Tanpa Mama Sadari, 5 Hal Ini Bisa Membuat Anak Malu!

Sepele, namun fatal, Ma.

24 Desember 2018

Tanpa Mama Sadari, 5 Hal Ini Bisa Membuat Anak Malu
Freepik/ Oleg Baliuk

Mama tentu ingin anak tumbuh mandiri dan penuh percaya diri. Namun di lain sisi, tanpa Mama sadari ada banyak hal yang Mama lakukan dan membuat anak malu!

Perlu Mama ketahui, anak yang sering dipermalukan bisa tumbuh menjadi sosok yang tak percaya diri lho, Ma.

Ya, enggak cuma body-shaming dan lunch-shaming saja yang bisa membuat anak tidak percaya diri, namun sikap kids-shaming yang Mama lakukan juga bisa.

Apa saja sih sikap yang tanpa disadari sering dilakukan, dan bisa membuat anak malu? Simak beberapa hal di bawah ini yuk, Ma.

1. Menghakimi pilihan anak

1. Menghakimi pilihan anak
Freepik/jcomp

Dalam memilih pakaian, warna krayon, hingga perpaduan makanan, selera anak-anak memang bisa sangat unik dan mengejutkan.

Seorang balita bahkan bisa memadukan nasi dengan lauk sereal cokelat atau bahkan kemeja formal dengan celana renang.

Mereka hanya ingin mencoba, sekadar eksperimen, dan mungkin sekadar mencari tahu reaksi orang sekitarnya ketika ia melakukan hal ‘unik’ tersebut.

Maka ketika reaksi Mama, “Hah?? Selera kamu aneh banget sih! Jangan begitu ah!” tentu saja itu bisa membuat anak malu, terlebih jika Mama mengatakannya di depan orang lain.

Jika aksi unik anak Mama dirasa kurang tepat (misal, memakai kemeja dan celana renang ke resepsi pernikahan), beri tahu alasan Mama kenapa itu tidak bukan pakaian yang tepat.

Anak berhak mendapat penjelasan kenapa Mama tidak suka dengan sikapnya.

Dari situ anak akan belajar untuk mengambil keputusan yang lebih tepat, tanpa harus dibuat malu karena pilihan yang unik.

2. Meminta anak untuk tidak menangis

2. Meminta anak tidak menangis
Freepik

“Daripada meminta anak untuk tidak menangis, lebih baik masuklah ke posisi anak dan ketahui apa yang anak rasakan,” saran Anastasia Moloney, pakar perkembangan awal anak, pada situs Healthyway.

“Ssst, jangan menangis!” justru akan membuat anak tambah sedih dan malu jika Mama mengatakannya di depan umum.

Untuk itu, lebih baik katakan, “Mama mengerti, pasti sakit ya jatuh dari sepeda,” sambil mengajaknya menjauh dari kerumunan orang yang hanya menonton anak Mama kesakitan, bukan menolongnya.

Editors' Picks

3. Memarahi di depan umum

3. Memarahi depan umum
Freepik/Freephoto

Apapun alasannya, seburuk apapun kesalahan yang anak lakukan, memarahi anak di depan umum sungguh bukan hal yang keren untuk dilakukan.

Memarahi anak justru hanya memperkeruh suasana, membuat anak malu, dan tidak menginspirasinya untuk bersikap lebih baik.

Tidak hanya memarahi, sekadar menunjuk-nunjuk anak dari jauh ketika ia bermain di taman juga memberi efek yang sama.

Untuk itu, daripada mendisiplinkan anak di depan umum, lebih baik ajak anak rehat sebentar, tenangkan diri, sambil menyematkan nasihat ringan.

Bukankah itu yang kita semua butuhkan ketika baru saja melakukan kesalahan?

4. Menertawakan pendapat anak

4. Menertawakan pendapat anak
Freepik/freephoto

“Semua orangtua mau anaknya belajar dari sebuah situasi dan menjadi lebih baik. Mama boleh tegas, tetapi harus tetap menghormati pendapatnya,” saran Anastasia.

Daripada tidak menghiraukan pendapat anak, atau bilang “Ah, anak kecil sok tahu!” lebih baik beri penjelasan yang kira-kira bisa dimengerti anak.

Sebagai contoh, anak tentu tidak mengerti ilmu finansial yang Mama pelajari saat kuliah ekonomi dulu. Namun ketika gagasan ‘cerdas finansial’ versi anak muncul, jangan ditertawakan, Ma. 

Kalau ada yang salah, kenapa tidak diluruskan dengan penjelasan yang ramah anak? Win-win solution, bukan?

5. Tidak membiarkan anak mandiri

5. Tidak membiarkan anak mandiri
Pexels/evgphotos

Saat anak mulai bisa mengikat tali sepatu sendiri, maka ia sedang menunjukkan kemampuannya untuk mandiri. Namun ketika Mama sedang buru-buru, membiarkan anak pakai sepatu sendiri rasanya terlalu buang-buang waktu.

Untuk menyingkat waktu, kalimat seperti ini pun bisa keluar dari mulut Mama:

“Duh, kelamaan! Sini deh Mama yang pakaikan saja bajunya, biar cepat!”

“Kamu pakai sepatu saja lama banget sih! Mama pakaikan saja, deh.”

Mungkin maksud Mama hanya untuk mempersingkat waktu, maka sekali ini saja anak tidak perlu pakai baju sendiri atau mengikat tali sepatu sendiri. Namun tanpa Mama sadari, sikap seperti ini bisa membuat anak malu.

Terlebih, jika Mama melakukan di depan banyak orang, sambil membesar-besarkan kesalahan anak. Entah kesalahan karena terlalu lama mengikat tali sepatu, atau kesalahan cara anak saat mengikat tali sepatu sendiri.

Bayangkan jika orang lain melakukan hal yang sama pada kesalahan yang Mama lakukan. Tidakkah itu membuat Mama malu?

Walau masih kecil, namun anak juga punya perasaan, Ma. Stop membuat malu anak di depan umum!

Berlangganan Newsletter?

Mau dapat lebih banyak informasi seputar parenting?
Daftar sekarang!