambar, bermain pura-pura, atau bongkar-pasang dapat diberi media aman dan ruang eksplorasi agar orang tua melihat ketertarikannya pada kreativitas, cerita, pola, serta pemecahan masalah.

  • Anak yang aktif bergerak atau suka mengamati dan bertanya perlu didukung lewat aktivitas fisik aman, percobaan sederhana, buku, dan kesempatan mencoba sesuai rasa ingin tahunya.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ketika anak mengatakan bahwa dirinya sedang bosan, Mama mungkin langsung berpikir untuk mencarikan permainan atau aktivitas baru agar ia kembali sibuk.

Padahal, tidak selamanya rasa bosan perlu segera dihilangkan. Momen tersebut justru bisa menjadi kesempatan bagi Mama untuk mengamati apa yang dilakukan anak ketika tidak sedang diarahkan.

Ada anak yang memilih mengambil kertas lalu mencoret-coret, ada yang sibuk membongkar mainan, membuat cerita dengan boneka, atau justru berlari dan melompat ke sana kemari. Tingkah laku sederhana tersebut dapat memberikan gambaran mengenai hal-hal yang menarik perhatian anak.

Mama tidak harus langsung menentukan bahwa anak memiliki bakat tertentu. Cukup amati aktivitas yang membuatnya penasaran, membuatnya betah, atau mendorongnya untuk mencoba berulang kali.

Lantas, bagaimana cara melihat minat anak dari tingkah lakunya saat sedang bosan? Berikut Popmama.com telah merangkum 5 cara melihat minat anak dari tingkah lakunya.

Yuk, simak apa saja!

1. Sering coret-coret? Beri ruang untuk berkreasi

Pexels/Atlantic Ambience

Ketika bosan, beberapa anak mungkin mengambil kertas, pensil, krayon, atau benda lain untuk membuat coretan. Jika anak terlihat menikmati aktivitas tersebut dan terus mencoba membuat bentuk atau gambar baru, Mama bisa menjadikannya petunjuk awal mengenai ketertarikannya pada kegiatan seni.

Tidak perlu buru-buru meminta anak menggambar sesuatu yang harus terlihat bagus. Justru, berikan ruang agar ia bebas berekspresi sesuai imajinasinya.

Mama dapat menyediakan:

  • kertas berukuran besar,

  • buku gambar,

  • krayon,

  • pensil warna,

  • alat menggambar lain yang sesuai dengan usia anak.

Sesekali, kegiatan tersebut juga bisa dikembangkan menjadi aktivitas menulis, mewarnai, membuat kolase, atau menggunting dengan pengawasan.

Ketika anak mendapatkan kesempatan untuk mencoba berbagai media, Mama bisa melihat aktivitas mana yang paling membuatnya tertarik. Dari sana, anak pun memiliki ruang untuk mengembangkan kreativitas sekaligus melatih keterampilan motorik halusnya.

2. Suka bermain pura-pura? Ikuti alur cerita yang dibuatnya

Pexels/Polesie Toys

“Boneka ini jadi Mama, ya. Aku jadi dokternya!”

Kalau anak sering membuat cerita sendiri, berpura-pura menjadi orang lain, atau menggunakan benda di sekitarnya sebagai bagian dari permainan, Mama bisa mengikuti alur yang dibuatnya.

Permainan pura-pura atau pretend to play, dapat menjadi cara anak mengeksplorasi imajinasi dan berbagai situasi yang ia temui dalam kehidupan sehari-hari. Mama bisa menyediakan:

  • boneka,

  • buku cerita,

  • kartu bergambar,

  • benda sederhana yang aman untuk digunakan dalam permainan.

Tidak perlu selalu menentukan jalan ceritanya. Cukup berikan pemantik agar anak mengembangkan imajinasinya sendiri.

Misalnya, Mama bisa mengatakan:

“Wah, kelincinya ingin tahu nama-nama hewan. Siapa yang bisa mengajarinya?”

Setelah itu, biarkan anak menentukan jawabannya dan melanjutkan cerita. Dari permainan seperti ini, Mama juga bisa mengamati apakah anak lebih tertarik bercerita, bermain peran, mengenal gambar, atau mengeksplorasi kosakata baru.

3. Gemar bongkar-pasang? Beri tantangan untuk mencoba

Pexels/Polesie Toys

Anak yang sedang bosan mungkin justru mencari benda yang bisa dibongkar, disusun, atau dipasangkan kembali. Ia bisa menghabiskan waktu mencoba menyusun balok, memasangkan puzzle, atau membuat bentuk tertentu dari mainan konstruksi.

Jika hal tersebut membuat anak penasaran dan ingin mencoba lagi ketika gagal, Mama bisa menyediakan permainan yang memberi kesempatan untuk bereksplorasi.

Balok, puzzle, magnetic tiles, atau permainan konstruksi sesuai usia dapat menjadi pilihan. Mama tidak perlu langsung memberikan solusi ketika susunan anak roboh atau ia kesulitan memasangkan sebuah bagian.

Berikan kesempatan kepada si Kecil untuk mencoba dan menemukan jawabannya sendiri. Mama bisa mendampingi dengan pertanyaan sederhana seperti:

“Kalau bagian ini dipindahkan, kira-kira bisa lebih kuat tidak?”

Dengan begitu, anak tetap memiliki kendali atas permainannya. Mama pun bisa melihat apakah ia menikmati aktivitas yang membutuhkan proses mencoba, menyusun, mencari pola, dan menemukan solusi.

4. Suka lari, lompat, atau memanjat? Salurkan energinya

Pexels/Yan Krukau

Ada pula anak yang ketika bosan justru tidak bisa diam. Ia mungkin berlari dari satu ruangan ke ruangan lain, melompat di atas bantal, atau mencari sesuatu untuk dipanjat.

Daripada hanya meminta anak berhenti bergerak, Mama bisa mengamati aktivitas fisik seperti apa yang paling menarik baginya, kemudian menyediakan ruang yang lebih aman untuk menyalurkan energinya.

Mama bisa membuat obstacle course sederhana di rumah menggunakan bantal, kardus, atau benda lain yang aman. Anak dapat diajak berjalan mengikuti garis, melompat melewati bantal, merangkak, atau melewati rintangan sederhana.

Tidak perlu membuat permainan yang rumit. Manfaatkan ruang yang tersedia sambil memastikan area bermain bebas dari benda tajam, licin, mudah pecah, atau benda yang mudah roboh.

Dari kebiasaan tersebut, Mama dapat melihat apakah anak lebih menikmati aktivitas yang melibatkan gerakan, keseimbangan, koordinasi, atau tantangan fisik.

5. Suka mengamati dan bertanya? Dukung rasa ingin tahunya

Pexels/Fabiano Cardoso

Minat anak tidak selalu terlihat dari permainan yang ia pilih. Ketika bosan, ada anak yang justru duduk memperhatikan sesuatu, membuka buku, melihat serangga, mengamati benda di rumah, atau terus mengajukan pertanyaan.

Jika anak menunjukkan kebiasaan tersebut, Mama bisa mengikuti rasa ingin tahunya tanpa harus selalu memberikan jawaban.

Misalnya, ketika anak penasaran mengapa sebuah benda bisa mengapung, Mama dapat mengajaknya mencoba beberapa benda yang aman di dalam wadah berisi air. Biarkan ia menebak terlebih dahulu, kemudian melihat apa yang terjadi.

Mama juga bisa menyediakan buku sesuai topik yang sedang menarik perhatiannya atau mengajaknya mengamati lingkungan sekitar.

Cara sederhana ini dapat membantu Mama mengetahui topik atau kegiatan yang membuat anak tertarik lebih lama. Yang terpenting, jangan terburu-buru mengarahkan anak pada minat tertentu hanya karena Mama melihat satu kebiasaan.

Minat anak bisa berubah seiring bertambahnya usia dan pengalaman. Jadi, berikan kesempatan kepada anak untuk mencoba, mengeksplorasi, dan menemukan hal-hal yang benar-benar membuatnya tertarik.

Itulah 5 cara melihat minat anak dari tingkah lakunya saat sedang bosan. Beri anak ruang untuk mencoba dan jangan takut membiarkannya sesekali mencari kegiatan sendiri, ya Ma.

Curated For You

Editorial Team

Related Article