7 Kasus Penganiayan Guru dan Siswa yang Pernah Viral

Sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman dan jauh dari tindakan berbahaya

15 September 2019

7 Kasus Penganiayan Guru Siswa Pernah Viral
Freepik

Menempuh pendidikan, merupakan salah satu penunjang anak-anak dalam mengembangkan kecerdasannya dalam bidang akademik dan juga non akademik. Guru memiliki peran penting dalam proses pendidikan ini.

Dari taman kanak-kanak hingga memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi seperti Sekolah Menengah Atas hingga Universitas, peran guru tidak dapat dipisahkan dalam mendidik anak.

Dalam setiap sekolah, tentunya memiliki peraturan masing-masing yang harus dilaksanakan oleh para siswanya. Dengan tujuan untuk mendidik anak untuk menjadi anak yang disiplin dikemudian hari.

Namun, akhir-akhir ini banyak pemberitaan tentang guru dan siswanya yang bertengkar akibat selisih paham mengenai kedisiplinan yang seharusnya ditanamkan sejak dini. 

Berikut ini, Popmama.com merangkum 7 kasus guru dan murid bertengkar yang sempat dibicarakan oleh masyarakat di Indonesia hingga viral.

1. Guru SD di Sulawesi Selatan yang dikeroyok wali murid viral di media sosial

1. Guru SD Sulawesi Selatan dikeroyok wali murid viral media sosial
Freepik/Noxos

Sebuah beredar video viral di media sosial yang menunjukkan pengeroyokan pada seorang guru SD bernama Astiah yang diserang oleh sejumlah wali murid di Gowa, Sulawesi Selatan. Peristiwa pengeroyokan ini terjadi di SD Negeri Pa’bangiang, Gowa, Sulawesi Selatan.

Peristiwa ini bermula saat Astiah sedang mengajar di kelas pada hari Rabu 4 September 2019, lalu tiba-tiba muncul 4 orang pelaku yang merupakan 2 wali murid dan 2 anaknya, yang kemudian menyerangnya saat aktifitas belajar masih berlangsung.

Penyebab dari kejadian ini, dipicu oleh perkelahian antar siswa di dalam kelas yang kemudian dilerai oleh Astiah. Diduga, wali murid marah karena tidak terima siswa yang berkelahi dengan anaknya tidak dihukum.

Akibat dari pengeroyokan ini, Astiah mengalami sejumlah luka pada wajahnya. Astiah yang didampingi pihak sekolah mengambil jalur hukum dengan melaporkan pelaku ke Polsek Somba Opu. Beberapa jam kemudian, pelaku ditangkap di rumahnya. Namun, belum ditetapkan sebagai tersangka karena masih dilakukannya proses pemeriksaan.

2. Akibat ponsel disita, siswa mengancam guru dengan membawa senjata tajam

2. Akibat ponsel disita, siswa mengancam guru membawa senjata tajam
Freepik/Sviatkovskyi

Menggunakan ponsel saat belajar, memang dapat mengganggu konsentrasi anak untuk fokus belajar. Hal ini yang memicu pertengkaran selanjutnya terjadi di Gunung Kidul, Yogyakarta.

Seorang siswa SMP yang nekat mengancam guru dengan menggunakan celurit karena sang guru menyita ponselnya.

Kejadian ini terjadi di SMP Negeri 5 Ngawen, kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta. Awalnya, siswa tersebut ketahuan bermain ponsel saat jam pelajaran di dalam kelas.

Menurut Kapolsek Ngawen AKP Kasiwon, sudah ada peraturan dimana siswa tidak boleh main HP saat jam pelajaran di kelas.

Akibat tidak terima ponselnya disita, siswa tersebut pulang dan kembali membawa celurit ke halaman sekolah. Akibat kejadian ini, polisi memanggil kepala sekolah tersebut untuk dimintai keterangan selanjutnya.

Menurut Kasiwon, aksi siswa tersebut hanya merupakan emosi sesaat dan sudah diselesaikan dari pihak sekolah. Video ini menjadi viral di media sosial karena direkam oleh salah satu guru.

3. Mencengkram kerah guru akibat ketahuan merokok di dalam kelas

3. Mencengkram kerah guru akibat ketahuan merokok dalam kelas
Freepik

Merokok, memiliki zat-zat berbahaya yang dapat merusak tubuh. Larangan merokok juga sering diberikan bagi orang tua, sehingga penggunaan rokok juga memiliki batas umur yaitu usia 18 tahun keatas.

Namun sayangnya, sebuah video menjadi viral akibat seorang siswa di SMP PGRI Gresik berinisial AA yang berusia 15 tahun, berani mengancam gurunya dan mencengkram bagian kerah baju gurunya yang bernama Nurkhalim karena ditegur merokok dalam kelas.

Menurut AKP Supiyan, Kapolsek Wringinanom sikap AA berani mencengkram kerah Nurkhalim karena dipengaruhi oleh teman-temannya. Ia pun juga membenarkan AA ditegur oleh gurunya karena sedang merokok di dalam kelas.

Kasus ini selesai karena sang guru meminta mendiasi oleh kepolisian agar AA tidak perlu dikenai proses hukum karena siswa tersebut hendak menempuh ujian ke SMA.

Editors' Picks

4. Menggunting rambut guru karena tidak terima rambut anaknya dipotong

4. Menggunting rambut guru karena tidak terima rambut anak dipotong
Freepik/Wavebreakmedia-micro

Hukuman memotong rambut, mungkin untuk beberapa siswa khususnya laki-laki tidak asing dari hukuman yang satu ini. Sebuah kasus terjadi dimana seorang wali murid nekat membalas perbuatan sang guru yang telah memotong rambut anaknya.

Aksi ini terjadi di SD Inpres Madawat, Nusa Tenggara Timur pada bulan Febuari lalu. Guru yang bernama Pramusrita memotong rambut beberapa siswa laki-laki yang melanggar peraturan sekolah. Namun sayangnya, Pramusrita tidak menyangka apa yang ia lakukan ternyata ditentang oleh orangtua siswa.

Saat sedang mengajar pada awal bulan Maret, ia didatangi oleh orangtua salah seorang murid yang rambutnya dipotong beberapa hari sebelumnya. Orangtua tersebut menarik rambut Pramusrita dan memotongnya dengan gunting yang ia bawa.

Karena khawatir akan memperburuk keadaan, sang guru hanya bisa pasrah melihat rambutnya dipotong oleh orangtua murid tersebut. Karena kejadian ini, pihak sekolah membawa Pramusrita ke Polres Sikka untuk melaporkan tindakan tersebut sebagai tindakan kriminal.

Mengetahui dirinya dilaporkan, orangtua murid tersebut mengaku menyesal dan bahwa saat itu dirinya emosi dan tidak bisa mengontrol nya. Ia pun mengaku khilaf dan meminta maaf atas perbuatannya dan berjanji untuk tidak mengulanginya.

5. Orangtua menendang perut guru, karena menuduh anaknya dianiaya

5. Orangtua menendang perut guru, karena menuduh anak dianiaya
Freepik/Katemangostar

Kejadian yang satu ini terjadi pada bulan Oktober 2018, dimana puluhan guru SMA Negeri IV Penfui, Kota Kupang mendatangi Polsek Kelapa Lima untuk melaporkan kasus pemukulan yang dilakukan oleh orangtua murid kepada guru Bahasa Inggris yang bernama Makrina Bikan.

Kepala sekolah SMA Negeri IV, Agustinus Bire Logo mengatakan, kedatangan guru-guru tersebut karena salah satu staf gurunya, ditendang oleh orangtua murid yang merasa anaknya dianiaya oleh guru Bahasa Inggris tersebut.

Kejadian ini bermula ketika anak dari pelaku menabrak Makrina dan langsung pergi tanpa meminta maaf, kemudian korban mengejar anak itu dan bertanya kenapa tidak meminta maaf. Namun, siswa tersebut bersikap cuek. Siswa tersebut justru mengeluarkan kata-kata kasar kepada gurunya.

Kareana sakit hati, Makrina memarahinya. Hal ini yang membuat siswa tersebut menghubungi orangtuanya, dan tidak lama kemudian pelaku datang dan menyerobot masuk ke dalam kelas serta menendang perut Makrina.

Melihat hal ini, para siswa justru langsung menyerbu pelaku namun dilerai oleh guru-guru lain dan dibawa ke ruangan kepala sekolah.

6. Seorang guru menampar 9 siswa karena terlambat masuk kelas

6. Seorang guru menampar 9 siswa karena terlambat masuk kelas
Freepik/Pixabay

Pada April 2018, sebuah video seorang guru yang menampar siswa di SMK Kesatrian Purwokerto menjadi viral di media sosial. Video yang berdurasi 15 detik merekam seorang guru yang berinisial LS menampar muridnya di depan kelas.

Sedikitnya 9 siswa yang rata-rata berusia 16 tahun menjadi korban kekerasan, 3 dari 9 anak mengalami cidera ringan, 1 diantaranya mengalami gangguan pendengaran, dan 2 lainnya merasakan memar dan luka cakaran.

Diketahui, penamparan tersebut bermula dari keterlambatan masuk kelas. Siswa-siswa tersebut mengaku sudah menunggu guru di kelas usai acara pengajian, tapi tidak mengetahui kalau ruangan mata pelajaran dipindahkan ke ruang lab. Karena terlambat masuk, guru lantas memberikan sanksi.

Hal yang mengejutkan adalah ketika guru tersebut justru minta tindakannya direkam. Awalnya video penamparan ini beredar di kalangan siswa-siswi namun kemudian tersebar melalui media sosial.

7. Guru melakukan pemukulan kepada siswa karena tidak memakai seragam olahraga

7. Guru melakukan pemukulan kepada siswa karena tidak memakai seragam olahraga
Freepik/Rawpixel-com

Yang terakhir, adalah kasus kekerasan pada Febuari 2017 yang dialami oleh salah satu siswa SMK di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur yang dihajar oleh gurunya sendiri. Penyebabnya diketahui karena siswa kelas 10 tersebut tidak menggunakan seragam olahraga saat jam pelajaran olahraga.

Awalnya, guru tersebut hanya meminta siswa untuk keluar dan tidak mengikuti pelajaran olahraga. Larangan ini yang membuat korban mengucapkan perkataan yang membuat sang guru menjadi emosi. Siswa tersebut mengatakan bahwa ia bayar untuk bersekolah disana dan mengapa tidak boleh ikut olahraga.

Karena ucapan ini yang membuat gurunya mendatangi siswa tersebut dan menanyakan kembali maksud perkataannya. Kemudian siswa tersebut mengatakan lagi dan akhirnya membuat sang guru menghajar korban berulangkali dengan menggunakan kunci kontak sepeda motor.

Akibat dari pemukulan ini, korban menjadi terluka di bagian kepala, dahi, dan tangannya yang juga dijahit.

Bagaimanakah menurut kamu tentang kasus-kasus penganiayaan guru dan siswa di sekolah ini?

Berlangganan Newsletter?

Mau dapat lebih banyak informasi seputar parenting?
Daftar sekarang!