“Air rebusan sendiri seharusnya tidak menyebabkan gagal ginjal jika sumber airnya jelas, misalnya dari sumur dengan kualitas air yang baik atau dari PDAM yang sudah melalui proses pengolahan. Setelah direbus, risikonya seharusnya tidak terlalu tinggi dan aman untuk dikonsumsi,” jelas dr. Dion.
Benarkah Sering Minum Air Rebus Bisa Sebabkan Gagal Ginjal?

Air rebus tidak serta-merta menyebabkan gagal ginjal jika berasal dari sumber yang jelas dan berkualitas.
Perebusan membantu membunuh bakteri, virus, dan parasit, tetapi tidak menghilangkan logam berat serta sebagian besar bahan kimia.
Kualitas dan keamanan sumber air perlu diperhatikan, terutama jika terdapat dugaan kontaminasi.
Di media sosial beredar sebuah video yang membahas pengalaman seseorang mengalami gagal ginjal hingga menjalani transplantasi ginjal. Dalam video tersebut, kebiasaan mengonsumsi air rebus ikut disebut sehingga memunculkan pertanyaan: benarkah minum air yang direbus bisa menyebabkan gagal ginjal?
Lewat video Instagram Reels, dr. Dion Haryadi meluruskan hal tersebut. Ia menyebut bahwa hal yang perlu diperhatikan bukan sekadar proses perebusannya, melainkan juga kualitas dan sumber air yang digunakan.
Secara medis, merebus air justru menjadi salah satu cara untuk membantu membunuh mikroorganisme penyebab penyakit. Namun, perebusan memang memiliki keterbatasan karena tidak dapat menghilangkan seluruh zat yang mungkin sudah terkandung di dalam air.
Berikut Popmama.com rangkum fakta mengenai air rebus dan kaitannya dengan kesehatan ginjal.
Table of Content
1. Air rebus tidak menyebabkan gagal ginjal jika sumber airnya aman

Pexels/mehmet teke Dalam video yang beredar di media sosial, seorang perempuan menceritakan pengalamannya mengalami gagal ginjal stadium lanjut hingga akhirnya menjalani transplantasi ginjal. Salah satu kebiasaan yang turut dibahas adalah konsumsi air yang direbus dari sumber air tertentu.
Cerita tersebut kemudian memunculkan kekhawatiran bahwa kebiasaan minum air rebus dapat menjadi penyebab gagal ginjal. Apakah benar demikian?
Pada dasarnya, air yang direbus tidak serta-merta menyebabkan gagal ginjal. Hal yang perlu diperhatikan justru kualitas sumber air sebelum direbus. Dalam videonya, dr. Dion Haryadi menjelaskan bahwa air rebusan tetap aman dikonsumsi jika berasal dari sumber yang jelas dan berkualitas.
Penjelasan ini sejalan dengan pedoman dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat atau CDC yang menyebut perebusan efektif membantu membunuh bakteri, virus, dan parasit dalam air.
2. Masalah muncul jika sumber air sudah terkontaminasi

Pexels/Omer Al Faruq Hal yang perlu diperhatikan bukanlah hasil dari rebusan air melainkan kualitas air sejak awal. Meski perebusan dapat membantu membunuh mikroorganisme, proses ini tidak otomatis menghilangkan logam berat atau bahan kimia tertentu yang sudah ada di dalam air.
Dari penjelasannya, dr. Dion menegaskan bahwa risiko justru bisa muncul ketika sumber air memang sudah bermasalah sejak awal.
“Namun, akan menjadi masalah ketika sumber air berasal dari sumur yang terkontaminasi logam berat atau air PDAM yang melewati pipa yang sudah sangat tua. Karena itu, saran saya, untuk air minum sebaiknya berasal dari sumber yang jelas dan memang aman untuk dikonsumsi,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa air mineral tetap aman dikonsumsi dan tidak otomatis membebani ginjal.
“Air mineral juga boleh dan aman untuk dikonsumsi. Tidak merusak atau memperberat beban ginjal,” tambah dr. Dion.
3. Kualitas sumber air perlu diperhatikan sejak awal

Pexels/Gizem Gökce Air yang tampak jernih belum tentu memiliki kandungan yang sama antara satu sumber dengan sumber lainnya. Air tanah, air sumur, ataupun sumber air lainnya dapat mengandung mineral dan bahan kimia dalam kadar berbeda tergantung kondisi lingkungan.
CDC menjelaskan bahwa air minum dapat terkontaminasi berbagai bahan kimia, termasuk arsenik dan logam tertentu. Bahkan ketika air direbus, bahan kimia tersebut tidak otomatis hilang.
Karena itu jika khawatir dengan keamanan air yang digunakan sehari-hari, pemeriksaan kualitas sumber air perlu dilakukan. Hal yang perlu diperhatikan bukan hanya kandungan mineral total, tetapi juga jenis zat dan kadarnya.
4. Logam berat tidak hilang hanya karena air direbus

Pexels/fajar alqodry Ini menjadi salah satu hal yang sering disalahpahami. Merebus air efektif untuk mikroorganisme, tetapi tidak bekerja dengan cara yang sama terhadap logam maupun kontaminan kimia.
Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat atau EPA menjelaskan bahwa proses perebusan atau desinfeksi tidak menghancurkan kontaminan seperti logam berat, garam, dan sebagian besar bahan kimia. Secara khusus, perebusan juga tidak dapat menghilangkan timbal dari air.
Artinya, bila air sejak awal mengandung logam atau zat kimia dalam kadar yang tidak aman, merebusnya bukan solusi untuk menghilangkan zat tersebut.
Saat air direbus, sebagian air juga menguap sementara zat yang tidak ikut menguap tetap berada di wadah. Dengan kata lain, perebusan tidak menciptakan logam baru, tetapi juga tidak membuang kontaminan tersebut.
Hal ini berbeda dengan teknologi seperti reverse osmosis atau distilasi yang memang dirancang untuk mengurangi jenis kontaminan tertentu.
5. Kandungan berbahaya dalam air yang tidak hilang setelah direbus

Pexels/Jahra Tasfia Reza Merebus air efektif untuk membunuh bakteri, virus, dan parasit. Namun, proses ini tidak menghilangkan bahan kimia, garam, maupun logam berat tertentu yang mungkin sudah terkandung dalam sumber air sejak awal. CDC menegaskan bahwa perebusan tidak menghilangkan bahan kimia dari air, sedangkan EPA menyebut logam berat dan sebagian besar bahan kimia juga tidak hancur hanya karena proses perebusan.
Beberapa kandungan yang perlu diwaspadai antara lain:
- Arsenik, yang dapat berasal dari endapan alami dalam tanah maupun pencemaran industri atau pertanian.
- Timbal, yang bisa masuk ke air dari pipa, sambungan, atau perlengkapan rumah tangga tertentu. EPA secara khusus menegaskan bahwa merebus air tidak menghilangkan timbal.
- Kadmium dan kromium, yang termasuk logam yang dapat ditemukan pada sumber air tertentu dan tidak otomatis hilang hanya karena direbus. CDC mencantumkan keduanya sebagai zat yang dapat dipisahkan melalui proses seperti distilasi, bukan perebusan biasa.
- Nitrat, yang dapat berasal dari pupuk, limbah, atau pencemaran lingkungan dan juga tidak hilang hanya dengan perebusan biasa.
Karena itu, jika sumber air dicurigai tercemar bahan kimia atau logam berat, merebus air saja tidak cukup untuk membuatnya aman dikonsumsi. CDC bahkan menyarankan menggunakan sumber air lain apabila air diketahui atau dicurigai terkontaminasi bahan kimia berbahaya.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa air rebus tidak selalu menjadi penyebab gagal ginjal. Perebusan justru membantu membunuh mikroorganisme berbahaya. Namun, metode ini tidak dapat menghilangkan logam berat dan sebagian besar kontaminan kimia yang sudah ada sejak awal.






















