Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Benarkah Penyakit Kronis Bisa Memicu Cacar Api? Ini Faktanya!
Dok. GSK
  • Penyakit kronis seperti diabetes, jantung, dan ginjal dapat melemahkan imun sehingga memicu reaktivasi virus cacar air menjadi cacar api dengan risiko lebih tinggi pada kelompok tertentu.
  • Cacar api bukan sekadar ruam, tapi bisa menimbulkan nyeri berat berkepanjangan yang mengganggu aktivitas dan produktivitas, serta membutuhkan biaya perawatan cukup besar di Indonesia.
  • Banyak penderita penyakit kronis belum menyadari kaitan kondisi mereka dengan risiko cacar api, padahal konsultasi rutin ke dokter dapat membantu pencegahan dan perlindungan sejak dini.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Siapa sangka, penyakit kronis yang selama ini dikelola rutin seperti diabetes, jantung, atau ginjal, ternyata bisa menjadi pemicu munculnya cacar api di kemudian hari.

Cacar api atau dengan nama latin herpes zoster bukan sekadar ruam biasa, ini adalah reaktivasi virus varicella-zoster yang pernah menyebabkan cacar air saat kecil.

Saat sistem kekebalan tubuh kita melemah karena usia lanjut atau adanya penyakit kronis, virus yang semula "tidur" bisa aktif kembali dan menimbulkan gejala yang jauh lebih berat.

Nah, agar Mama dan Papa lebih paham, berikut Popmama.com rangkumkan informasi penting seputar hubungan penyakit kronis dan cacar api yang jarang diketahui.

1. Penyakit kronis bisa melemahkan imun dan membuka cacar api

Freepik

Berdasarkan survei global terbaru dari GSK, sekitar 78% orang dewasa dengan penyakit kronis mengaku khawatir cacar api dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, dan 72% cemas hingga menyebabkan rawat inap jangka panjang.

Ironisnya, lebih dari separuh (54%) belum pernah membicarakan cacar api dengan dokter mereka. Di Indonesia sendiri, tercatat setidaknya 390.000 kasus cacar api selama tahun 2015–2022 di sepuluh provinsi besar, dengan biaya rawat inap mencapai Rp10 juta per kasus.

Masih banyak juga dari kita yang tak menyadari bahwa kondisi kronis seperti diabetes, penyakit jantung (CVD), ginjal kronis (PGK), atau PPOK bisa menurunkan daya tahan tubuh secara signifikan.

Studi klinis global menunjukkan bahwa risiko terkena cacar api meningkat 34% pada penderita penyakit jantung, 38% pada diabetes, dan 41% pada penderita PPOK atau asma.

Risiko di Indonesia sendiri bahkan lebih tinggi pada kelompok tertentu, diantaranya: pengidap HIV/AIDS memiliki risiko 3,22 kali, kanker 2,17 kali, dan penyakit autoimun 1,3–2 kali lebih besar terkena cacar api.

Fakta ini penting diketahui karena semakin lemah imun, semakin besar kemungkinan virus cacar air yang sudah lama diam menjadi aktif kembali.

2. Bukan sekadar ruam, nyeri cacar api bisa sangat berat

Freepik

Salah satu fakta yang paling mengagetkan adalah bahwa 42% orang yang pernah mengalami cacar api merasakan nyeri berat yang benar-benar mengganggu aktivitas sehari-hari.

Bahkan, 33% mengaku penyakit ini mengganggu produktivitas harian mereka karena nyeri yang ditimbulkan sering digambarkan seperti tersetrum, terbakar, atau ditusuk-tusuk.

Nyeri ini bisa berlangsung berminggu-minggu hingga berbulan-bulan, meskipun ruam sudah sembuh atau disebut nyeri pasca-herpes.

Bagi Mama atau Papa yang masih aktif bekerja, berkebun, atau mengurus cucu, cacar api bisa melumpuhkan aktivitas dalam waktu lama.

Ditambah lagi, biaya perawatan di Indonesia tidak ringan, di mana rawat inap mencapai Rp10 juta per kasus dan rawat jalan hingga Rp3 juta.

3. Diskusikan ke dokter seputar penyakit kronis dan cacar api

Freepik

Meskipun kekhawatiran terhadap cacar api tinggi, sayangnya masih ada satu dari empat orang dewasa dengan penyakit kronis yang percaya bahwa kondisi kesehatannya tidak memengaruhi sistem kekebalan tubuh atau risiko cacar api.

Lebih dari itu, hampir setengahnya juga tidak menyadari bahwa penyakit kronis mereka dapat meningkatkan risiko cacar api dengan gejala berat.

Padahal, cacar api adalah penyakit yang sebenarnya dapat dicegah. Langkah paling sederhana namun paling efektif adalah mulai membicarakan risiko ini dengan dokter, terutama jika Mama atau Papa memiliki penyakit kronis.

Nantinya dokter dapat memberikan edukasi tentang faktor risiko, cara menjaga daya tahan tubuh, serta langkah-langkah perlindungan yang sesuai dengan kondisi kesehatan masing-masing.

Jadi, jangan tunggu sampai nyeri hebat dan ruam cacar api muncul baru bertindak ya, Ma, Pa. Jika memiliki penyakit kronis seperti diabetes, jantung, ginjal, atau PPOK, langsung konsultasikan ke dokter tentang risiko cacar api.

Karena dengan mengetahui faktanya lebih awal, Mama dan Papa bisa melindungi diri sendiri dan tetap menjalani hari lebih sehat, aktif, dan produktif tanpa gangguan penyakit yang sebenarnya bisa dicegah.

Editorial Team