Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Kenapa Gula Rasanya Manis? Ini Kata Para Ahli
istockphoto/KevinDyer

Intinya sih...

  • Cara lidah mengenali rasa manisSaat gula masuk ke dalam mulut, molekulnya langsung berinteraksi dengan reseptor rasa di lidah. Aktivasi reseptor tersebut memicu sinyal listrik yang dikirim melalui saraf ke otak.

  • Struktur gula membuatnya cepat terasa manisGula termasuk karbohidrat sederhana yang memiliki struktur kimia mudah larut dalam air. Inilah alasan mengapa gula terasa manis sejak gigitan atau tegukan pertama.

  • Hubungan rasa manis dan energiRasa manis memiliki makna biologis bagi tubuh. Saat lidah mendeteksi rasa manis, otak menafsirkan sinyal tersebut sebagai tanda masuknya glukosa,

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Rasa manis sering menjadi rasa pertama yang dikenali manusia sejak kecil. Sejak bayi, manusia sudah diperkenalkan pada rasa manis melalui ASI yang secara alami mengandung laktosa.

Pengalaman awal ini membuat rasa manis identik dengan rasa nyaman dan aman, sehingga tak heran jika banyak orang menyukai makanan manis hingga dewasa. Namun, rasa manis pada gula bukan sekadar soal selera atau kebiasaan.

Di baliknya, ada proses biologis dan neurologis yang kompleks, mulai dari cara lidah mengenali gula hingga bagaimana otak memprosesnya sebagai sinyal energi. Para ahli dari berbagai bidang menjelaskan alasan ilmiah di balik rasa manis yang selama ini kita nikmati.

Berikut, Popmama.com telah merangkum pembahasan mengenai kenapa gula rasanya manis, menut kata ahli. Yuk simak pembahasannya dibawah ini.

1. Cara lidah mengenali rasa manis

istockphoto/Chris Ryan

Saat gula masuk ke dalam mulut, molekulnya langsung berinteraksi dengan reseptor rasa di lidah. Menurut Prof. Charles Zuker, Ahli Neurobiologi dari Columbia University, reseptor rasa manis yang berperan adalah T1R2 dan T1R3.

Reseptor ini tersebar di taste buds dan dirancang khusus untuk mendeteksi zat yang mengandung rasa manis, termasuk gula alami dan pemanis lainnya. Aktivasi reseptor tersebut memicu sinyal listrik yang dikirim melalui saraf ke otak.

Proses ini berlangsung sangat cepat, sehingga rasa manis bisa langsung terasa bahkan sebelum makanan ditelan. Maka, tak heran jika gula dirasakan manis saat di lidah.

Mekanisme ini juga dijelaskan oleh National Institutes of Health (NIH), yang menyebut bahwa sistem pengecap bekerja sebagai sistem peringatan awal untuk membantu tubuh mengenali zat yang dibutuhkan.

2. Struktur gula membuatnya cepat terasa manis

istockphoto/EyeEm Mobile GmbH

Gula termasuk karbohidrat sederhana yang memiliki struktur kimia mudah larut dalam air. Menurut Dr. Gary Beauchamp dari Monell Chemical Senses Center, struktur sederhana ini memungkinkan molekul gula dengan cepat menyebar di mulut dan langsung mengenai reseptor rasa.

Inilah alasan mengapa gula terasa manis sejak gigitan atau tegukan pertama. Berbeda dengan karbohidrat kompleks seperti nasi atau roti, gula tidak memerlukan proses pemecahan yang panjang sebelum dikenali sebagai rasa manis.

Penjelasan ini sejalan dengan keterangan medis dari Mayo Clinic, yang menyebut bahwa gula sederhana seperti glukosa dan sukrosa lebih cepat diproses tubuh dibandingkan karbohidrat kompleks.

3. Hubungan rasa manis dan energi

istockphoto/seenad

Rasa manis memiliki makna biologis bagi tubuh. Menurut Dr. Dana Small, profesor psikiatri dan psikologi di Yale School of Medicine, otak manusia secara alami mengaitkan rasa manis dengan energi.

Saat lidah mendeteksi rasa manis, otak menafsirkan sinyal tersebut sebagai tanda masuknya glukosa, bahan bakar utama bagi sel tubuh. Karena itu, respon terhadap rasa manis bersifat naluriah dan sering disertai perasaan puas atau senang, terutama ketika tubuh membutuhkan energi.

Secara medis, Cleveland Clinic menjelaskan bahwa otak sangat bergantung pada glukosa untuk menjalankan fungsi kognitif seperti berpikir dan mengingat.

4. Mengapa makanan manis terasa menyenangkan?

istockphoto/SeventyFour

Selain berkaitan dengan energi, rasa manis juga memengaruhi sistem penghargaan di otak. Menurut Prof. David Ludwigdari Harvard T.H. Chan School of Public Health, konsumsi gula dapat memicu pelepasan dopamin, hormon yang berperan dalam rasa senang dan motivasi.

Inilah sebabnya makanan manis sering dianggap sebagai comfort food. Namun, efek menyenangkan ini juga memiliki sisi lain. Karena itu, meski rasa manis memberi kenikmatan, para ahli menyarankan agar konsumsinya tetap dikendalikan.

American Diabetes Association menjelaskan bahwa lonjakan gula darah yang berulang dapat memengaruhi keseimbangan hormon dan meningkatkan keinginan untuk terus mengonsumsi makanan manis.

5. Rasa manis tidak selalu berasal dari gula

istockphoto/Ika Rahma

Tak semua rasa manis berasal dari gula alami. Menurut Dr. Kristina Petersen dari Pennsylvania State University, pemanis buatan dan pemanis alami non-gula juga mampu memberikan sensasi manis karena mengaktifkan reseptor yang sama di lidah.

Artinya, tubuh merespon rasa manis dengan cara yang mirip, meski sumbernya berbeda. Penjelasan ini juga didukung oleh U.S. Food and Drug Administration (FDA), yang menyebut bahwa pemanis non-gula dirancang untuk meniru efek gula pada indera perasa.

Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa pemilihan pemanis tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi kesehatan masing-masing individu.

6. Persepsi manis bisa berubah seiring kebiasaan

istockphoto/iprachenko

Menariknya, rasa manis bersifat adaptif. Menurut Prof. Frank Hu dari Harvard T.H. Chan School of Public Health, kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi gula dapat membuat ambang rasa manis meningkat.

Akibatnya, seseorang membutuhkan lebih banyak gula untuk merasakan tingkat kemanisan yang sama. Sebaliknya, ketika asupan gula dikurangi secara bertahap, lidah dapat menjadi lebih sensitif terhadap rasa manis alami.

Pandangan ini sejalan dengan rekomendasi World Health Organization (WHO), yang menyebut bahwa pengurangan gula membantu tubuh beradaptasi dan menghargai rasa alami dari makanan segar.

Dari berbagai penjelasan para ahli, rasa manis pada gula merupakan hasil kerja sama antara reseptor di lidah, sistem saraf, dan respon otak terhadap energi.

Rasa manis bukan sekadar soal selera, tetapi bagian dari mekanisme biologis yang membantu tubuh mengenali sumber energi yang dibutuhkan. Nah sekarang kamu sudah tahu nih tentang kenapa gula rasanya manis.

Meski begitu, para ahli sepakat bahwa konsumsi gula tetap perlu dibatasi. Dengan memahami alasan ilmiah di balik rasa manis, orang tua dapat lebih bijak mengatur asupan gula keluarga, sehingga tetap bisa menikmati rasa manis tanpa mengorbankan kesehatan.

Editorial Team