Pada zaman Tiongkok kuno, masyarakat banyak mempercayai keberadaan roh dan dewa.
Dalam kepercayaan rakyat, seseorang yang meninggal secara wajar dipercaya dapat melanjutkan kehidupan melalui reinkarnasi.
Sementara itu, mereka yang meninggal secara tidak wajar atau dianggap memiliki kesalahan besar diyakini dapat menjadi roh yang berkeliaran di dunia manusia.
Beberapa roh bahkan dipercaya dapat membawa gangguan hingga menyebabkan musibah bagi orang yang masih hidup.
Kepercayaan tersebut kemudian melahirkan tradisi untuk memberikan penghormatan kepada para arwah.
Masyarakat meyakini bahwa ritual persembahan dapat membantu roh-roh tersebut mendapatkan ketenangan sekaligus mencegah mereka mengganggu kehidupan manusia.
Karena itu, selama bulan ketujuh kalender lunar, masyarakat Tiongkok melakukan berbagai ritual seperti memberikan persembahan dan membakar uang kertas untuk para arwah.
Tradisi ini juga berkembang menjadi kebiasaan lain, seperti memasang lentera dan menghormati para “saudara baik” (good brothers), sebutan untuk roh-roh yang dipercaya masih berada di dunia manusia.
Puncak penghormatan tersebut berlangsung saat Festival Hantu Lapar atau Festival Zhongyuan yang jatuh pada hari ke-15 bulan ketujuh kalender lunar.
Selain memberikan persembahan, masyarakat juga mengadakan pertunjukan seni dan jamuan makan sebagai bagian dari rangkaian perayaan.
Namun, seiring perkembangan zaman, beberapa tradisi mulai mengalami perubahan dan dilakukan dengan cara yang lebih sederhana.
Dahulu, masyarakat Tiongkok juga menganggap bulan ketujuh sebagai periode yang penuh kekhawatiran karena dipercaya menjadi waktu munculnya berbagai bencana alam maupun kejadian buruk.
Dari keyakinan tersebut, muncul berbagai pantangan selama Bulan Hantu.
Meski beberapa di antaranya mulai ditinggalkan karena perkembangan zaman, masih ada tradisi yang tetap dipertahankan sebagai bagian dari budaya dan kepercayaan masyarakat Tiongkok.