Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

Kebutuhan Layanan Kesehatan Mental Meningkat 6,5% pada 2026

4 min read
Kebutuhan Layanan Kesehatan Mental Meningkat 6,5% pada 2026
Popmama.com/Najla Dewi Effendi
  • Kebutuhan layanan kesehatan mental di Indonesia meningkat 6,5% pada 2026, seiring naiknya kesadaran masyarakat untuk mencari informasi dan berkonsultasi dengan tenaga profesional.

  • Pada anak, gangguan perilaku-emosional paling dominan; remaja mencatat proporsi depresi tertinggi, dengan kecemasan banyak terkait tekanan sekolah, keluarga, pertemanan, dan keluhan fisik.

  • Dewasa produktif didominasi kecemasan, termasuk disfungsi seksual psikogenik pada laki-laki 45–54 tahun; lansia menghadapi kecemasan serta demensia, dengan penanganan terutama oleh psikiater.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Belakangan ini, kesehatan mental semakin menjadi sorotan masyarakat. Kesadaran untuk memahami kondisi psikologis diri sendiri maupun orang terdekat juga semakin meningkat.

Hal ini membuat semakin banyak orang mencari informasi hingga berkonsultasi dengan tenaga profesional untuk mendapatkan bantuan yang sesuai.

Seiring dengan meningkatnya kesadaran tersebut, kebutuhan terhadap layanan kesehatan mental di Indonesia turut mengalami perubahan. Lantas, bagaimana gambaran kebutuhan layanan kesehatan mental di Indonesia pada 2026? 

Dalam acara media gathering Navigating Indonesia’s Mental Health Landscape 2026, berikut Popmama.com rangkum sejumlah temuan dari Indonesia Health Insights Q4 2026.

Yuk, disimak!

  1. 1. Anak usia 0–12 tahun banyak mengalami gangguan perilaku dan emosional

    Anak usia 0–12 tahun banyak mengalami gangguan perilaku dan emosional
    Pexels/Artem Podrez

    Diagnosis terbanyak dalam konsultasi kesehatan mental anak usia 0–12 tahun adalah gangguan perilaku dan emosional pada masa kanak-kanak, dengan proporsi 30,6 persen. 

    Disusul gangguan ansietas atau kecemasan (12,9 persen), gangguan makan (11,6 persen), gangguan bicara dan bahasa (6,5 persen), serta gangguan tic (4,4 persen).

    Dari sisi penanganan, sebanyak 42,7 persen konsultasi melibatkan dokter spesialis, terutama dokter anak. Sementara itu, psikolog menangani 37,3 persen konsultasi dan psikiater 20 persen.

    Temuan ini menunjukkan bahwa kebutuhan kesehatan mental anak berkaitan erat dengan tumbuh kembang sehingga penanganannya perlu disesuaikan dengan kondisi si Kecil.

  2. 2. Remaja usia 13–17 tahun memiliki proporsi depresi tertinggi

    Remaja usia 13–17 tahun memiliki proporsi depresi tertinggi
    Pexels/Pavel Danilyuk

    Pada remaja usia 13–17 tahun, gangguan ansietas atau kecemasan menjadi diagnosis terbanyak dengan proporsi 29 persen.

    Sementara itu, depresi mencatat proporsi 18,1 persen, tertinggi dibandingkan kelompok usia lainnya. Keluhan lain meliputi reaksi stres (9,3 persen), masalah keluarga dan relasi (7,6 persen), serta gangguan kepribadian (6 persen).

    Dalam konsultasi terkait kecemasan, persoalan sekolah menjadi topik terbanyak (29,3 persen), mulai dari ujian hingga rasa takut terhadap guru.

    Selain itu, 25,2 persen percakapan berkaitan dengan orangtua dan 22,3 persen dengan teman yang menjauh, pengucilan, atau perundungan.

    Kecemasan juga disertai keluhan fisik pada 22,4 persen konsultasi, seperti jantung berdebar, dada sesak, dan tangan gemetar.

    Dari sisi penanganan, psikolog menangani 56,9 persen konsultasi pada kelompok usia ini, sedangkan psikiater 42,1 persen.

    Data ini menyoroti beragam persoalan yang dihadapi remaja, mulai dari tekanan akademis hingga hubungan sosial dan keluarga.

  3. 3. Perempuan usia produktif banyak berkonsultasi terkait gangguan kecemasan

    Perempuan usia produktif banyak berkonsultasi terkait gangguan kecemasan
    Pexels/Flickr

    Pada perempuan usia produktif (18–54 tahun), gangguan ansietas atau kecemasan menjadi keluhan terbanyak dengan proporsi 41 persen.

    Disusul depresi sebesar 15 persen dan masalah keluarga atau relasi sebesar 11,4 persen. Khusus perempuan usia 35–44 tahun, masalah keluarga dan relasi bahkan melampaui depresi.

    Dalam konsultasi terkait gangguan ansietas, keluhan fisik seperti jantung berdebar dan sesak menjadi topik terbanyak (20,7 persen). Berikutnya, kesulitan tidur sebesar 17,2 persen, persoalan asmara 16,9 persen, dan penyakit yang sedang dijalani 16,7 persen.

    Topik lainnya meliputi hubungan dengan orangtua (16,3 persen), rumah tangga (15,7 persen), serta sekolah atau kuliah (15,5 persen).

    Dari sisi penanganan, sebanyak 49,6 persen konsultasi melibatkan psikiater dan 48,5 persen psikolog. Sementara itu, 1,9 persen ditangani tenaga spesialis lainnya.

  4. 4. Laki-laki usia 45–54 tahun banyak mengalami disfungsi seksual psikogenik

    Laki-laki usia 45–54 tahun banyak mengalami disfungsi seksual psikogenik
    Pexels/Godwin Torres

    Pada laki-laki usia produktif (18–54 tahun), gangguan ansietas atau kecemasan menjadi diagnosis terbanyak dengan proporsi 37,8 persen, disusul depresi sebesar 8,8 persen. 

    Menariknya, disfungsi seksual psikogenik juga menjadi diagnosis yang menonjol dengan proporsi 19,9 persen. Kondisi ini bahkan menjadi diagnosis terbanyak pada laki-laki usia 45–54 tahun.

    Dalam konsultasi terkait kecemasan, keluhan sulit tidur menjadi topik terbanyak (17,7 persen), diikuti penyakit yang sedang dijalani (16,3 persen) serta keluhan fisik seperti jantung berdebar, sesak, atau gemetar (14,4 persen).

    Persoalan asmara (8,5 persen), rumah tangga (7,8 persen), dan pekerjaan (7,1 persen) turut dibicarakan. Sementara itu, pada konsultasi terkait disfungsi seksual psikogenik, sebanyak 68,3 persen membahas keluhan seksual secara langsung.

    Sebanyak 40,5 persen juga berkaitan dengan masalah rumah tangga atau pasangan, sedangkan 22,7 persen menyinggung pornografi atau kebiasaan yang sulit dihentikan.

    Dari sisi penanganan, psikiater menangani 51,2 persen konsultasi, psikolog 30,9 persen, dan tenaga spesialis lainnya 17,9 persen.

    Data tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan layanan kesehatan mental laki-laki usia produktif tidak hanya berkaitan dengan kecemasan dan depresi, tetapi juga persoalan kesehatan seksual serta hubungan dengan pasangan.

  5. 5. Lansia usia 55 tahun ke atas menghadapi masalah kecemasan dan demensia

    Lansia usia 55 tahun ke atas menghadapi masalah kecemasan dan demensia
    Pexels.com/Baptiste Guillier

    Pada kelompok usia 55 tahun ke atas, gangguan ansietas atau kecemasan memiliki proporsi 23 persen, terendah dibandingkan empat kelompok usia lainnya.

    Selanjutnya, demensia tak spesifik tercatat sebesar 13,2 persen, diikuti skizofrenia (9,6 persen), depresi (8,1 persen), gangguan mental akibat kerusakan otak atau penyakit fisik (6,9 persen), demensia Alzheimer (5,8 persen), dan demensia vaskular (5,7 persen).

    Dalam konsultasi terkait lansia, keluhan yang disampaikan keluarga tidak hanya berkaitan dengan penurunan daya ingat, tetapi juga kesulitan tidur dan perubahan pola hidup sehari-hari.

    Tak jarang, keluarga mencari bantuan profesional karena kesulitan menangani kondisi orangtua mereka.

    Dari sisi penanganan, psikiater mendominasi dengan proporsi 76,2 persen. Sementara itu, psikolog menangani 9,4 persen konsultasi dan spesialis lainnya 14,4 persen, dengan dokter spesialis saraf sebagai kontributor terbesar.

    Itu dia penjelasan terkait kebutuhan layanan kesehatan mental di Indonesia pada 2026. Jangan ragu untuk mendapatkan penanganan professional apabila diperlukan!

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More