Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Benarkah Bau Kentut Bisa Deteksi Penyakit? Begini Penjelasannya
Pexels/Mikhail Nilov
  • Kentut merupakan proses biologis normal yang dipengaruhi oleh makanan, cara makan, dan aktivitas pencernaan, sehingga aroma dan frekuensinya bisa berbeda setiap hari.
  • Perubahan bau atau frekuensi kentut dapat menandakan reaksi tubuh terhadap makanan tertentu seperti sulfur, serat tinggi, laktosa, atau gluten yang sulit dicerna.
  • Mengamati karakteristik kentut bisa membantu mengenali kondisi kesehatan pencernaan sejak dini, termasuk intoleransi makanan atau gangguan keseimbangan bakteri usus.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Buang angin atau kentut mungkin sering dianggap sebagai topik yang tabu untuk dibicarakan secara terbuka. Padahal, melepaskan gas dari dalam tubuh merupakan proses biologis yang normal dan menyehatkan. 

Namun, pernahkah Mama memperhatikan bahwa aroma, suara, hingga frekuensi buang angin kita bisa berubah-ubah setiap harinya?

Untuk menjawab rasa penasaran Mama, berikut Popmama.com rangkum benarkah bau kentut bisa deteksi penyakit? Yuk, simak sampai habis!

Benarkah Kentut Bisa Mendeteksi Kondisi Kesehatan?

Pexels/Andrea Piacquadio

Berdasarkan jenis kentut yang dijelaskan di atas, kondisi kesehatan bisa dideteksi dari kentut yang dikeluarkan. Secara medis, gas ini merupakan produk dari proses fermentasi makanan oleh bakteri baik di dalam usus. 

Oleh karena itu, memperhatikan karakteristiknya memang bisa menjadi salah satu cara paling sederhana untuk mendeteksi kondisi kesehatan pencernaan Mama. 

Meski tidak selalu berujung pada diagnosis penyakit kronis, perubahan kebiasaan dan aroma gas usus bisa menjadi alarm awal adanya intoleransi makanan, pola makan yang salah, atau bahkan infeksi ringan.

6 Jenis Kentut dan Penyebabnya

1. Kentut tidak berbau

Pexels/Andrea Piacquadio

Mari kita mulai dari jenis yang paling umum terjadi. Sebagian besar gas yang kita lepaskan sebenarnya sama sekali tidak memiliki aroma. 

Mengutip dari Shape, gas yang keluar ini adalah hasil dari makanan yang dimakan, minuman berkarbonasi, atau mengunyah permen karet.

Walaupun kentut tak berbau ini hal yang lumrah, Mama bisa mengurangi kentut dengan mengunyah makanan dengan benar, menghindari minuman berkarbonasi, dan permen karet. 

Jadi, Mama tidak perlu khawatir karena ini murni respons mekanis tubuh untuk membuang kelebihan udara agar perut tidak terasa begah.

2. Kentut saat makan

Pexels/Norma Mortenson

Pernahkah Mama merasa perut tiba-tiba penuh dan justru buang angin saat sedang asyik menyantap hidangan? 

Fenomena kentut saat makan sebenarnya memiliki kaitan erat dengan seberapa cepat ritme kunyahan kita. Ketika makan terlalu terburu-buru, ada banyak udara yang ikut masuk ke lambung. Udara yang terjebak ini otomatis akan mencari jalan keluar tercepat. 

Selain itu, refleks gastrokolik yang langsung aktif saat lambung terisi makanan bisa merangsang usus untuk bergerak cepat, sehingga mendorong sisa gas dari sisa pencernaan sebelumnya untuk segera keluar pada saat itu juga.

3. Kentut tidak bersuara dan berbau

Pexels/Andrea Piacquadio

Kentut yang senyap tapi memiliki bau yang tajam ini memang tenang dan mematikan. Kentut tidak bersuara dan bau ini biasanya sangat dipengaruhi oleh makanan yang dikonsumsi. 

Makanan yang berpengaruh terhadap kentut ini mengandung sulfur yang tinggi, seperti kol, brokoli, kangkung, pakcoy, telur, daging, bawang putih, dan bawang merah.

Tetapi tenang saja, Mama tidak harus takut akan makanan yang mengandung sulfur. Proses kentut merupakan respons alami tubuh terhadap makanan yang mengandung sulfur tinggi.

4. Kentut terasa panas

Pexels/cottonbro studio

Nah, ada kalanya buang angin terasa sedikit berbeda, yakni menimbulkan sensasi hangat atau bahkan panas di area pelepasan. 

Apabila kentut terasa panas, coba ingat-ingat lagi menu makanan Mama dalam 24 jam terakhir. Sensasi terbakar ini sebagian besar disebabkan oleh makanan yang terlalu pedas atau asam. 

Senyawa capsaicin yang ada di dalam cabai ternyata tidak hancur sepenuhnya saat dicerna. 

Ketika sisa senyawa ini akhirnya turun dan dikeluarkan bersama gas, ia dapat mengiritasi jaringan sensitif di sekitar anus, memunculkan rasa panas sesaat yang cukup mengagetkan.

5. Kentut terlalu sering

Pexels/Vika Glitter

Mengutip dari Top Doctor, frekuensi buang angin dalam skala normal rata-rata 15 kali dalam satu hari.  

Namun, jika Mama merasa kentut terlalu sering hingga mengganggu kenyamanan beraktivitas, bisa jadi usus sedang bekerja keras mencerna makanan tertentu. 

Jika kentut terlalu sering dan tidak berbau, bisa jadi disebabkan oleh makanan yang dimakan. Makanan seperti kacang-kacangan, lentil, asparagus,dan pisang hijau. 

Inulin merupakan serat larut yang ada pada makanan-makanan tersebut dan dapat menghasilkan gas dalam sistem pencernaan. Namun, biji-bijian dan kacang-kacangan mengandung prebiotik yang berperan memberi nutrisi bagi bakteri baik di usus. 

Tetapi jika kentut terus-menerus dan berbau, itu bisa jadi pertanda tubuh mengalami intoleransi terhadap apa yang dimakan. Di mana tubuh kekurangan enzim yang dibutuhkan untuk mencerna makanan dengan baik. Biasanya terjadi ketika mengonsumsi laktosa (susu) dan gluten (gandum).

6. Kentut yang sangat bau

Pexels/Towfiqu barbhuiya

Jika bakteri usus tidak seimbang (dikenal secara medis sebagai disbiosis), hal ini dapat menimbulkan gangguan pencernaan serta menghasilkan kentut yang sangat berbau. 

Mengonsumsi prebiotik dan probiotik dapat membantu menetralkan bakteri berbahaya, sehingga mengurangi bau tersebut. 

Namun, bila gas yang dikeluarkan secara terus-menerus berbau tidak sedap dan disertai gejala lain seperti penurunan berat badan, kembung, mual, kelelahan, atau perdarahan, sebaiknya konsultasikan dengan dokter. 

Kondisi ini mungkin menandakan adanya malabsorpsi yang dapat terjadi pada kondisi seperti penyakit celiac, penyakit crohn, atau pertumbuhan bakteri usus kecil yang berlebihan.

Nah, itulah pembahasan mengenai benarkah bau kentut bisa deteksi penyakit? Semoga bermanfaat, Ma.

FAQ Seputar Benarkah Bau Kentut Bisa Deteksi Penyakit?

Kentut bau menyengat pertanda apa?

Kentut yang berbau menyengat biasanya disebabkan oleh makanan tinggi sulfur, seperti telur, daging, atau kubis. Selain itu, kondisi ini juga bisa berkaitan dengan gangguan pencernaan atau ketidakseimbangan bakteri usus. Jika terjadi terus-menerus disertai gejala lain, bisa jadi berkaitan dengan masalah seperti gangguan pencernaan.

Apakah bau kentut berpengaruh pada kesehatan?

Bau kentut sebenarnya bukan satu-satunya indikator kesehatan. Bau muncul karena gas seperti sulfur dalam sistem pencernaan. Selama tidak disertai gejala lain seperti nyeri perut, diare, atau kembung berlebihan, kondisi ini umumnya masih normal.

Kentut yang sehat itu seperti apa?

Kentut yang sehat biasanya tidak terlalu sering, tidak berbau sangat menyengat, dan tidak disertai rasa sakit. Frekuensi normalnya sekitar 10–20 kali per hari, tergantung pola makan. Ini menandakan sistem pencernaan bekerja dengan baik.

Editorial Team