Deputi Bidang Kreativitas dan Desain Kementerian Ekonomi/Badan Ekonomi RI, Yuke Sri Rahayu menegaskan bahwa kekuatan utama produk kreatif lokal bukan hanya pada barangnya, tetapi pada value dan cerita di balik setiap karya. Di era ketika masyarakat membeli karena alasan emosional, bukan sekadar kebutuhan, storytelling menjadi pembeda paling kuat.
"Ekraf mendorong pelaku usaha untuk tidak berfokus pada perang harga, melainkan membangun karakter, diferensiasi, dan keunikan yang membuat produk punya alasan untuk dipilih. Strategi ini berjalan beriringan dengan kampanye seperti Beli Kreatif Lokal dan Bangga Buatan Indonesia, yang bertujuan menyejahterakan para pelaku ekonomi kreatif sekaligus memperkuat pasar lokal," katanya.
Untuk mencapai itu, Ekraf menekankan perlunya kerja sama lintas sektor melalui konsep Hexahelix: kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah, akademisi, media, lembaga keuangan, komunitas bisnis, hingga masyarakat. Menurut mereka, ekosistem ekonomi kreatif hanya dapat tumbuh ketika semua pihak bergerak bersama.
"Kolaborasi ini juga menjadi upaya untuk menghadapi gempuran produk luar, terutama produk murah dari China, dengan memberikan edukasi kepada konsumen bahwa membeli produk lokal berarti mendukung perajin, memperkaya budaya, dan memperkuat ekonomi bangsa. Produk kreatif lokal tidak hanya barang—tetapi jejak karya, identitas, dan keberlanjutan yang harus terus dijaga," tambahnya.
Ragam Kriya Nusantara menghadirkan bukti nyata, produk lokal yang kuat bukan hanya soal desain, tapi juga cerita, ketekunan, dan jaringan. Kalau Mama berencana belanja atau men-support usaha lokal, coba mampir ke pameran semacam ini kamu tidak cuma membeli barang, tetapi juga menopang mata rantai kreatif yang lebih besar.