Kenali Gejala, Penyebab, dan Cara Mencegah Hipotermia

Agar tidak panik, Mama perlu tahu cara menangani hipotermia

16 Juli 2020

Kenali Gejala, Penyebab, Cara Mencegah Hipotermia
Pexels/Gantas Vaiciulenas

Hipotermia merupakan kondisi saat temperatur tubuh menurun drastis di bawah suhu normal yang dibutuhkan oleh metabolisme dan fungsi tubuh, yaitu di bawah 35 derajat Celsius.

Kondisi ini harus mendapatkan penanganan segera, karena dapat menyebabkan gangguan pada sistem saraf dan fungsi organ lain dalam tubuh. Selain itu, kondisi ini juga dapat berujung pada kegagalan sistem pernapasan, sistem sirkulasi (jantung), dan kematian.

Berikut Popmama.com telah merangkum beberapa gejala dan penyebab dari hipotermia. Yuk, simak selengkapnya.

1. Faktor risiko hipotermia

1. Faktor risiko hipotermia
Pexels/Pixabay

Hipotermia memiliki beberapa faktor risiko yang dekat dengan kebiasaan sehari-hari. Salah satunya seperti terlalu lama berada di tempat yang dingin. Ruangan ber-AC bisa menjadi faktor risiko hipotermia pada si Kecil lho, Ma.

Beberapa faktor risiko hipotermia, antara lain:

  • Beraktivitas terlalu lama di tempat yang dingin, seperti mendaki gunung atau berenang.
  • Mengonsumsi minuman keras dan obat-obatan terlarang. Kedua kebiasaan tersebut bisa menyebabkan pembuluh darah melebar, sehingga tubuh akan melepaskan panas yang tinggi dari permukaan kulit.
  • Konsumsi obat-obatan tertentu, seperti antidepresan.
  • Pengaruh penyakit tertentu yang memengaruhi pengendali suhu tubuh, seperti anoreksia nervosa, stroke, dan hipotiroidisme.
  • Penyakit yang memengaruhi memori, misalnya penyakit Alzheimer, karena tidak sadar sedang kedinginan atau tidak paham apa yang harus dilakukan.
  • Usia bayi dan manula, akibat kemampuan mengendalikan temperatur tubuh yang belum sempurna pada bayi dan menurun pada manula.

Editors' Picks

2. Penyebab hipotermia

2. Penyebab hipotermia
Pexels/Gustavo Fring

Penyebab umum hipotermia adalah paparan suhu dingin atau air dingin dalam waktu yang lama tanpa perlindungan yang cukup. Beberapa penyebabnya, antara lain :

  • Berada terlalu lama di tempat dingin.
  • Jatuh ke kolam air dingin dalam waktu lama.
  • Mengenakan pakaian yang basah untuk waktu cukup lama.
  • Suhu pendingin ruangan yang terlalu rendah, terutama pada bayi dan lansia.
  • Tidak mengenakan pakaian yang tepat saat mendaki gunung.

3. Gejala hipotermia

3. Gejala hipotermia
Pexels/Public Domain Picture

Hipotermia bisa dideteksi dengan gejala-gejala yang muncul pada tubuh Mama ataupun si Kecil. Beberapa gejala dari hipotermia, antara lain:

  • Berbicara cadel, bergumam, dan gagap.
  • Bibir berwarna kebiruan.
  • Denyut jantung lemah dan tidak teratur.
  • Kulit bayi dapat berwarna merah terang, dingin, dan tampak sangat tidak bertenaga.
  • Mengantuk atau lemas.
  • Menggigil terus-menerus.
  • Merasa kedinginan.
  • Napas pelan dan pendek.
  • Penurunan kesadaran, seperti kebingungan.
  • Pupil mata yang melebar.
  • Tidak dapat menghangatkan diri.
  • Tubuh menjadi kaku dan sulit bergerak.

4. Tips menangani orang yang terkena hipotermia

4. Tips menangani orang terkena hipotermia
Pexels/Lisa Fotios

Untuk menangani seseorang yang terkena hipotermia, sebaiknya segera Mama bawa ke rumah sakit untuk segera mendapatkan bantuan medis. Jika harus menunggu, pindahkan orang tersebut ke tempat yang lebih hangat dengan hati-hati, karena gerakan dapat memicu detak jantung tidak teratur yang berbahaya.

Beberapa penanganan yang dapat Mama lakukan, antara lain:

1. Sebelum pertolongan medis tiba:

  • Segera lepas dan ganti baju yang basah dengan yang kering.
  • Gunakan beberapa lapis selimut atau jaket untuk menghangatkan tubuh.
  • Berikan minuman hangat yang tidak mengandung kafein.
  • Hindari paparan angin dan udara.
  • Pindahkan ke area yang dekat dengan sumber panas dan dapat berbagi panas tubuh.
  • Hindari penggunaan panas secara langsung, seperti air panas atau alas penghangat.

2. Setelah pertolongan medis tiba:

  • Menghangatkan saluran pernapasan pengidap dengan memberikan oksigen yang sudah dihangatkan melalui masker dan selang.
  • Memberikan infus berisi larutan salin yang sudah dihangatkan.
  • Mengalirkan larutan yang hangat untuk melewati dan menghangatkan beberapa organ tubuh, misalnya sekitar paru-paru atau rongga perut.
  • Mengeluarkan dan menghangatkan darah pengidap, lalu kembali mengalirkannya ke dalam tubuhnya, dengan menggunakan mesin pintas jantung dan paru (CPB) atau mesin hemodialisis.

5. Pencegahan hipotermia

5. Pencegahan hipotermia
Pexels/Anastasiya Lobanovskaya

Hipotermia juga dapat dicegah lho, Ma. Beberapa upaya pencegahan hipotermia, antara lain:

  • Berpakaian yang tepat saat musim dingin.
  • Ganti baju basah dengan baju kering sesegera mungkin.
  • Keluar dari air dingin secepatnya.
  • Konsumsi kalori dan cairan yang cukup.
  • Melakukan pengawasan lebih pada lansia dan anak kecil.

Itu dia beberapa informasi tentang hipotermia. Tetap waspada dan selalu jaga kesehatan ya, Ma. Semoga bermanfaat.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.