Hari Tuberkulosis Dunia: Temukan TB Obati Sampai Sembuh

24 Maret merupakan Hari Tuberkulosis Dunia, berikut ini ulasan yang perlu Mama ketahui

24 Maret 2018

Hari Tuberkulosis Dunia Temukan TB Obati Sampai Sembuh
Freepik/senivpetro

Tuberkulosis (TB) adalah penyakit yang sudah tidak asing lagi di telinga Mama, bukan?

TB bukanlah sebuah penyakit keturunan, Ma, melainkan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberkulosis. Cara penularannya adalah melalui udara.

Bakteri TB keluar ke udara melalui droplet atau percikan dahak pada saat penderita batuk, bersin atau ketika berbicara, Ma. Jika bakteri TB terhirup oleh orang lain yang sedang dalam kondisi atau punya daya tahan tubuh lemah, maka mereka akan tertular sakit TB.

Sedangkan mereka yang memiliki daya tahan tubuh kuat, tidak langsung sakit TB.

Bakteri TB tidak hanya menyerang paru-paru, tetapi bisa menyerang organ lain, bahkan yang lebih menakutkannya lagi adalah menyerang sistem saraf dan otak.

Tepat 136 tahun yang lalu, Dr. Robert Koch mengumumkan bahwa dia telah menemukan bakteri penyebab penyakit TB. Penemuannya ini berhasil membuka jalan para tenaga medis untuk mendiagnosis dan menyembuhkan penyakit ini.

Untuk mengingat hal tersebut, maka tiap 24 Maret diperingati sebagai Hari Tuberkulosis Dunia.

Bicara tentang TB, tahun lalu WHO melaporkan bahwa 10,4 juta orang jatuh sakit dan ada 1,8 juta kematian akibat TB pada tahun 2016.

Kita masih patut bersyukur ya, Ma! Coba bayangkan jika hingga hari ini TB masih menjadi sebuah teka-teki, mungkin korban yang menderita TB akan semakin tidak terkendali.

Data di atas adalah fakta secara global, bagaimana dengan penyakit TB di negara Indonesia? Berikut informasi penting yang akan Popmama.com sampaikan.

Editors' Pick

Tuberkulosis di Indonesia

Tuberkulosis Indonesia
dailyrounds.org

Kasus Tuberkulosis di Indonesia sendiri dimulai sejak abad ke delapan. Hal itu bisa dibuktikan dengan adanya gambar penderita yang kurus kering pada salah satu relief di Candi Borobudur.

Di zaman Indonesia belum merdeka, ada beberapa catatan terkait TB yaitu dibentuknya perkumpulan Centrale Vereniging Voor Tuberculose Bestrijding (CVT) dan didirikannya 15 sanatorium untuk perawatan pasien TB paru.

Kemudian, zaman orde lama (1945-1966) juga didirikan lembaga pemberantasan penyakit paru-paru di Yogyakarta yang disebarluaskan hingga ke 53 lokasi. Dan yang paling mengejutkan, salah satu pahlawan Indonesia yaitu Jenderal Soedirman meninggal dunia karena TB.

WHO memperkirakan jumlah kasus TB pada tahun 2017 di Indonesia sebanyak 1.020.000 dengan 110.000 kasus berujung kematian.

Dari 1.020.000 kasus TB, baru 35% pasien yang diobati, sisanya masih belum diobati atau sudah diobati tetapi belum dilaporkan kepada Kementerian Kesehatan, sehingga monitoring tentang kemajuan penanggulangan TB belum dapat dilakukan dengan tepat.

Kisah penderita TB

Kisah penderita TB
Dok. Popmama.com/Chintiana

Seperti Bapak Binsar Manik (38), yang ditemui pada kegiatan "Peduli TBC, Indonesia Sehat" yang dilaksanakan pada 21 Maret 2018 di Stasiun Jakarta Kota.

Berdasarkan cerita, awal Bapak Binsar mengalami gejala TB adalah tahun 1997, namun karena faktor biaya, ketidaktahuan, dan sudah merasa sehat, Bapak Binsar tidak melanjutkan pengobatan hingga tuntas.

Tahun 1999, Bapak Binsar kembali terserang TB dengan obat katagori 2, namun sekali lagi, faktor biaya dan ketidaktahuan membuatnya tidak berobat dengan benar.

Hingga tahun 2009, Bapak Binsar mendapatkan telepon tentang hasil pemeriksaan yang menyatakan bahwa dirinya menderita TB MDR dan butuh pengobatan lebih lanjut.

TB MDR lebih sulit diobati lho, Ma. Padahal kan namanya TB juga, tapi kok beda, kenapa ya, Ma?

Alasannya karena penderita TB MDR telah mengalami resistensi obat.

Mengapa bisa resisten atau kebal terhadap obat? Hal ini bisa terjadi ketika penderita tidak menyelesaikan obat sesuai dengan yang diberikan.

Misalnya, penderita sudah merasa sehat di bulan ketiga, dan mereka tidak melanjutkan konsumsi obat, padahal pengobatan harus dilakukan selama 6-8 bulan. Setelah pemeriksaan lebih lanjut, penderita baru bisa dinyatakan sembuh total.

Perlu diketahui juga, Ma bahwa TB bisa menyerang siapa saja, tidak kenal gender ataupun usia.

Ya, benar saja. Hal itu terjadi pada Bapak Binsar, Si Kecil, anaknya yang berumur 4 tahun tertular TB. Untungnya bukan TB MDR, padahal orang yang tertular TB MDR akan langsung mengidap TB MDR juga.

Dari seluruh kejadian itu, Bapak Binsar menyadari bahwa TB ternyata menular. Sejak saat itu Bapak Binsar memutuskan, “Lebih bagus saya mati daripada gak sembuh, karena buat apa saya hidup, hanya menularkan orang lain.”

Tingkat kesadaran masyarakat Indonesia

Tingkat kesadaran masyarakat Indonesia
Dok. Popmama.com/Chintiana
Bentuk ajakan pada semua orang yang berada di publik space untuk lebih aware pada TB

Selain pemerintah dan instansi terkait, peran serta kesadaran masyarakat juga sangat dibutuhkan untuk bantu mengurangi kasus TB ini.

Patut kita syukuri, sekarang ini telah bermunculan sekelompok orang, yayasan dan lain sebagainya yang peduli terhadap penyakit TB. Berbagai cara juga dilakukan agar masyarakat aware terhadap TB, sehingga mencegah banyaknya penularan dan menurunkan jumlah penderita.

Ingat, Ma. TB yang tidak ditangani dengan benar, akan menyebabkan TB MDR di kemudian hari yang bisa mengancam keselamatan kita juga orang-orang di sekitar kita.

Tapi kita yang masih sehat, tidak boleh mengasingkan para penderita TB, kita harus mendukung mereka, memberikan mereka semangat agar bisa sembuh total sehingga bisa beraktifitas seperti biasanya.

Maka dari itu, Mama harus lebih peka terhadap lingkungan, juga pada keluarga.

Yuk, bersama kita temukan TB obati sampai sembuh!

The Latest