Hingga kini, rujak juhi masih bisa ditemukan di berbagai sudut Jakarta, baik di pasar tradisional maupun pusat kuliner khas Betawi. Resepnya pun relatif bertahan, meski beberapa penjual menyesuaikan rasa dengan selera modern.
Keberadaan rujak juhi menjadi bukti bahwa kuliner mampu merekam sejarah sosial dan budaya sebuah kota. Setiap bahan dan cita rasanya menyimpan cerita tentang perjumpaan antarbudaya.
Melestarikan rujak juhi berarti juga menjaga ingatan kolektif tentang Jakarta dan masyarakat Betawi yang tumbuh dalam keberagaman.
Rujak juhi bukan sekadar makanan tradisional, melainkan simbol akulturasi budaya yang membentuk identitas Betawi. Perpaduan rujak Nusantara dan pengaruh Tionghoa melahirkan hidangan khas yang bertahan lintas generasi.
Di tengah gempuran kuliner modern, keberadaan rujak juhi menjadi pengingat bahwa makanan tradisional memiliki nilai sejarah dan budaya yang tak tergantikan. Rasanya boleh sederhana, tetapi ceritanya panjang dan bermakna.
Nah, itulah kisah menarik dan asal usul rujak juhi, sajian legendaris khas Betawi.
Yuk, Mama coba sendiri rujak juhi di rumah atau mampir ke penjual tradisional, biar bisa merasakan langsung sensasi asam, manis, dan gurih yang bikin nagih sambil mengenal warisan kuliner Betawi!
Apakah rujak juhi pedas? | Tingkat kepedasan bisa disesuaikan. Secara umum, rujak juhi tidak terlalu pedas, namun cabai bisa ditambahkan sesuai selera. |
Apakah rujak juhi bisa disimpan untuk beberapa jam? | Bisa, namun sebaiknya dikonsumsi segera. Jika disimpan terlalu lama, juhi bisa menjadi keras dan sayuran kehilangan kesegarannya. |
Kapan waktu terbaik menikmati rujak juhi? | Rujak juhi cocok disantap siang hingga sore hari sebagai camilan berat atau makanan ringan yang menyegarkan. |