Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Overtired pada Anak, Ini Cara Mengenali dan Menanganinya!
Pexels/Werner Pfennig
  • Si Kecil yang overtired mengalami lonjakan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin, membuat mereka tampak hiperaktif meski sebenarnya sangat lelah dan sulit menenangkan diri untuk tidur.

  • Overtired menyebabkan otak si Kecil bekerja terlalu cepat, menurunkan kendali emosi dan logika sehingga muncul perilaku rewel, tertawa histeris, atau menolak tidur tanpa alasan jelas.

  • Mengatasi overtired dapat dilakukan dengan memajukan waktu tidur lebih awal, menciptakan suasana kamar tenang, serta memberikan pelukan hangat agar si Kecil merasa aman dan mudah terlelap.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Melihat si Kecil yang mendadak menjadi sangat aktif, melompat-lompat, dan tertawa histeris saat jam tidur malam tiba sering kali membuat Mama mengecap si Kecil sedang bertingkah atau nakal. 

Ternyata, kondisi ini dikenal dengan istilah overtired atau terlalu lelah, di mana perilaku si Kecil justru akan terlihat sangat aneh dan bertolak belakang dengan kondisi fisik mereka yang sebenarnya. 

Bukannya terlihat mengantuk atau lemas, si Kecil yang sudah melewati batas waktu tidurnya akan mengalami lonjakan energi yang membuat otak dan fisiknya berpacu sangat cepat sehingga mereka kesulitan untuk menenangkan diri secara mandiri.

Berikut Popmama.com rangkum fakta ilmiah dan tips praktis untuk mengenali serta mengatasi kondisi si Kecil yang terlalu lelah agar bisa tidur nyenyak!

1. Memahami lonjakan hormon stres yang picu second wind

Pexels/Alex Green

Ketika si Kecil yang sudah mengantuk berat terpaksa atau tidak sengaja melewati jam tidur idealnya, tubuh mereka akan menunjukkan reaksi biologis yang sangat unik. 

Saat otak mendeteksi overtired namun mata dipaksa tetap terjaga, kelenjar adrenal di dalam tubuh mereka akan melepaskan hormon stres berupa kortisol dan adrenalin secara mendadak ke dalam aliran darah. 

Lonjakan hormon inilah yang menciptakan fenomena bernama second wind atau embusan energi kedua, sebuah kondisi yang membuat si Kecil mendadak terlihat sangat segar, memiliki tenaga berlipat ganda, dan mendadak hiperaktif layaknya anak yang baru bangun tidur di pagi hari. 

Mekanisme ini sebenarnya adalah respons alami tubuh untuk bertahan hidup agar tetap terjaga dalam kondisi darurat, namun pada anak-anak, zat kimia ini justru akan mengunci sistem saraf mereka dalam kondisi waspada tinggi sehingga merusak fase kantuk alami mereka dan membuat proses menuju tidur menjadi berkali-kali lipat lebih sulit.

2. Ritme kerja otak anak bekerja sangat cepat

Pexels/Atlantic Ambience

Fenomena membingungkan lainnya yang terjadi pada si Keci; yang mengalami overtired adalah ritme kerja otak mereka yang justru mengalami percepatan laju secara drastis. 

Ketika hormon kortisol sudah membanjiri sistem saraf pusat, area korteks prefrontal pada otak si Kecil yang berfungsi mengatur emosi, logika, dan kendali diri akan mengalami penurunan fungsi karena kelelahan yang teramat sangat. 

Akibat dari kondisi ini, pikiran dan imajinasi si Kecil akan melaju sangat cepat tanpa arah yang jelas, sehingga memicu mereka untuk terus mengoceh tanpa henti, berlarian ke sana kemari, tertawa histeris tanpa sebab, atau mendadak mengamuk karena hal-hal kecil yang sepele.

Anak-anak kehilangan kemampuan untuk memproses sinyal lelah tubuh mereka sendiri karena stimulasi internal di dalam kepalanya sedang berputar sangat kencang, sehingga mereka terjebak dalam siklus terjaga yang sangat melelahkan fisik mereka.

3. Menolak tidur malam merupakan tanda kelelahan

Pexels/cottonbro studio

Satu hal yang paling sering memicu konflik di dalam kamar adalah ketika si Kecil mulai melakukan penolakan keras saat disuruh tidur malam. 

Penting untuk dipahami bahwa perilaku menolak tidur, menangis histeris, memukul bantal, atau memeluk kaki Mama erat-erat di atas kasur itu bukanlah bentuk kenakalan yang sengaja ingin melawan perintah. 

Penolakan tersebut merupakan sebuah isyarat bawah sadar dari si Kecil yang sedang merasa takut dan tidak nyaman karena kehilangan kendali atas tubuhnya yang terlalu lelah, sehingga mereka menganggap tidur sebagai sebuah “ancaman perpisahan”. 

Hambatan tidur ini sebenarnya adalah tanda mereka ingin dekapan dan kehadiran emosional yang kuat dari Mama agar mereka merasa aman untuk tidur.

4. Ciri utama emosi anak yang mulai mengalami overtired

Pexels/Liliana Drew

Untuk mencegah tubuh si Kecil kebanjiran hormon stres yang membuatnya terjaga semalaman, Mama wajib mengenali ciri utama dari sisi emosional yang ditunjukkan si Kecil saat mulai memasuki fase terlalu lelah. 

Ciri emosional yang paling menonjol adalah perubahan suasana hati yang terjadi secara sangat mendadak dan ekstrem, di mana si Kecil menjadi sangat rewel (cranky) dan mudah sekali meledak marah hanya karena masalah sepele yang biasanya tidak mereka permasalahkan sama sekali. 

Selain itu, si Kecil juga akan menunjukkan tingkat frustrasi yang sangat tinggi saat melakukan aktivitas sederhana, mudah tersinggung saat diajak bicara, dan mulai menolak segala bentuk arahan dengan cara menangis kencang. 

5. Perubahan gerakan fisik yang menandakan overtired

Pexels/cottonbro studio

Selain dari sisi emosional, kondisi overtired juga bisa dideteksi melalui perubahan gerakan fisik yang ditunjukkan oleh si Kecil menjelang jam tidurnya. 

Ciri fisik yang paling terlihat adalah munculnya gerakan tubuh yang sangat kikuk atau tidak terkoordinasi dengan baik, di mana si Kecil menjadi sering tersandung saat berjalan di lantai yang rata, berulang kali menjatuhkan barang yang sedang dipegangnya, atau mulai menggosok mata, wajah, dan telinga mereka secara agresif. 

Ciri fisik lainnya yang sering mengecoh Mama adalah ketika si Kecil tiba-tiba menunjukkan ketertarikan yang meledak-ledak pada mainannya atau mendadak melompat-lompat di atas kasur dengan sangat aktif, yang sebenarnya merupakan cara fisik mereka untuk mengalihkan rasa kantuk yang tertahan agar tidak tertidur.

6. Memajukan waktu tidur malam lebih awal dari biasanya

Pexels/cottonbro studio

Langkah yang bisa Mama coba ketika si Kecil overtired adalah dengan mulai memajukan jadwal tidur malam mereka lebih awal dari jam biasanya. 

Jika si Kecil menunjukkan tanda-tanda tidak tidur siang dengan nyenyak, melewatkan jam tidur siangnya karena beraktivitas di luar, atau baru saja melakukan aktivitas fisik yang sangat padat di sore hari, jadwal tidur malamnya sebaiknya dimajukan sekitar 30 hingga 60 menit lebih cepat. 

Mengatur ulang waktu tidur ini bertujuan untuk memberikan kesempatan bagi tubuh si Kecil untuk menangkap sinyal kantuk mereka sebelum tubuhnya menjadi terlalu lelah dan melepaskan hormon kortisol.

7. Memeluk anak dengan hangat

Pexels/Yan Krukau

Ketika si Kecil sudah telanjur mengalami overtired dan mulai mengamuk di atas kasur, metode terbaik untuk menenangkan sistem sarafnya adalah dengan memberikan pelukan erat yang hangat. 

Dekapan dada yang lembut dari Mama terbukti mampu merangsang pelepasan hormon oksitosin yang dapat menurunkan kadar kortisol di dalam tubuh si Kecil secara instan sekaligus memberikan rasa aman. 

Setelah si Kecil mulai tenang di dalam dekapan, Mama bisa melengkapinya dengan lima langkah penanganan kamar tidur, yaitu: 

  • Meredupkan lampu kamar secara total

  • Mematikan semua layar digital sejak satu jam sebelumnya

  • Menyalakan pemutar suara bising putih (white noise) untuk menyamarkan kegaduhan

  • Mengoleskan minyak aromaterapi yang menenangkan pada dada si Kecil

  • Membisikkan kalimat atau nyanyian berirama lambat secara konsisten hingga ia terlelap.

Intinya, Ma, selalu ingat bahwa saat si Kecil berontak dan menolak tidur, mereka sedang tidak berniat untuk menyiksa Mama, melainkan sedang kewalahan menghadapi pengaruh hormon dari dalam diri mereka sendiri.

Kira-kira dari beberapa ciri si Kecil overtired yang sudah dibahas di atas, ciri mana yang paling sering ditunjukkan oleh si Kecil di rumah saat ia sudah terlalu lelah di malam hari, Ma?

Editorial Team