Pexels/Tima Miroshnichenko
1. Tekanan pekerjaan yang terlalu tinggi
Banyak papa harus membagi fokus antara pekerjaan dan keluarga dalam waktu bersamaan. Tuntutan target kerja, jam kerja panjang, hingga tekanan finansial sering membuat papa sulit mendapatkan waktu istirahat yang cukup.
Ketika energi lebih banyak terkuras untuk pekerjaan, papa bisa merasa kelelahan secara fisik maupun mental. Jika kondisi ini berlangsung terus-menerus tanpa jeda, risiko mengalami dad burnout pun meningkat.
2. Kurang tidur setelah memiliki anak
Perubahan pola tidur setelah hadirnya anak sering menjadi penyebab burnout yang tidak disadari. Begadang menemani bayi, bangun tengah malam, atau tidur yang tidak berkualitas dapat membuat tubuh lebih cepat lelah dan emosional.
Kurang tidur dalam jangka panjang juga memengaruhi konsentrasi, suasana hati, hingga kemampuan seseorang dalam menghadapi stres sehari-hari.
3. Tuntutan untuk selalu terlihat kuat
Banyak papa merasa harus selalu kuat dan tidak boleh menunjukkan rasa lelah di depan keluarga. Tekanan sosial ini membuat sebagian laki-laki memilih memendam stres dan emosinya sendiri.
Padahal, emosi yang terus dipendam dapat menumpuk menjadi tekanan mental yang berat. Lama-kelamaan, kondisi ini bisa membuat papa merasa kewalahan dan kehilangan energi emosional.
4. Sulit membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga
Menjadi papa sering kali membuat seseorang harus menjalani banyak peran sekaligus. Di satu sisi harus fokus bekerja, tetapi di sisi lain juga ingin hadir untuk pasangan dan anak.
Ketika keseimbangan tersebut sulit dicapai, papa dapat merasa bersalah, stres, dan terus berpikir bahwa dirinya kurang maksimal dalam menjalani kedua peran tersebut.
5. Minim dukungan emosional
Dad burnout juga bisa dipicu oleh kurangnya dukungan dari lingkungan sekitar. Tidak sedikit papa yang merasa harus menghadapi masalah sendiri tanpa tempat bercerita atau berbagi keluh kesah.
Kurangnya dukungan emosional dapat membuat stres terasa lebih berat. Karena itu, komunikasi yang baik dengan pasangan, keluarga, maupun teman sangat penting untuk menjaga kesehatan mental ayah.
6. Masalah finansial dan kebutuhan keluarga
Kebutuhan rumah tangga yang terus bertambah sering menjadi sumber tekanan tersendiri bagi seorang papa. Biaya pendidikan anak, kebutuhan sehari-hari, hingga kondisi ekonomi yang tidak stabil dapat memicu rasa cemas berlebihan.
Tekanan finansial yang berlangsung lama dapat membuat pikiran terus terbebani dan memicu kelelahan mental apabila tidak dikelola dengan baik.
7. Kehilangan waktu untuk diri sendiri
Setelah menjadi seorang papa, banyak laki-laki merasa seluruh waktunya habis untuk bekerja dan keluarga hingga lupa memberi ruang bagi diri sendiri. Padahal, setiap orang tetap membutuhkan waktu untuk beristirahat dan melakukan hal yang disukai.
Kurangnya me time dapat membuat diri merasa jenuh, kehilangan identitas diri, dan lebih mudah stres. Jika terus terjadi tanpa keseimbangan, kondisi ini bisa menjadi salah satu pemicu utama dad burnout.