Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
anak makan makanan sehat
Pexels/cottonbro studio

Intinya sih...

  • Pola makan seimbang berperan penting dalam menjaga mood, fokus, dan perilaku anak, sehingga berdampak langsung pada motivasi belajar dan prestasi di sekolah.

  • Kekurangan mikronutrien seperti zat besi dapat membuat anak mudah lelah, sulit konsentrasi, mudah marah, dan berisiko mengalami penurunan kemampuan belajar.

  • Peran orangtua sangat krusial dalam membentuk kebiasaan makan sehat melalui contoh nyata, salah satunya dengan rutin makan bersama dan menyajikan menu bergizi seimbang di rumah.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Pola makan anak sering kali dianggap sepele selama si Kecil terlihat kenyang dan aktif. Padahal, apa yang dikonsumsi anak setiap hari punya pengaruh besar terhadap mood, perilaku, hingga prestasi belajarnya di sekolah. 

Asupan gizi yang tidak seimbang bisa membuat anak lebih mudah lelah, sulit fokus, bahkan emosinya kurang stabil.

Lewat Popmama Talk Januari 2026, dr. Nany Leksokumoro, Sp. GK., Spesialis Gizi Klinik dari Eka Hospital Pluit, mengungkap bahwa keseimbangan makronutrien dan mikronutrien sangat penting untuk mendukung perkembangan otak dan tumbuh kembang anak secara optimal.

Berikut Popmama.com rangkum informasi selengkapnya!

1. Mood hingga prestasi anak bisa terpengaruh pola makan si Kecil

Popmama.com/Hari Firmanto

Pola makan anak bukan sekadar soal kenyang atau tidak, tetapi juga berdampak besar pada motivasinya belajar, suasana hati (mood), perilaku, dan kemampuan fokus setiap hari. 

Dokter Nany Leksokumoro, Sp. GK., Spesialis Gizi Klinik dari Eka Hospital Pluit, menjelaskan bahwa makronutrien seperti karbohidrat, protein, dan lemak punya peran penting untuk energi dan mood. Karbohidrat, misalnya, membantu menjaga kadar gula darah sehingga mood dan fokus bisa lebih stabil.

"Kalau dari makro, kita sudah kenal protein, karbo, dan lemak kalau dari ini yang berpengaruh ke mood karbohidrat. namun, untuk jangka panjang perlu ketiganya," jelas dokter Nany saat Popmama Talk Januari 2026.

Orangtua perlu tahu kalau pola makan yang tinggi gula dan makanan olahan ternyata dapat memicu sugar crash yang membuat anak mudah marah dan kehilangan konsentrasi. Ini sejalan dengan sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa diet tinggi gula dan makanan ultra-processed berkaitan dengan perubahan perilaku, kurang fokus, dan mood swing pada anak. 

Pemilihan makanan seimbang membantu stabilkan energi dan emosi anak, sehingga lebih siap menghadapi aktivitas sekolah sekaligus mendukung kemampuan akademiknya.

2. Kekurangan mikronutrien bisa menurunkan konsentrasi

Pexels/cottonbro studio

Bicara pola makan tak seimbang, kita sering fokus pada porsi makanan tapi lupa soal mikronutrien yakni zat gizi seperti zat besi, vitamin, dan mineral yang dibutuhkan dalam jumlah kecil namun sangat penting. Banyak anak yang tampaknya kenyang karena makan banyak nasi atau camilan, tetapi sebenarnya tubuhnya kekurangan mikronutrien penting. 

Dokter Nany menyebut contoh kekurangan zat besi, dikenal sebagai salah satu penyebab anemia yang membuat anak mudah lelah, pucat, dan sulit berkonsentrasi di kelas. Dampaknya tidak hanya ke fisik, tetapi juga ke fungsi otak dan kemampuan belajar.

"Misalnya anak yang kekurangan zat besi, bagaimana pengaruhnya ke mood? Anaknya jadi lesu, pucat dan kurang mau bersosialisasi. Paling penting di sekolah, konsentrasi anak tersebut menurun. Lalu ketika gurunya menegur dia gampang marah atau temperamen," jelasnya.

3. Mengapa konsumsi makanan seimbang penting untuk perkembangan otak?

Freepik

Dokter Nany menyinggung soal hubungan antara pola makan seimbang anak dengan kemampuannya menyerap informasi, apalagi jika si Kecil masih dalam proses pertumbuhan. 

Awalnya mungkin orangtua sulit mengidentifikasi gangguan fokus hingga menurunnya prestasi di sekolah. Jika dilihat lebih dalam, bisa jadi karena tidak seimbangnya asupan gizi yang dibutuhkan si Kecil.

"Memang sesaat tidak mengidentifikasi hal ini, tapi dari hari ke hari akan tampak anak itu, prestasinya kok menurun misalnya dan cenderung diam serta tidak mau bergaul. Dampaknya sangat besar untuk jangka panjang karena anak ini akan gagal dalam tumbuh kembang. Istilahnya sampai masa remajanya selesai," jelas dokter Nany.

4. Peran Orangtua: Jadikan makan seimbang sebagai kebiasaan keluarga

Pexels/Pavel Danilyuk

Dalam kehidupan modern saat ini, banyak orangtua bekerja sehingga waktu makan bersama keluarga jadi kurang. Padahal, makan bersama bukan hanya soal nutrisi yang masuk ke piring, tetapi juga tentang kebiasaan pola makan sehat yang ditiru anak. 

Dokter Nany menekankan pentingnya orangtua, baik papa maupun mama, makan bersama beberapa kali seminggu agar suasana makan jadi nyaman, penuh kasih, dan positif. Ini membantu anak merasa aman dan lebih terbuka menerima makanan baru sekaligus membentuk hubungan emosional yang kuat.

"Jadi usahakan beberapa kali dalam seminggu makan bersama di rumah. Nah, kenyamanan ini yang akan mengkondisikan si Anak untuk menumbuhkan rasa euforia yang senang, secure. Alias punya suasananya menyenangkan untuk makan," tuturnya.

Belum lagi jika makan bersama keluarga juga memberi contoh langsung tentang pilihan makanan sehat, lengkap dengan porsi seimbang nasi, sayur, buah, protein, lemak yang penting untuk kebutuhan gizi si Kecil. Ini tidak hanya mendukung tumbuh kembang fisik, tapi juga stabilkan mood, tingkatkan fokus, dan dorong prestasi anak. 

Pendekatan ini sejalan dengan pandangan ahli yang menyebut bahwa nutrisi yang tepat sejak dini membantu emosi, perilaku, dan perkembangan kognitif anak secara menyeluruh.

"Jadi papa dan mama juga harus menyantap makanan yang seimbang, ada nasi, sayur, lemak dan buah (agar anak mencontoh)," imbuh dokter Nany.

Itulah tadi informasi mengenai pola makan tak seimbang berpengaruh ke prestasi anak. Semoga membantu!

POPMAMA TALK Januari 2026 - dr. Nany Leksokumoro, Sp. GK
Spesialis Gizi Klinik dari Eka Hospital Pluit

  
Senior Editor - Novy Agrina   
Editor - Onic Metheany & Denisa Permataningtias  
Content Writer - Putri Syifa Nurfadilah & Sania Chandra Nurfitriana   
Script - Sania Chandra Nurfitriana   
Social Media - Irma Erdiyanti 
Photographer - Hari Firmanto 
Videographer - Hari Firmanto  
Video Editor - Hari Firmanto
Design - Aristika Medinasari

Editorial Team