Di tengah aktivitas harian yang kian padat, musik kerap hadir sebagai pelarian untuk menenangkan pikiran, menghidupkan suasana, sekaligus menemani banyak momen.
Lebih dari sekadar hiburan, kebiasaan mendengarkan musik ternyata menyimpan peran yang lebih dalam, terutama ketika dijalani secara konsisten hingga usia lanjut.
Sejumlah temuan terbaru menunjukkan rutinitas ini berkaitan dengan kesehatan otak di masa tua. Hasil pengamatan ilmiah ini mulai membuka cara pandang baru tentang pencegahan pikun.
Lantas, bagaimana musik bisa memberi pengaruh sebesar itu? Berikut Popmama.com sajikan informasi tentang studi ungkap kebiasaan mendengar musik bantu cegah pikun. Simak di bawah!
Benarkah Kebiasaan Mendengar Musik Bantu Cegah Pikun? Ini Faktanya!

Intinya sih...
Musik dapat mengurangi risiko demensia hingga 40% pada lansia.
Aktivitas bermusik juga menunjukkan efek serupa dalam menurunkan risiko demensia.
Keterlibatan dalam aktivitas musikal di usia lanjut membantu menjaga daya ingat dan fungsi otak.
1. Musik dan risiko demensia di usia lanjut
Sebuah riset dari Monash University mengungkap fakta menarik tentang manfaat musik bagi kesehatan otak lansia. Studi yang dikutip dari IDN Times ini menemukan orang berusia di atas 70 tahun yang terbiasa mendengarkan musik secara rutin memiliki risiko demensia lebih rendah, bahkan hingga hampir 40%.
Temuan ini berasal dari pengamatan terhadap lebih dari 10.800 lansia, sehingga memberikan gambaran yang cukup kuat soal dampak positif kebiasaan sederhana tersebut. Tak hanya mendengarkan, aktivitas bermain alat musik juga menunjukkan efek serupa.
Partisipan yang aktif bermusik tercatat mengalami penurunan risiko demensia sekitar 35%. Penelitian yang dipimpin Emma Jaffa bersama Profesor Joanne Ryan ini menyoroti peran musik sebagai rangsangan bagi otak, membantu menjaga daya ingat.
Meski belum bisa disebut sebagai penyebab langsung, para peneliti menilai keterlibatan dalam aktivitas musikal berpotensi menjadi langkah mudah dan menyenangkan untuk merawat fungsi otak di usia lanjut.
2. Musik sebagai pilihan mudah menjaga kesehatan otak
Penelitian tersebut bersumber dari analisis data studi berskala besar, yakni ASPREE beserta sub-studinya ALSOP, yang dipublikasikan dalam International Journal of Geriatric Psychiatry.
Melalui kajian tersebut, peneliti melihat adanya kaitan antara keterlibatan dalam aktivitas musik dan kondisi kesehatan otak pada usia lanjut. Meski belum dapat memastikan hubungannya, musik dinilai sebagai pendekatan yang mudah dijalani seiring bertambahnya usia.
3. Pilihan gaya hidup ikut menentukan kesehatan otak
Profesor Monash University, Joanne Ryan, menekankan hingga kini demensia belum memiliki pengobatan yang efektif. Maka itu, upaya pencegahan dan perlambatan risiko penyakit ini menjadi semakin penting untuk diperhatikan, terutama sejak usia lanjut.
Menurutnya, kondisi otak tidak semata-mata ditentukan oleh faktor usia atau genetik. Lingkungan sekitar serta kebiasaan sehari-hari juga berperan besar dalam memengaruhi proses penuaan otak.
Itu dia informasi tentang studi ungkap kebiasaan mendengar musik bantu cegah pikun. Temuan ini membuka perspektif bahwa pilihan gaya hidup dapat menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan kognitif di masa tua.
FAQ Tentang Mendengar Musik Bantu Cegah Pikun
1. Jenis musik apa yang paling baik untuk kesehatan otak lansia? | Belum ada genre khusus yang dianggap paling efektif. Namun, musik yang disukai dan familiar cenderung memberi dampak lebih positif karena mampu memicu emosi, memori, dan rasa nyaman. |
2. Berapa lama waktu ideal mendengarkan musik setiap hari? | Tidak ada durasi baku, tetapi mendengarkan musik secara rutin selama 20–30 menit per hari dinilai cukup untuk memberi stimulasi pada otak tanpa membuat lelah. |
3. Apakah manfaat musik juga dirasakan jika baru dimulai di usia lanjut? | Ya, manfaat tetap bisa dirasakan meski kebiasaan mendengarkan musik baru dimulai di usia tua, karena otak masih dapat merespons rangsangan baru sepanjang hidup. |