Kakak Kelas Hukum 77 Siswa SMP di Maumere NTT, Makan Kotoran Manusia!

Kasus ini membuat siswa trauma dan akhirnya orangtua menuntut pelaku segera dipecat

26 Februari 2020

Kakak Kelas Hukum 77 Siswa SMP Maumere NTT, Makan Kotoran Manusia
Unsplash/Jeffrey Hamilton

Kasus perundungan atau yang dikenal dengan bullying pada anak nampaknya masih menjadi perhatian khusus. Terlebih pada siswa-siswi di bangku sekolah. 

Pendidikan di Indonesia telah mencatat banyaknya kasus bullying, seperti yang baru-baru ini terjadi. Tepatnya di Seminari Menengah Maria Bunda Segala Bangsa (BSB) di Maumere, Kabupaten Sikka, Provinsi NTT.

Diketahui sebanyak 77 siswa kelas VII mendapat perilaku yang tidak menyenangkan. Bahkan, membuat para orangtua miris atas kejadian ini. 
Bagaimana tidak, puluhan siswa SMP tersebut dihukum oleh kakak kelasnya yang dikenal dengan sebutan socius (kakak pembina) untuk memakan kotoran manusia (feses).

Kejadian keji ini berlangsung di salah satu ruang kelas sekolah itu, Rabu (19/2/2020). Namun, baru diketahui pada Jumat (21/2/2020). Secara lebih lanjut, berikut Popmama.com jelaskan lebih lanjut mengenai peristiwa tak manusiawi tersebut yang telah dilansir dari berbagai sumber. 

1. Berawal dari salah satu siswa BAB di kantong plastik

1. Berawal dari salah satu siswa BAB kantong plastik
Unsplash/Filios Sazeidez

Siswa berinisial Ar akhirnya angkat bicara mengenai perilaku tak terpuji yang didapat dari kakak kelasnya sendiri. Ia mengatakan bahwa peristiwa ini terjadi karena salah satu temannya BAB di kantong plastik.

Bukan tanpa alasan, teman Ar yang diketahui sedang sakit dan tidak tahan itu terpaksa BAB di kantong plastik karena pintu belakang menuju toilet terkunci sehingga tidak bisa keluar menuju toilet.

"Saat itu, dua socius kami lewat dan lihat itu. Dia tanya, kenapa, teman saya bilang ada tai. Setelah itu dia kumpulkan kami semua lalu suruh kami makan tai terus mereka bilang supaya ada sejarah dalam hidup," jelas Ar. 

2. Dipaksa makan kotoran manusia hingga muntah

2. Dipaksa makan kotoran manusia hingga muntah
Unsplash/Kat J

Setelah para kakak pembina sekolah mengetahui keberadaan kotoran manusia di dalam kantong plastik, mereka pun bertanya siapa yang melakukan. Namun, tidak ada yang mengakui perbuatan tersebut dan para senior justru menyuruh siswa lainnya untuk memakan feses tersebut sebagai bentuk hukuman.

Saat peristiwa itu terjadi, puluhan siswa yang menjadi korban lantas ketakutan, tetapi hanya bisa pasrah menerima hukuman. "Kami terima dan pasrah. Jijik sekali. Tetapi kami tidak bisa melawan," jelas salah satu korban.

Proses penghukuman dilakukan dengan cara menggunakan sendok dan menyuapkan feses pada siswa yang berjumlah 77 orang. Akhirnya, mereka pun muntah-muntah saat kejadian. 

3. Salah satu siswa kabur dan lapor orangtua

3. Salah satu siswa kabur lapor orangtua
Unsplash/Toa Heftiba

Meskipun para korban tetap menuruti perintah para senior mereka, ternyata ada salah satu siswa yang berhasil kabur dan mengadukan kejadian tidak menyenangkan tersebut pada orangtua.

"Tidak lama, kami dengar kalau orang sudah kasih naik di WA grup orangtua. Baru tidak lama orang datang ke sekolah. Romo baru tahu kejadian itu hari Jumat, tanggal 21 Februari," ungkap Ar. Kasus ini pun akhirnya terbongkar setelah ada korban yang melaporkan.

Tak hanya geram, orangtua juga merasa kecewa atas perilaku para pendamping. "Menurut saya, pihak sekolah beri tindakan tegas bagi para pelaku. Yang salah ditindak tegas. Bila perlu dipecat saja," kata Martinus, salah satu orangtua murid Seminari Menengah Maria Bunda Segala Bangsa (BSB) di Maumere. Martinus melanjutkan, bahwa ia memutuskan untuk memindahkan anaknya ke sekolah lain. 

Editors' Picks

4. Para siswa juga mendapat kekerasan fisik

4. Para siswa juga mendapat kekerasan fisik
Unsplash/Christian Erfurt

Sebelum kejadian hukuman makan kotoran manusia ini, salah satu korban justru mengaku bahwa mereka juga sering alami kekerasan fisik.

Namun, meski sering mendapat kekerasan fisik, mereka tidak berani mengadu kepada para guru atau pimpinan sekolah tersebut karena akan dihukum lagi oleh para socius atau kakak kelasnya. 

Jadi, peristiwa yang cukup memprihatikan ini ternyata sudah berlangsung beberapa kali. Para korban mengaku diancam untuk tidak membawa permasalahan ini ke luar sekolah sehingga baru terbongkar sekarang. 

5. Orangtua menuntut pelaku dipecat

5. Orangtua menuntut pelaku dipecat
Dok. Popmama.com

Orangtua para korban menuntut agar kedua pelaku dipecat. Menurut mereka, tindak kekerasan yang dialami oleh anak-anak mereka sudah melampaui batas kemanusiaan. 

"Kami minta pelaku dipecat saja," kata salah satu orangtua murid. 

Mengetahui tindak kekerasan yang dialami anak-anak mereka, sebagian besar orangtua memutuskan memindahkan anaknya dari sekolah seminari itu.

5. Tanggapan pihak sekolah atas kasus ini

5. Tanggapan pihak sekolah atas kasus ini
Unsplash/Taylor Wilcox

Mengetahui kabar tidak mengenakkan dan sudah terlanjur merebak luas ini, pimpinan Seminari Bunda Segala Bangsa Maumere, Romo Deodatus Du'u pun melakukan klarifikasi pada Selasa (26/2/2020). 

"Terminologi 'makan' yang dipakai oleh beberapa media saat memberitakan peristiwa ini agaknya kurang tepat sebab yang sebenarnya terjadi adalah seorang kakak kelas menyentuhkan sendok yang ada feses pada bibir atau lidah siswa kelas VII," jelasnya. 

Pihak sekolah menyatakan bahwa mereka meminta maaf pada korban dan mengaku telah mengeluarkan para senior yang menjadi pelaku hukuman. Selain itu, sekolah juga melakukan pendampingan pada korban, siswa kelas VII selama masa pemulihan psikologis dan pencegahan trauma. 

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.