8 Kalimat yang Tidak Boleh Diucapkan Orangtua pada Anak

Perkataan Mama bisa berdampak besar bagi perkembangan anak

4 April 2021

8 Kalimat Tidak Boleh Diucapkan Orangtua Anak
Freepik/Bilanol

Meskipun menjadi orangtua adalah salah satu tantangan berharga yang dapat dilakukan setiap orang dewasa, menjaga lisan juga salah satu yang paling sulit.

Tak jarang orangtua yang melupakan kebutuhan emosional anak, yang pada gilirannya dapat berdampak buruk pada perkembangan dan kesejahteraan mentalnya. Terlebih lagi, ketika tidak sengaja mengatakan hal-hal yang berdampak negatif pada pikiran anak.

Kalimat negatif berisiko menumbuhkan masalah jangka panjang seperti kepercayaan diri yang rendah, harga diri yang berkurang, dan rasa kompetitif yang tidak sehat.

Apa saja ya kalimat yang tidak boleh diucapkan orangtua kepada anak selama masa perkembangannya? Yuk cari tahu di artikel Popmama.com berikut ini!

1. “Jangan membuat Mama malu padamu.”

1. “Jangan membuat Mama malu padamu.”
Freepik

Menggunakan kalimat yang ekstrem dan emosional seperti "jangan membuat Mama malu padamu", berisiko melukai anak secara emosional dan menghalangi kemampuannya untuk memproses pujian dan kritik yang membangun.

Anak yang mendengar frasa ini juga cenderung terus mencari persetujuan di mata orang lain, dan ini dapat menimbulkan masalah yang signifikan, ketika anak mencoba membentuk hubungan sosial di kemudian hari.

2. "Mama berjanji kita bisa pergi berlibur tahun ini."

2. "Mama berjanji kita bisa pergi berlibur tahun ini."
Freepik/Alf061

Sebaliknya, menjanjikan anak dengan hadiah dapat merugikan, aplagi ketika Mama menarik janji tanpa pemberitahuan atau hanya alasan. Hal ini dapat menciptakan masalah kepercayaan antara Mama dan anak, sementara itu juga dapat menghalangi anak untuk menjalin ikatan dengan orang lain.

Orangtua dapat berargumen bahwa ada kendala keuangan yang menghalanginya untuk memesan liburan yang direncanakan, namun selalu lebih baik untuk mencari alternatif yang terjangkau daripada mengingkari janji sepenuhnya.

Di atas segalanya, ingatlah pentingnya sebuah janji dalam benak seorang anak.

3. “Saat seusiamu, Mama melakukannya dengan baik-baik saja.”

3. “Saat seusiamu, Mama melakukan baik-baik saja.”
Freepik/Rawpixel-com

Jika terus-menerus merujuk pada pencapaian Mama ketika menjadi seorang anak, Mama dapat menumbuhkan rasa kompetitif yang tidak sehat pada anak dan menciptakan rasa putus asa untuk meningkatkan harga dirinya.

Meskipun ini tidak selalu berbahaya selama masa kanak-kanak, ini dapat berisiko di kemudian hari karena mendorong anak mengejar tujuan untuk menyenangkan orang lain daripada kepuasan pribadinya.

Hal ini dapat menyebabkan ketidakbahagiaan jangka panjang dan menghalangi anak untuk menikmati hidup yang bahagia dan puas.

Editors' Picks

4. "Anak-anak lain mendapat nilai yang lebih baik daripada kamu saat ujian itu."

4. "Anak-anak lain mendapat nilai lebih baik daripada kamu saat ujian itu."
Freepik/Alf061

Membandingkan tingkat pencapaian anak sangat berdampak pada kemampuannya untuk membentuk hubungan dengan teman-teman seusianya. Bukannya melihat nilai dalam persahabatan, anak lebih cenderung melihat temannya sebagai pesaing yang harus dikalahkan setiap kesempatan.

Ini tidak hanya menghambat perkembangan sosial anak, namun juga berdampak pada cara anak memandang orang lain.

Mungkin yang lebih mengkhawatirkan adalah, membandingkan anak secara negatif dengan teman sekelasnya dapat menimbulkan masalah harga diri di kemudian hari, serta kecenderungan bawaan untuk pembuktian diri sesuai dengan tindakan orang lain.

5. “Kamu tidak akan tumbuh menjadi kuat jika tidak menghabiskan makananmu.”

5. “Kamu tidak akan tumbuh menjadi kuat jika tidak menghabiskan makananmu.”
Freepik/Kasipat

Ini adalah frasa yang umum, yang bermaksud baik tetapi dapat berdampak negatif pada anak. Gangguan makan dan fobia tertentu mungkin muncul selama masa kanak-kanak, kadang-kadang sebagai akibat dari trauma.

Dalam hal ini, Mama menggunakan bentuk manipulasi untuk mencapai hasil yang diinginkan, dan ini dapat menyebabkan anak terlalu menekankan pentingnya makanan dan konsekuensi jika tidak makan.

Sebaliknya, lebih baik untuk mendorong anak mengonsumsi makanan tertentu dengan menjelaskan manfaat kesehatannya, atau sebagai alternatif, membuat proses makan lebih menarik dengan piring karakter, perbanyak variasi lauk yang disusun dengan warna-warni, dan suasana yang hangat saat makan bersama.

6. “Kamu sama seperti Papa mu (atau Mama mu).”

6. “Kamu sama seperti Papa mu (atau Mama mu).”
Freepik/rawpixel.com

Dampak dari kalimat yang satu ini sangat bergantung dari cara penyampaiannya, walaupun sebaiknya Mama menghindari mengatakannya dengan cara apa pun. Bahkan ketika kalimat ini dilakukan dalam lelucon.

Menyampaikan kalimat ini dapat menciptakan konotasi negatif dalam pikiran anak dan memiliki pandangan yang abstrak dari sifatnya yang berkaitan dengan orangtua tertentu. Tetapi dampak ini tidak seberapa dibandingkan ketika diucapkan dalam kemarahan.

Dalam hal ini, Mama atau Papa menunjukkan tanda yang jelas bahwa sedang tidak bahagia dengan hubungan, bahkan secara tidak sengaja melibatkan anak dalam konflik orangtua.

Secara tidak sadar, anak juga menjadi pelampiasan bawah sadar untuk kecemasan dan frustrasi Mama, yang pada gilirannya dapat menurunkan harga dirinya dan menciptakan gangguan yang tidak diinginkan di sekolah.

Dengan mengingat hal ini, berusahalah untuk menghindari perbandingan negatif antara anak dan pasangan.

7. “Mama tidak ingin mendengar kata-kata lagi darimu.”

7. “Mama tidak ingin mendengar kata-kata lagi darimu.”
Freepik/Vgstockstudio

Tentunya anak-anak terkadang bisa menjadi gaduh dan riuh, dan sebagai orangtua, tugas Mama adalah mengatur perilaku anak sesuai dengan situasi.

Sebaliknya, Mama tidak boleh membuat batasan yang mencegah anak untuk mengekspresikan diri, atau berusaha mengekang kenakalan alami yang seringkali merupakan tanda kecerdasan atau kreativitas.

Dalam pikiran anak yang masih berkembang, hal ini cenderung menumbuhkan perasaan bersalah dan tidak mampu. Daripada menggunakan bahasa yang kasar dan memotong, Mama harus lebih fokus pada nada bicara yang lembut namun tegas saat menyuruh anak untuk tidak berbicara dengan keras.

8. “Jika kamu melakukan ini untuk Mama, nanti Mama akan mencintaimu selamanya.”

8. “Jika kamu melakukan ini Mama, nanti Mama akan mencintaimu selamanya.”
Freepik/ wavebreakmedia

Mama mungkin menyadari masalah dalam kalimat ini, di mana seharusnya orangtua mencintai anak secara kekal dan tanpa syarat.

Jenis frasa ini menunjukkan rasa kasih sayang yang bergantung pada perilaku anak dan pemenuhan keinginan, dan kalimat ini dapat memiliki dampak besar saat anak tumbuh dan berusaha membentuk hubungan dengan orang lain.

Ungkapan seperti ini bila digunakan terus menerus, membuat anak untuk tumbuh menjadi orang yang merelakan kesenangannya demi orang lain, karena ia mengesampingkan keinginannya sendiri untuk memuaskan orang lain, terlepas dari situasinya.

Risiko ini harus dihilangkan dengan cara apa pun, karena Mama harus selalu mengingatkan anak bahwa Mama menyayanginya tanpa bersyarat sama sekali, dan tidak terkait dengan perilaku atau nilai anak.

Menjaga lisan memang bukan perkara yang mudah, terutama ketika harus berkomunikasi dengan anak. Bahkan ada istilah yang menyebutkan, “mulutmu, harimaumu” yang mengingatkan Mama agar selalu menjaga ucapan pada anak.

Karena terkadang tidak disadari, hati seorang anak dapat lebih terluka dari ucapan orangtuanya. Setelah mengetahui kalimat apa saja yang tidak boleh orangtua ucapkan pada anak, kini harus lebih berhati-hati lagi sebelum berbicara pada anak ya, Ma.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.