Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
5 Perbedaan GERD dan Maag, Kenali Gejalanya agar Tepat Diobati
Popmama.com/Muhammad Saddam Amtael Soerawijaya/AI
  • GERD terjadi karena asam lambung naik ke kerongkongan akibat otot sfingter melemah, sedangkan maag disebabkan peradangan pada lapisan lambung akibat infeksi atau iritasi.
  • Pemicu maag meliputi bakteri H. pylori, obat pereda nyeri, alkohol, dan stres; sementara GERD dipicu obesitas, kehamilan, hernia hiatus, serta kebiasaan makan dan posisi tubuh yang kurang tepat.
  • Pencegahan maag fokus pada menjaga kesehatan lambung dan kebersihan makanan, sedangkan pencegahan GERD menekankan pengaturan pola makan, berat badan ideal, serta posisi tidur yang benar.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Keluhan sakit perut atau rasa perih di area dada memang sering kali membuat kita merasa tidak nyaman untuk beraktivitas. 

Saat perut terasa melilit atau ulu hati terasa panas, banyak orang langsung menyimpulkan kondisi ini sebagai penyakit maag, padahal bisa jadi yang sedang dialami adalah Gastroesophageal Reflux Disease atau yang lebih akrab disebut GERD

Meskipun sama-sama berkaitan erat dengan produksi asam lambung, kedua masalah pencernaan ini merupakan kondisi medis yang jauh berbeda.

Agar tidak salah kaprah lagi, berikut Popmama.com sajikan 5 perbedaan GERD dan maag. Yuk, simak sampai habis!

1. Pengertian GERD dan maag

Popmama.com/Muhammad Saddam Amtael Soerawijaya/AI

Untuk memahami perbedaan utamanya, kita harus melihat apa yang sebenarnya terjadi di dalam tubuh. 

Mengutip dari Sarahlynnnutrition, maag, atau yang dalam dunia medis dikenal sebagai dispepsia, adalah kondisi di mana terjadi peradangan, iritasi, atau pengikisan pada lapisan pelindung lambung (mukosa). 

Peradangan ini terjadi tepat di dalam organ lambung itu sendiri. Di sisi lain, GERD adalah kondisi kronis di mana asam dari lambung naik kembali ke atas menuju kerongkongan (esofagus). 

Hal ini terjadi karena katup atau otot sfingter esofagus bagian bawah yang membatasi antara lambung dan kerongkongan tidak menutup dengan rapat setelah makanan masuk.

2. Faktor pemicu masing-masing

Popmama.com/Muhammad Saddam Amtael Soerawijaya/AI

Perbedaan selanjutnya terletak pada akar masalah yang memicunya. 

Penyakit maag sering kali disebabkan oleh infeksi bakteri Helicobacter pylori  yang bersarang di dinding lambung. 

Selain infeksi, kebiasaan mengonsumsi obat pereda nyeri (seperti NSAID atau ibuprofen) dalam jangka waktu lama, konsumsi alkohol berlebihan, hingga tingkat stres yang tinggi juga dapat mengiritasi lapisan lambung dan memicu maag.

Berbeda dengan maag, penyebab utama GERD adalah melemahnya otot LES. Faktor pemicu pelemahan otot ini sangat beragam, mulai dari kondisi obesitas, kehamilan yang memberikan tekanan ekstra pada perut, hingga hernia hiatus. 

Gaya hidup juga sangat berpengaruh; kebiasaan langsung rebahan setelah makan dalam porsi besar, atau mengonsumsi makanan pemicu seperti cokelat, peppermint,  kafein, dan makanan pedas berlemak dapat membuat katup lambung rileks di waktu yang tidak tepat.

3. Dampak dan gejala yang dialami 

Popmama.com/Muhammad Saddam Amtael Soerawijaya/AI

Maag adalah peradangan di lambung. Dampaknya lebih terasa berpusat di area perut. 

Gejala khasnya meliputi rasa nyeri yang tumpul atau perih di perut bagian atas (ulu hati), mual, muntah, perut kembung, dan rasa cepat kenyang padahal baru makan sedikit. 

Terkadang, maag yang parah bisa menyebabkan tinja berwarna gelap akibat perdarahan di lambung.

Sebaliknya, dampak utama GERD lebih terasa di area dada dan tenggorokan. Gejala paling ikonik dari GERD adalah heartburn, yakni sensasi dada terasa panas atau terbakar yang biasanya memburuk setelah makan atau saat berbaring. 

Selain itu, Mama mungkin akan merasakan regurgitasi (asam atau makanan terasa naik ke belakang tenggorokan), mulut terasa pahit atau asam, sering bersendawa, batuk kering yang tak kunjung sembuh, hingga suara serak di pagi hari.

4. Pencegahan agar tidak terkena GERD atau maag 

Popmama.com/Muhammad Saddam Amtael Soerawijaya/AI

Karena akar masalahnya tidak sama, maka cara kita mencegahnya pun memerlukan pendekatan yang berbeda. Untuk mencegah maag, fokus utamanya adalah melindungi dinding lambung dari iritasi lebih lanjut. 

Mama bisa memulainya dengan menjaga kebersihan tangan dan makanan untuk mencegah infeksi bakteri H. pylori

Selain itu, sangat disarankan untuk menghindari penggunaan obat pereda nyeri secara sembarangan, mengurangi minuman beralkohol, dan menemukan metode relaksasi yang baik untuk mengelola stres harian.

Untuk GERD, langkah pencegahannya lebih berfokus pada mengurangi tekanan pada katup lambung. Menjaga berat badan ideal adalah langkah awal yang penting.

Selain itu, biasakan untuk makan dalam porsi kecil namun lebih sering, hindari menggunakan pakaian yang terlalu ketat di area perut, dan yang terpenting: berikan jeda setidaknya 2 hingga 3 jam antara waktu makan malam dan waktu tidur. 

Meninggikan posisi kepala dan dada saat tidur juga terbukti efektif mencegah naiknya asam lambung di malam hari.

5. Cara Mengobati GERD dan maag

Popmama.com/Muhammad Saddam Amtael Soerawijaya/AI

Pengobatan untuk maag dan GERD sering kali memang memiliki irisan, seperti pemberian obat antasida untuk menetralkan asam lambung, atau obat golongan penghambat pompa proton (PPI) dan H2 blocker untuk menurunkan produksi asam. 

Pada kasus maag yang disebabkan oleh bakteri H. pylori, dokter biasanya akan meresepkan kombinasi antibiotik untuk membasmi bakteri tersebut hingga tuntas agar peradangan pada lambung bisa sembuh sempurna.

Sedangkan untuk GERD, pengobatan jangka panjang difokuskan pada pemulihan fungsi kerongkongan dan pencegahan komplikasi. 

Selain obat penekan asam lambung, dokter mungkin akan memberikan obat prokinetik untuk membantu mempercepat pengosongan lambung, sehingga mengurangi risiko makanan naik kembali ke atas. 

Pada kasus GERD yang sangat parah dan tidak merespons pengobatan atau perubahan gaya hidup, prosedur operasi untuk memperkuat otot LES bawah mungkin akan disarankan sebagai solusi medis terakhir.

Nah, itu dia penjelasan mengenai 5 perbedaan GERD dan maag. Semoga bermanfaat!

FAQ Seputar Perbedaan GERD dan Maag

Apakah GERD bisa menyebabkan anemia?

Pada beberapa kasus, Gastroesophageal Reflux Disease dapat berkontribusi terhadap anemia, terutama jika terjadi iritasi atau luka pada saluran pencernaan yang menyebabkan perdarahan kronis. Kondisi ini bisa memicu anemia, meskipun tidak semua penderita GERD mengalaminya.

Apakah GERD boleh makan lidah buaya?

Penderita Gastroesophageal Reflux Disease boleh mengonsumsi lidah buaya dalam jumlah wajar, karena dikenal memiliki efek menenangkan pada lambung. Namun, sebaiknya dikonsumsi tanpa tambahan gula berlebihan dan tetap perhatikan reaksi tubuh, karena setiap orang bisa berbeda.

Apa ciri-ciri lambung yang sudah luka?

Ciri-ciri lambung yang mengalami luka atau tukak lambung antara lain nyeri perut yang terasa perih atau terbakar, mual, muntah, perut kembung, hingga muntah darah atau feses berwarna hitam pada kondisi yang lebih parah. Jika gejala muncul, sebaiknya segera periksa ke dokter untuk penanganan lebih lanjut.

Editorial Team